
Tanpa menyadari sepasang mata yang sedari tadi menggendong Aluna sudah berkali-kali menenguk salivanya. Membuat jakunnya naik turun.
Pertanda bahwa kini otaknya sudah mulai tidak dapat berkompromi untuk segera melepaskan hasrat terpendamnyaa selama kurang lebih 3 bulan ini.
"Mom..."
"Hmm..."
"Si to'ing kapan masuk sekolah sih... lama-lama ga masuk dia bisa pindah kelas looo." Darel mulai mengajukan propsal kerja samanya pada Anin.
"Emang sudah punya calon kelas yang baru?" tanya Anin yang baru menyadari wajah mupeng suaminya saat dengan santainya ia memerah ASInya dari tadi.
"Noh... kamar mandi nooh kelas to'ing yang baru. Kelamaan to'ing bisa jadi vocalis musik cadas lhoo, kalo selalu main solo mom." Ujar Darel yang masih menepuk halus punggung Baby Aluna yang hampir tertidur di dadanya, dan sempat terperangah saat nada suara daddynya meninggi tadi.
"Yang suruh main solo siap Bee...?" tanya Anin heran, sebab memang selama ini suaminya hampir tidak pernah menyentuh dan mendekatinya. Selalu ada yang ia lakukan untuk menghindar agar Anin selalu tidur lebih dahulu darinya. Kadang waktu malamnya ua habis kan di ruang kerjanya atau ruang olah raga di rumah mereka, demi menjaga kesempurnaan bentuk tubuhnya.
"Kan... katanya wanita setelah melahirkan ga boleh di garap sampe 3 bulan mom...?" Darel meminta kepastian untuk mengakhiri masa puasanya.
"Kata siapa...?" tanya Anin sambil tersenyum
"Kata mama." Jawabnya singkat.
"Uh kasian yang masih puasa sampai 3 bulan. Gini ya suami ku tercinta, wanita setelah melahirkan itu memasuki masa yang namanya nifas, pada masa itu wanita tuh kaya sedang menstruasi Bee... masih banyak megeluarkan darah kotor sisa melahirkan, jadi belum boleh di jenguk. Tapi itu berlangsung 3 minggu setelah melahirkan. Ya tergantung sih, ada yang lebih cepat dari itu atau bahkan lebih lambat. Selanjutnya akan mengalami haid pertanda sudah normal. Sehingga waktu itu jika di total paling 40 hari atau 5 minggu. Tapi semakin lama istirahat maka organ reproduksi seorang ibu akan lebih cepat pulih, juga meminimalkan resiko terjadinya infeksi pada rahim. Dengan lebih lama masa istirahat itu bisa memberi jeda untuk rahim bahkan siap untuk di buahi kembali." Terang Anin yang kini sudah mengambil alih Aluna untuk meletakannya di tempat tidur mereka.
"Kemarin Di Paris istriku ambil jurusan kedokteran atau kebidanan juga ya... kok pinter banget." Darel mulai mendekati Anin.
"Kan... aku konsul sama dokter kandungan di sana. Jadi sekalian aja semuanya ku tanya biar jelas dengan segala resikonya."
"Wah rugi banyak dong aku selama ini mom. 3 bulan lhoo ini masih puasa." Ucapnya kaget.
"Salah siapa ga peka... orang tiap hari juga aku udah sholat." Jawab Anin.
__ADS_1
"Iya ya... kok aku ga sadar Mom. Ini ulah mama niih, mama yang bilang kalo aku ga boleh sentuh istriku sampe 3 bulan. Katanya biar mesinnya awet." Ujar Darel yang kini sudah menyusup tubuhnya dempet dengan Anin.
"Ih...Bee. Tidurnya di sebelah kaka. Disini jadi sesak niih." Anin menepuk pantat suaminya yang sepertinya akan melancarkan aksi buka puasanya malam ini.
"Ga mau... aku maunya yang sesak mom. Kangen mom...sumpah. Boleh ya...???" Darel mulai mengendus-ngedus di punggung belakang dan ceruk leher Anin.
"Iya... tapi di sini ada Aluna, Bee. Kalo dia kebangun pas lagi on gimana?" Anin sengaja mengulur waktu.
"Kaka kita pindah kekamarnya aja ya mom malam ini." Pinta Darel yang mulai tidak sabar mengakhiri masa puasanya.
"Ya ga bisa dong Bee... kita belum bilang sama si mbaknya. Kalo kakak tidur di kamarnya. Mulai besok malam saja ya dia pindah."
"Besok kan kita udah ke Paris Mom. Sama kak Aluna, si mbaknya, sama mama papa sama Ayah juga. Mana bisa kwik-kwik di sana nantinya." Tolak Darel yang sudah mulai mengerayangi tubuh wanita yang sangat ia rindukan untuk di cumbunya.
"Bisa... pasti bisa di sana nanti. Kita tinggal lari ke hotel bentar untuk buka puasamu, suamiku kan kaya. Pasti bisa lah buka 1 kamar hotel buat buka puasa. Sekalian kita bulan madu lagi , Oke Bee...?" tawar Anin yang masih suka mengulur waktu, membuat suaminya makin penasaran olehnya.
"To'ing maunya sekarang mom." Bisiknya sambil menarik tangan Anin nemplok di benda yang berangsur mengeras dan tegak tapi bukan keadilan di balik celana boxernya.
"Mom...yakin ga mau nambah pahala." Ujar Darel yang sudah langsung melepas kain segitiga penutup danau istrinya di balik dasternya.
"Bee... ada Aluna." Anin masih berasalasn padahal juga menyimpan rasa yang mulai memuncak rindu akan sentuhan suaminya.
Darel berdiri menggeser Aluna agar berjarak dari mereka. Dan membentengi dengan guling dekat baby Aluna. Entah itu ngefek atau tidak.
"Kaka... jangan bangun dulu ya. Daddy mau buka puasa." Bisiknya pelan sambil mencium pipi bayi yang tidak tau apa-apa dengan perkataan daddynya.
"Bee... aku ga pake lingrie. Cuma dasteran ini." Anin masih so jual mahal pada suaminya. Padahal juga udah pengen.š¤
"Banyak bacot deh perasaan dari tadi. Ngapain ...??? mau daster kek, lingerie kek!!! polosan lebih baik mom."
Mbleeph... Anin sudah tidak bisa bicara lagi. Sebab mulutnya sudah di bekap dengan lembut dengan mulut suaminya.
__ADS_1
Anin hanya sengaja beralasan, kata tunda dan nantinya tidak sesuai dengan gerakan liar lidahnya yang membelit, menari dengan ritme yang harmonis di dalam rongga mulut mereka, sambil melingkarkan kedua tangan pada leher suaminya dengan posesif. Lama keduanya saling gigit dan melu*** bibir satu sama lain, hingga begitu terasa kental aroma rindu yang pekat di antara keduanya bahwa mereka telah lama saling mendamba dan sama-sama ingin mengakhiri masa puasa pasca melahirkan baby Aluna.
Ciuman lembut itu sudah berubah menjadi sedikit brutal tatkala lidah Darel sudah mengepung daerah leher bahkan dada yang terlihat penuh berisi itu, membuatnya semakin terlihat menggairahkan dan semakin menantang. Namun Darel tidak berani meninggalkan jejak seperti biasanya di sana, mengingat Anin masih sering memeras ASInya tanpa penutup dengan bebas di rumah mereka.
Entah bagaimana prosesnya sehingga tubuh keduanya kini tampak sama-sama polos tanpa penghalang apapun di sana, dalam ruangan kamar bersinar temaram dengan wewangian sweet babby ciri khas bayi, tidak membuat keduanya terganggu untuk melakukan aktivitas yang sudah sangat membuncah sampai ke ubun-ubun dan penuh hasrat itu. Ada tatapan hangat dan saling mendamba dari sorot mata keduanya. Keduanya... bukan hanya sepihak.
Lenguhan erotis keluar dari mulut Anin. Sebab malam itu, lagi ia merasakan kenikmatan yang suaminya persembahkan untuknya.
Darel segera melu**t bibir merekah itu lagi, agar tidak mengeluarkan suara. Sebab darel masih sadar jika di atas tempat tidur itu ada Aluna yang bisa kapan saja terbangun.
"Mom...udah basah. To'ing meluncur yaa...!!!"
"Aaaahh... faster dad...!!!" desah Anin di telinga Darel yang sudah tidak tahan seolah di permainkan suaminya.
"Woow... istriku sekarang suka main cepat yaa." Darel masih sempat menggoda Anin.
"Ini to'ing gemukan ya dad...?" Ujar Anin yang masih merem melek menikmati ulah suaminya.
Bersambung...
...Puasanya tunai ya dad...???...
...VOTE...
...LIKE...
...GIFT...
...KOMEN...
...Yang banyak ya... š...
__ADS_1