
Anin selalu menyambut Bimo dengan ramah dan terkesan senang. Membuat Bimo yakin jika Anin benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya.
Bimo yang gagal mendapatkan ijin dari ayah Anin untuk membawanya serta, memang tampak kecewa, tetapi ia tetap akan bertolak ke Solo, sebab orangtuanya pun telah meminta agar Bimo segera menemui mereka. Sehingga kedatangan Bimo sekedar pamit pada Anin. Dan berjanji akan memperkenalkan Anin pada kedua orang tuanya secara virtual nantinya
Di hari yang sama, Darel pun sudah mendarat di Surabaya sesuai janjinya yang akan bertemu dengan Anin. Sebab ada suatu hal yang ingin disampaikannya namun selalu tertunda, karena ia ingin menyampaikan di waktu dan tempat yang tepat. Apa lagi kalau bukan tentang katakan cinta.
Saat mobil Darel memasuki kawasan komplek perumahan Anin. Tepatnya di depan rumah Anin, tampak sebuah mobil dinas polisi terlihat baru keluar, dan Anin masih tampak berdiri serta melambai pada orang yang berada di dalam mobil tersebut. Seketika, ada semacam tarikan listrik bertegangan tinggi yang menyengat tiba-tiba di dalam hati seorang Darel.
Anin yang baru saja hendak masuk rumah, tentu mengurungkan langkahnya tatkala ia melihat mobil sport putih lagi, yang berhenti di halaman rumahnya.
Sontak mata Anin membeliak melihat sosok Darel yang memang telah lama ia rindukan. Tetapi..."Ups, mengapa hati ini lebih girang ketemu bang Emil ya...timbang mas Bimo. Kayaknya terjadi kesalahan sistem di hatiku." Batin Anin di dalam hati sambil tetap mengulas senyum di bibir indahnya.
"Assalamualikum, maniiiis." sapa Darel dengan senyum yang sangat tampan.
"Walaikumsallam, bang...!" jawab Anin sekenanya.
"Aku ga di suruh masuk nih..." tanya Darel.
"Biasa juga sukanya di sini, ayo kalo mau masuk."
"Ga usah becanda kok. Enakkan juga di sini. Bapak mana...?" tanya Darel yang langsung perhatian pada ayah Anin.
"Ada lagi tidur. Perlu Anin bangunkan ...?" tanya Anin.
"Ga usah... biar bapak tidur dulu. Nanti kamu kasih ini ke bapak ya. Aku ada beli suplemen yang cocok beliau konsumsi, kemaren aku dapat pas di Singapura." Terangnya dan menyodorkan paper bag pada Anin.
"Oleh-olehnya cuma untuk ayah... buatku mana?" tanya Anin seolah kepo.
"Kalo untukmu, nanti kamu pilih sendiri saja di sana. Kata kak Mel kalian mau tour kan ...?" tebak Darel.
"Bukan tour, tapi liat festival bareng." Jawab Anin memperbaiki bahasa Darel.
"Iya..apalah itu. Nin, yang tadi barusan pulang dari sini siapa...? Mobil polisi nampaknya..." Darel mulai kepo.
"Oh...itu mas Bimo. Pamit mau ke Solo ikut penerbangan sore ini." Jawab Anin dengan santai.
"Mas Bimo siapa...kamu ga pernah cerita punya teman namanya Bimo dan seorang polisi." Ujar Darel makin kepo.
__ADS_1
"Iya, aku belum cerita ya. Dia bukan teman, tetapi calon suamiku." Sengaja Anin menggunakan kata itu, untuk sekedar membalaskan dendamnya pada Darel yang beberapa waktu lalu juga menjalin hubungan pada Felysia.
Gludak gluduk gledaar...
Seketika hati Darel bak di sambar petir di siang bolong. Bergemuruh tak karuan semacam ada gempa yang memporak porandakan segala yang ada dalam hatinya. Ia menarik napas pelan agar suasana hati nya tenang. Dan setelah dapat menguasai hatinya seolah tidak ada gempa terjadi di hatinya, lalu berkata : "Oh itu tangan yang menggenggam mu kemarin." Ucap Darel dengan sangat santai dan tampak tidak terkejut.
Anin tersenyum dan mengangguk.
"Ketemu di mana...?" Darel menelisik tetang Bimo.
"Itu... komandannya kak Jovan di desa."
Ucap Anin tak kalah santai, "setidaknya kita sudah memiliki skor 1 sama," batin Anin.
"Komandan... tua dong. Hobby yang tua-tua juga ya Nin." Tawa Darel terdengar garing.
"Ga juga, selisih kami hanya 8 tahun kok. Lagian kalo liat orangnya langsung ga keliatan tua, tampan malah." Anin makin suka memuji Bimo di hadapan Darel yang sesungguhnya sudah mulai blingsatan.
"Trus... tadi ngapain pamit ke Solo?" Darel masih dalam mode kepo yang hakiki.
"Oh, itu tadinya mau ngajak aku juga. Mau pertemukan aku sama kedua orang tuanya. Sekalian mau ijin lamaran." Anin makin senang mendramatisir hubungannya pada Darel.
"Kata Mas Bimo, justru sebelum aku ke Paris. Aku udah harus dia halalkan. Supaya nanti di sana aku ga di gondol orang." Ucap Anin dengan senyum puas yang mampu merubah rona wajah Darel yang ketika datang tadi dengan penuh keceriaan kini berganti agak suram.
"Bentar ya Bang, Anin tinggal bikin minum dulu. Mau Kopi atau teh...?" tanya Anin.
"Racun...!!! Eh, madu Nin. Teh pake madu aja, ada...?" jawab Darel yang tampak linglung.
"Ada, bentar ya..." pamit Anin yang begitu melangkah ke dalam sambil tertawa kesenangan.
"Ya Tuhan... yang bener aja. Ini aku datang udah mau nyatakan cinta. Tapi dengan santainya dia malah bilang udah mau di lamar, menikah, calon mertua, calon suami... adoooh. Ini karma ya...? kelamaan gue yakinkan hati gegara mikirin Felysia... apa iya aku harus patah hati lagi ...? Dulu sama Fely baru jatuh cinta udah di tolak karena miskin. Sekarang sama Anin, belum nembak juga udah tersingkir, padahal aku juga udah mapan. Dunia... dunia... apa kaya juga ga menjamin dapatkan cinta yaa...?" Darel berseloroh sendiri dalam hatinya.
Nampak Anin sudah datang beserta nampan berisi teh madu pesanan Darel dan kudapan yang sepertinya buatan sendiri.
"Wah, ada kue. Bikin sendiri Nin...?" tanya Darel antusias dan nampak ingin segera menerkamnya.
"Oh, ga. Itu buatan mbak Winda tadi dititipin lewat mas Bimo." Ujar Anin sambil menyodorkan kue itu pada Darel.
__ADS_1
Yang mendengar itu di bawa oleh Bimo, seketika Darel kehilangan nafsu untuk menikmatinya. "Aku ga suka kue, Nin." Jawabnya sambil menelan salivanya sendiri yang sempat berhasrat untuk memamah kudapan itu.
Anin hany tertawa kecil melihat perubahan sifat Darel.
"Oh, iya. Apa yang ingin bang Emil sampaikan tadi. Gegara mas Bimo, jadi lupa tujuan abang ke sini?" tanya Anin mengalihkan topik pembicaraan.
"Tadinya gua mau ngajak loe kencan maniiiis". Umpat Darel dalam hati yang masih agak dongkol setelah tau Anin sudah memiliki kekasih.
"Oh... itu mengenai kamu yang ingin ke Paris. Kebetulan aku punya teman di sana. Jadi Aku mau mengenalkan mu dengan nya. Mungkin di sana nanti kamu butuh bantuan. Dia tinggal menetap bersama suaminya, jadi selama registrasi mungkin kamu perlu tempat tinggal sementara, sebelum mendapatkan tempat tinggal mu saat belajar nanti." Terang Darel yang memang sudah menghubungi Alika temannya sewaktu sama-sama kuliah di LN.
"Bang Emil tuh, memang the best ya. Aku baru aja mau curhat gimana-gimana nanti aku pas di sana. Ternyata punya kenalan CEO muda itu sangat bermanfaat." Ucap Anin seolah memang menganggap Darel hanya sebatas kenalan dan teman biasanya.
"Ingat, jangan lupa CEO kenalan mu itu tidak hanya muda tapi tampan dan baik hati juga." Jawab Darel yang suasana hatinya sudah kembali normal.
"Iya... ga perlu di sebut. Orangnya sadar sendiri kok..."
"Mana ponselmu, siniin biar di save nomor Alika." Ujar Darel. Seketika Anin menyodorkan ponselnya degan begitu polosnya, yang tidak menyadari jika wallpaper pada ponsel itu adalah pic saatnya berdua dengan Bimo. Tentu saja lagi lagi terjadi gempa susulan di hati Darel. Yang membenarkan ucapan Anin, ternyata Bimo kekasihnya itu masuk kategori cogan. Wuushh...seketika hawa panas lagi menyerang hati Darel.
Bersambung
...Wadidau......
...ada yang cemburu tingkat Provinsi niih kayaknya....
...Cup...Cup......
...Bang Emil sama author aja yes...!!!...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...