DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 134 : BARU NGIDAM


__ADS_3

Kabar akan di langsungkannya acara mitoni tersebut, tentu saja di sambut baik oleh ayah Anin. Mengingat Anin sudah hamil besar dan rawan kemana-mana maka Darel sendiri yang menjemput ayah mertuanya ke Surabaya.


Dan kali ini hanya ayah yang dapat hadir, sedangkan Jovan dan istrinya tentu tidak dapat dengan udah meminta ijin untuk meninggalkan pekerjaaan mereka sesuka hati.


Anin menghambur pelukannya pada ayah yang sangat ia rindukan itu. Sama dengan sang ayah yang juga terlihat bangga dan terharu melihat kini anak kesanyangannya tampak semakin cantik dan terlihat dewasa dengan perut buncitnya.


"Bagaimana keadaanmu Nin... sehat?" tanya ayah sambil mengusap airmata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk mata tuanya.


"Alhamduliah... sehat.


Ayah... ga usah kembali ke Surabaya ya... tinggal di sini saja sampai Anin melahirkan dan cucu ayah besar. Anin suka sepi jika di tinggal Bang Emil bekerja." Pinta Anin manja yang di dengar juga oleh Darel.


"Iya ... ayah. Tinggal di sini saja. Ada kamar yang Emil siapkan khusus untuk ayah. Emil tau... Anin pasti akan selalu rindu pada ayah." Ujar Darel yang tanpa malu mencuri ciuman pada kening istrinya, juga mengusap lembut perut buncit milik Anin.


"Ya... asal tidak merepotkan kalian saja. Ayah tidak masalah. Mau tinggaal bersama Jovan, mau tinggal sendiri di Surabaya, atau di sini... ayah selalu gembira." Ucapnya yang memang telah terlihat semakin sehat.


Sehari sebelum acara Mitoni.


Semuanya tampak sudah siap semua. Lagi rumah itu di dekor ala-ala perhelatan akbar. Di bagian belakang rumah itu juga terdapat tumpukan hadiah dan mainan yang lebih banyak dari sebelumnya, sebab lagi-lagi Darel mengundang anak-anak Panti asuhan untuk bersama-sama merayakan kebahagiaan mereka.


Tetapi lagi... Anin tampak tidak begitu bersemangat dan raut wajah istrinya itu tertangkap oleh Darel.


"Mom... kenapa? Ada yang kurang atau mom tidak suka dari konsep acara ini?" tanyanya perhatian sambil menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya.


Anin hanya menggeleng.


Tetapi Darel tau.. gelengan itu tidak dari hatinya.


"Bilang saja... mom mau apa?" ujarnya lagi dengan suara lebih lembut agar Anin mau jujur.


Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, seolah mengiba kemudian berkata dengan pelan.


"Aku mau bakso Bee...?"


"Masyaallah...istriku. Mau bakso aja pake nangis. Ya udah... yuk berangkat. Mau bakso apa di mana?" Ujarnya yang memegang pinggang Anin agar mereka berdiri mencari makanan yang Anin inginkan.


"Ga usah deh Bee. Di tahan aja." Ujar Anin mengusap lembut perutnya.

__ADS_1


"Ih... mom. Ini tuh makanan pertama yang mom minta selama hamil lho. Kayaknnya istriku baru ngidam saat usia kehamilan udah 7 bulan. Ha...ha...ha." Darel sangat antusias.


"Ga usah deh Bee... ga jadi aja." Ujar Anin yang tampak sudah berdiri menjauh dari suaminya.


" Eh... ga boleh mom. Kata orang ntar anak yang lahir ileran klo kidamannya ga tersalurkan. Yuk... buruan. Kita jalan yuk... mau berapa mangkuk... uang daddy mu banyak kakak." ujar Darel dengan penuh canda mengelus perut Anin.


"Bee...aku maunya bakso yang deket kampus di Surabaya. Tempat kita makan sebelum aku berangkat khursus dulu, sebelum nikah." Ujar Anin pelan dengan kepala menunduk seolah bersalah.


"Masyaallah nak...nak. Kenapa ga sekalian mau red velvet buatan restoran di puncak Eifel aja sayang... biar lebih gampang carinya." Canda Darel yang kini duduk tertunduk memandang perut Anin.


Anin cemberut dan merasa bersalah, sehingga jiwa cengengnya justru keluar mendengar kata-kata suaminya.


"Makanya ku bilang tadi ga jadi aja Bee...!!!" Ujarnya dengan nada suara yang meninggi. Biasalah...bumil suka emosian klo di ledek dikit aja. Jiwa senggol bacoknya meningkat.


"Bentar..bentar. Ga harus makannya di sana kan mom. Bentar... kita telpon om Gerald dulu deh. Supaya besok sekalian dia hadir di acara kita. Di bungkus boleh kan mom." Tawar Darel pada Anin.


Dengan mata berbinar Anin menyambut baik tawaran suaminya.


Darel langsung melakukan panggilan VC pada Gerald di siang itu.


"Ada apa Darling..., eh Aniiiin....!!!" seru Gerald bahagia saat melihat wajah Anin terpampang pada benda pipih itu.


"Iya... ku udah beli tiket sore ini langsung terbang ke Bandung. Aku nginap di rumah baru kalian ya... boleh?" tanya Gerald yang memang sudah akrab dengan Anin.


"Ya boleh lah...boleh banget. Ya kan Bee?" tanya Anin pada suaminya yang saat itu ikut berada di belakang tubuh Anin.


"Tapi aku bawa calon istriku... kami bobo sekamar ya...!!" Canda Gerald yang tau pasti akan di cerca Anin dan Darel.


"Eh...!!! Ga boleh. Banyak kamar kosong lain, yang bisa di tempati oleh calon istrimu. Itu baru calon Bang Ge... belum muhrim.!!!"


Membuat ketiganya tertawa terkekeh.


"Iyaaa... becanda Bumil. Ada apa nelpon, ntar malam juga ketemu?" tanya Gerald.


"Bang... belikan Anin bakso di dekat kampus XX ya. Pliiis." Pinta Anin mulai melancarkan aksi manjanya pada Gerald. Membuat Darel gemes melihat tingkah istrinya yang begitu manis dan manja pada sahabatnya.


"Deket kampus XX... banyak Nin. Tapi oke lah, nanti ku cari demi ponakan calon mantu ku juga ntar... ha...ha...ha." Canda Gerald.

__ADS_1


"Iih Bang Ge... Bang... nanti pas beli baksonya harus VC ya. Aku juga mau liat wajah penjualnya."


"Yaa ellaaah... kidaman loe kumplit pake bingit ya Nin." Ujar Gerald yang tidak menyangka, jika ia menjadi sasaran kidaman Anin.


Anin hanya tersenyum puas jika akhirnya, ia dapat mengungkapkan keinginannya.


"Oke...1 jam lagi aku ke sana. Ntar aku VC. Aku mau siap siap dulu, oke." Ujar Gerald yang kemudian memutus sambungan telepon itu.


"Gimana mom... udah seneng?" tanya Darel menarik istrinya mendekat dengan tubuhnya.


"Dikiit." Jawab Anin.


"Lho...ko cuma dikit?" tanya Darel heran.


"Kan baru mau dicari, baksonya kan blom di makan Bee." Jawab Anin manja sambil mengecup pipi suaminya.


"Iya...ya benar juga. Yuks kita makan siang dulu. Trus mom tidur, agar Gerald serasa cepat tiba di sini. Atau... bisa juga sementara Gerald datang, kita kwik-kwik dulu. Agar waktu lebih terasa cepat berlalu." Tawar Darel yang tidak pernah jauh dari urusan ranjang.


"Subhanallah suamiku... makin hari, makin pintar merangkai kata ajakan untuk beribadah. Ini gegara dokter kemaren nih... yang bilang boleh sering di jenguk jalan lahirnya. Jadi senjata si to'ing deh, yang selalu mau menerobos masuk ke daerah itu."


"Ya...ibadah sebaiknya jangan sampai bolong mom. Pahalanya dapat, nikmatnya juga dapat.


Hayooo... nikmat mana yang ingin kau dustakan?" Darel selalu punya jawaban untuk membela to'ingnya.


Bersambung...


...Ok readers...


...Kesininya makin ngegemesin deh...


...dua pasangan ini....


...Aroma-aroma end makin deket...


...Pliiis... kasih aku vote, komen n like...


...Supaya DI BALIK LAYAR tetap mengudara...

__ADS_1


...Bahkan saat sudah TAMAT nantinya....


...Terima kasih❤️❤️❤️**...


__ADS_2