
Seketika suasana menegang, saat ada seorang tamu yang tampak tergopoh dan terburu-buru memasuki area acara mereka tersebut.
Dengan ritme langkah yang terkesan cepat namun tetap menjaga keanggunannya, Santy tampak memasuki area taman di belakang rumah Darel untuk ikut serta menghadiri undangan yang Anin sampaikan padanya.
Rupanya selama ini Anin dan Santy tampak masih menjalin hubungan via WA. mengingat Santy kini berada di Indonesia, Anin bermaksud mengundangnya, karena bagaimanapun Santy adalah orang berjasa baginya saat berada di Paris terutama saat Anin menghadapi masa-masa sulitnya.
"Kak Santy..." Teriak Anin sambil berdiri dan melangkah mendekati Santy, kemudian keduanya saling berpelukan melepas rindu.
Darel, Gerald dan juga Nindy saling pandang satu sama lain, demi melihat pemandangan yang langka bagi mereka.
Bagaimana tidak... seorang Santy si wanita licik bahkan penggoda rumah tangga Darel, kini justru terlihat akrab dan dekat dengan seorang Anin.
"Kak... terima kasih sudah bisa datang memenuhi undanganku. Dan maaf, karena terlalu sibuk aku belum sempat mengenalkan suamiku pada kak Santy. Ayo...sini ku kenalkan pada semuanya." Celoteh Anin yang sangat terdengar bersemangat, sambil menarik tangan Santy ke arah Darel dan yang lainnya berdiri.
"Bee... kenalkan ini Kak Santy. Yang ingin kukenalkan padamu. Kak Santy sangat banyak membantuku saat menyelesaikan studi ku di Paris, sebagian nilai dan tugas akhirku terdongrak karena bantuannya. Kak Santy wanita yang luar biasa." Anin tak henti-hentinya memuji Santy di hadapan Darel.
"Kak Santy... ini suamiku Darel Emilio Aswindra, ini kak Nindy sekretarisnya dan itu Bang Gerald seorang CEO di perusahaannya yang di Surabaya." Anin masih sangat bersemangat mengenalkan mereka pada Santy.
Darel menyesap minuman di gelasnya dengan pikiran yang tidak karuan. Kemudian berkata :" Kami sudah mengenal Santy sebagai calon rekan bisnis mom. Dan aku tidak menyangka jika ternyata, dia adalah orang yang kau maksud selama ini. Cup." Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Anin oleh Darel di hadapan mereka semua yang ada di situ. Membuat wajah Anin sedikit memerah menahan rasa malu atas perlakuan manis suaminya.
"Maaf semuanya, aku tiba-tiba merasa capek dan butuh istirahat. Silahkan lanjutkan dan nikmati makanannya. Mom, temani suamimu istirahat...!!!" Perintah itu terdengar dingin dan posesif.
Membuat Anin tidak berani melawan dan tidak pernah melihat sifat itu di tampakkan oleh suaminya.
"Kak Santy... maaf aku tidak bisa ngobrol lama denganmu... kita lanjut di chat ya kak. Maaf...maaf sekali." Pinta Anin seolah mengiba saat ia merasa harus mengikuti Darel yang telah lebih dahulu meninggalkan area itu.
"Kak Nindy, Bang Gerald... temani Kak Santy dulu ya sampai ia selesai makan." Pinta Anin.
"MOM...!!!" Suara Darel terdengar lebih keras dan kasar saat memanggil Anin yang masih terlihat berdiri di dekat mereka. Anin patuh dan segera mengikuti Darel yang telah melangkah menuju kamar mereka.
"Bee... kok kamu ga sopan sekali sih sama tamu ku. Aku ga suka...!!!" Sarkas Anin yang sepanjang langkahnya mengumpat tidak senang atas perlakuan suaminya pada Santy idolanya tersebut.
"Aku tidak suka dengan wanita itu. Dan aku berharap kamu berhenti bergul dengannya. Dia itu wanita licik."
__ADS_1
"Dia itu baik Bee... jika tidak ada dia yang membantuaku di Paris, mungkin sekarang pun aku belum tentu di sini."
"Ah sudah lah mom. Pokoknya apapun yang terjadi di depan. Yang harus kau ingat adalah cukup percaya padaku." Ujar Darel yang sesungguhnya takut, jika saja sewaktu-waktu Santy muncul dengan segala trik licik untuk merusak rumah tangganya.
Kini Darel sudah terbalut dalam pakaian santai dan mencoba merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, melepas kepenantan jiwa juga raganya, setelah seharian ini terkuras dengan sempurna.
Anin hanya bisa menghela nafas panjang melihat suaminya yang memang tidak seperti biaasanya bersikap. Tetapi, Anin memilih cuek saja dengan sikap itu. Karena Anin bepikir mungkin, suaminya hanya kelelahan saja.
Dua pekan berlalu setelah acara mitoni. Anin di kejutkan oleh email yang masuk, perihal jawaban lamarannya.
Tak henti-hentinya Anin bersyukur jika ia di terima sebagai dosen di salah satu Universitas di kota kembang Bandung ini.
Sambil mengusap perut buncitnya Anin terus bergumam. "Alhamdulliaah nak... mommy di terima bekerja di sini. Kita tidak perlu jauhan lagi sama daddy. Pasti daddy akan senang dengan kabar ini."
Anin terus menelaah isi email itu, dan sedikit cemberut melihat jadwal masuk perkuliahan itu adalah pada pertengahan September, itu artinya usia bayinya baru berusia 1 bulan. Ia harus sudah meninggalkan anaknya untuk mulai beraktivitas sebagai tenaga pengajar di sebuah Universitas. Sesuai impian terakhirnya.
Belum sempat Anin menyampaikan isi email itu pada suaminya yang memang masih berada di kantor di jam siang ini. Anin mendapatkan notifikasi pesan dari Santy.
"Hai Anin... apa kabarmu." Isi chat memalui WA itu masuk ke benda pipih pintar milik Anin.
"Ah... ga papa. Aku paham... juga aku mengerti akan sifat suaimu begitu padaku."
"Maksud kaka sifat suamiku begitu... kenapa? Apa kakak lebih kenal suamiku dari aku mengenalnya...?"
"Anin... maaf aku tidak bisa mengatakannya." Tolak Santy mengulur waktu.
"Kak Santy... katakan saja jika ada yang lebih kakak ketahui dari yang aku tau kak, ada apa?"
"Tidak Nin... aku takut jika in akan menyakiti dan melukai hati bahkan merusak rumah tanggamu."
"Kak Santy... jujurlah padaku. Ada apa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya. Bahkan aku tidak tau harus mulai dari mana? Sebab kulihat dia begitu menyayangimu, sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Sudahlah kak... jangan berbelit-belit katakan saja. Apa maksud pembicaraan mu ini?"
"Maaf ya Nin... maaf banget. Aku ga bermaksud menjadi duri dalam dagingmu. Tapi sungguh aku tidak tau jika Darel adalah suaamimu. Bahkan saat pertemuan dan perkenalan kami di Paris tahun lalu dia mengatakan bahwa dia salah pria single." Santy mulai berbohong pada Anin.
"Masa Kak...? Rasanya Bang Emil tidak mungkin memperkenalkan dirinya masih lajang, sedangkan cincin pernikaahan kami saja tidak pernah ia lepas tiap berangkat kemana pun." Balas Anin masih besemangat walau dengan hati yang mulai bergetar.
"Aku percaya dengan semua yang ia katakan Nin. Bahkan saat kami bertemu, aku tidak pernah melihat cincin apapun di jari manisnya." Santy terus aja melncarkan aksi kebohongaannya.
"Mungkin saat itu, hanya kebetulan dia meninggalkannya di saku atau di tas kerjanyaa Kak." Anin tetap berpikiran positif pada suaminya.
"Aku kecewa setelah tau bahwa Darel itu suamimu Nin. Aku tau kamu adalah wanita tangguh dan hebat, juga gigih. Aku sungguh sedih... jika ternyata suamimu adalah lelaki bejat." Santy masih melancarkan obrolan halu tingkat tingginya demi merusak mood Anin.
"Maaf kak... selama kami menikah. Bahkan saat kami berjauhan pun. Suamiku tidak pernah sekalipun bercacat cela di mataku." Jawab Anin yang sudah mulai enggan menanggapi isi obrolan chatnya dengaan Santy.
Lama Anin menscroll pic yang baru saja masuk ke ponselnya.
Anin terbelalak dan membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
Bersambung...
...Kira-kira udah pada tau kan...
...apa isi pic yang di kirim Santy....
...Mari kita ghibah bersama pelakor ini,...
...readers ❤️❤️❤️...
...VOTE...
...LIKE...
...GIFT...
__ADS_1
...KOMEN...
...Yang banyak ya... 🙏🙏🙏...