DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 131 : JATAHNYA 3 HARI 1 KALI


__ADS_3

Di balas pelukan dari Anin yang benar-benar telah melupakan kekesalannya seharian ini oleh kejutan yang suaminya berikan.


Masih terlihat beberapa warga yang berseliweran di area pekarangan rumah Darel untuk membersihkan sisa pesta hajatan mendadak hari itu.


Dan tampak Darel juga ikut membantu, agar pekerjaan itu cepat selesai, sementara Anin sudah masuk kedalam kamar mereka membersihkan diri juga mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tentunya lebih longgar.


Anin tersenyum sendiri melihat deretan pakaian pada lemari yang sebagian besar adalah pakaian yag juga berada di lemari pakaian di rumah mama sebelumnya. "Suami sempurna." Gumam Anin yang ternyata di dengar oleh Darel yang telah masuk ke dalam kamar mereka.


Tetapi, posisi pintu masuk mereka sangat dekat dengan pintu kamar mandi, sehingga Darel langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah ikut bersih-bersih bersama warga yang kini sudah semuanya pulang.


Anin tampak masih berkeliling di kamar itu, untuk sekedar melihat-lihat interior kamar mereka yang sangat besar, fasilitas lengkap bak sebuah suite room di sebuah hotel mewah. Di sana juga terdapat pintu darurat yang ternyata terhubung dengan kamar yang sepertinya Darel siapkan untuk anak mereka nantinya.


Anin sedikit tersentak tatkala ia masih mengamati seluruh isi ruangan itu, sebuah tangan kekar telah melingkar di pinggangnya. Maksud tangan itu ingin melingkar memenuhi seluruh permukaan perut itu, tetapi sudah tidak sampai, karena perut Anin yang sudah buncit. Sehingga kini dagu nya saja yang di sandarkannya dengan manja di atas bahu kanan Anin.


Cup... Anin seketika mencium pipi suaminya.


"Terima kasih daddy... mommy bahagia sekali hari ini." Puji Anin pada suaminya.


"Ini sebagai wujud penebusan dosaku kemarin mom, karena tidak bisa menjemput kalian." Ujar Darel yang sudah menggendong Anin dan meletakkannya di atas tempat tidur mereka.


"Hati-hati Bee... aku makin berat ini." Ujar Anin yang hanya sempat meingkarlkan kedua tanganna padaa leher suaminya.


Darel tidak memperdulikan ucapan Anin lagi. Karena ia kini telah sibuk menyibak daster milik istrinya untuk menciumi seluruh permukaan perut buncit istrinya.


"Hai kaka... daddy sangat merindukan kalian. Maafkan daddy kemarin ya... kakak dan mommy sekarang ga jauhan lagi sama daddy. Setelah ini kita akan selalu bersama ya nak." Ucapnya yang memang selalu mengajak anak yang masih dalam kandungan istrinya itu berinteraksi.


Setelah puas mengusap dan berbicara di perut istrinya. Kini Darel sudah mensejajarkan kepalanya pada kepala Anin. Dengan memiringkan tubuhnya, menopang kepala di telapak tangan bertopang pada sikunya. Darel tampak tak bosannya memandang wajah teduh istrinya, yang ternyata telah tidur terlelap.


Padahal, Darel sudah siap dengan celana boxernya setelah mandi tadi. Dengan maksud agar tinggal plorot jika istrinya siap melayaninya malam ini. Tetapi di urungkannya, sebab ia tidak tega melihat wajah letih pada raut wajah Anin. Sehingga ia pun menarik selimut dan mengangkat kepala Anin agar tidur berbantalkan lengannya.

__ADS_1


Anin terbangun di tengah malam, karena merasa perutnya lapar. Ia hendak beranjak bangun tetapi lengan kekar Darel memeluknya dengan begitu posesif, memaksanya untuk membangunkan suaminya.


"Bee... cup. Bee...cup." Anin berkali-kali menyebut nama suaminya sambil mencium wajah tampan Darel.


Membuat Darel seakan sedang bermimpi di cium bidadari. Sampai ia merasa cimunan itu sangat nyata nemplok di bibirnya. Benda lembut kenyal yang membuat permukaan bibirnya basah, akibat ulah nakal istrinya yang kini telah semakin berani menggodnya.


Ia segera memicingkan matanya. Mendapati bibirnya di pagut dengan lembut, membuat Darel pun memainkan lidahnya di dalam, dan mempererat pelukannya.


Anin berusaha melepas ciuman yang semakin terasa ganas dan panas itu. Tetapi tidak bisa, hanya ada jeda sebentar di berikan Darel untuknya bernafas. Kemudian tangan Darel sudah sangat lincah meremas benda kenyal bak squisi yang ia rasa semakin berukuran besar itu, membuatnya semakin bergelora.


Darel melepas pertautan bibirnya, kemudian melirik ke bagian yang ia remas, memastikan jika tangannya benar telah memegang benda milik istrinya. Sambil tersenyum ia berkata : "Ini makin jumbo ya mom." Ujarnya yang kemudian dengan rakusnya melahap benda favoritnya itu,


"Bee... aku lapar." Ujar Anin dengan lembut sambil membelai rambut suaminya.


"Aku bahkan telah lama berpuasa tidak memakan ini mom, jadi aku lah yang lebih lapar darimu." Darel melanjutkan aksinya bahkan tangannya telah berada di rawa rawa danau di bawah sana."


"Makannya yang nanti, ini si iteung sudah basah merindukan to'ing, mom." Ujar Darel mengangkat jari telunjuknya yang memang telah terlihat di penuhi cairan tidak bening, yang dia dapatkan dari danau si iteung di bawah sana.


Anin hanya bisa pasrah, menahan rasa lapar. Juga rasa rindu yang sesungguhnya juga sudah sangat membuncah dan ingin pecah, merindukan sentuhan suaminya dan tembakan dari si to'ing milik Darel.


Tidak memerlukan banyak waktu bagi mereka untuk saling menyatu, sebab ritual itu terjadi di ujung rindu. Hanya bagaikan penyaluraan pipa air pada kran yang telah lama buntu.


Begitu sumbatan itu terlepas... crooot!!!


Mengalir deraslah air itu di tempat seharusnya terendap.


"Kita break makan dulu mom, kumpulin tenaga. Besok aku ijin lagi ke kantor. Sebab, proyek di sini lebih penting daripada di perusahaan." Ujar Darel yang langsung bangkit ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya sebentar lalu berjalan keluar menuju dapur melihat stok makanan yang masih tersisa.


Tanpa ia peduikan lagi rengutan wajah Anin yang tidak setuju dengan ucapan suaminya barusan.

__ADS_1


Darel sudah kembali masuk ke kamar mereka, membawa sebuah nampan berisi mangkuk berisi sop yang sepertinya sempat ia panaskan.


Sementara Anin sudah tampak segar, setelah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya lagi dengan piayama lengan panjang dan celana panjang.


"Loh... kenapa pake baju. Kan setelah ini kita tempur lagi mom." ujar Dare menatap heran pada istrinya.


"Hei ... to'ing. Selama hamil jatah mu 3 hari satu kali aja ya. Jangan di balik menjadi 3 kali satu hari. Si kakak ga bisa bobo di dalam, kalo selalu di jenguk." Ucap Anin seolah sedang berbicara


dengan benda andalan milik suaminya si to'ing.


"Yaaa... elah mom. Kan to'ing lama bolos selama beberapa bulan ini. Jadi ijinkan dia bayar rapelannya mom. Janji... akan hati-hati. ga bakalan bangunan si kakak di dalam. Oke mom...?" rayu Darel sambil menarik Anin duduk di pangkuannya untuk segera menyuapi istrinya tersayang.


"Oh... masalah ketidakhadiran to'ing beberapa bulan lalu di maaafkan. Karena itu bukan bolos, tapi memang sedang libur. Jadi... ga ada yang harus di bayar secara rapelan." Anin tak mau kalah meladeni rayuan dan candaan suaminya.


"Mom... ga boleh menolak ajakan suami. Itu ibadah lho mom." Darel selalu mengaitkan hasratnya dengan ajaran agama yang di anutnya, jika istrinya mulai menolaknya.


Bersambung...


...Come on Reader.......


...Tunjukkan Jempol like mu......


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


__ADS_2