
Setelah seharian berada di apartemen Darel. Rasa malas keluar di antara mereka muncul bersamaan. Sehingga mereka berdua pun memutuskan akan menghabiskan hari itu di apartemen saja. Tanpa melakukan kegiatan apa - apa, kecuali makan yang mereka pesan secara online juga saling bertukar cerita. Sementara di Bandung, kediaman Keluarga Felix Simon Aswindra sudah tampak di dekorasi oleh pihak WO untuk dua hari kemudian di laksanakan acara Ngunduh Mantu.
Rembulan begitu bulat sempurna di langit malam, ada sekawanan awan abu-abu gelap bergerak lambat seolah ingin mengusik sinarnya. Bintang seolah bersembunyi di balik bentangan angkasa raya, mungkin hujan akan segera turun, menambah suasana sejuk dan tentram malam itu.
Anin dan Darel tampak sedang berada di balkon apartemen itu, Anin tampak duduk santai sambil sesekali membelai dan mengecup gemas pipi suaminya yang kini terlihat manja, merebahkan dirinya berbantal paha wanita pujaannya.
"Mom..."
"Hmm..."
"Kalau di ingat-ingat gaya pacaran kita ga seperti orang lain ya..mom."
"Apa nya yang ga kaya orang Bee...?"
"Itu...kita ga pernah jalan bareng gitu, nonton..."
"Stop, Bee...!!! Aku masih trauma jika kamu mau ajak aku ke bioskop lagi. Ga penting banget nemenin kamu nonton jika kaya waktu itu." Jawab Anin.
Darel tertawa mengingat kelakuannya waktu itu.
"Sebenarnya sebelum Lov berangkat, aku udah mau nyatakan cinta, tapi... aku kira kamu masih sama polisi itu. Tepatnya waktu kita makan di rooftop itu, aku dah siap bilang, tapi...justru malam itu aku patah hati melihat kamu dengan mesranya ngobrol bahkan kenalan dengan ibunya." Jujur Darel pada Anin.
Anin terlihat menarik nafasnya dalam. "Malam itu, aku juga sebenarnya sedang bersedih Bee, karena malam itulah ibunya bilang, kalau anaknya sudah ia siapkan calon istri yang juga berdarah biru."
"Kamu patah hati karena ulah ibunya Lov...?"
"Patah sih tidak, hanya sedikit tersinggung. Aku kecewa saja. Sebab, aku tidak pernah bisa memilih terlahir dari rahim siapa...?" Ucap Anin lirih.
"Terus, apa setelah itu kalian langsung putus...?"
"Iya, begitu dia datang dari Solo, kami bertemu. Kemudian kami bersepakat untuk mengakhiri hubungan kami."
"Mom..."
"Hmm..."
"Kamu mencintainya...?"
"Tidak."
"Masa...?"
__ADS_1
"Benar...!!!"
"Terus kenapa jadian...?"
"Kelamaan nunggu my hubby katakan cinta." Jawab Anin dengan jujur.
Darel bangkit dari posisi rebahan nya.
"Emang...sejak kapan Lov menyukaiku?"
"Kalo ga salah...sejak kita bertabrakan di Butik, saat hari pertamaku kerja di sana, kayaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama deh." Sahut Anin dengan pipi yang memerah menahan malu atas pengakuannya itu.
"Halaaah mom bohong. Jika sejak itu, mengapa aku ga mendapatkan signal apa-apa dari ekspresi mu saat kita di Cafe, di Villa juga di puncak. Coba saja jika tingkah mu jelas, kita ga akan menunggu selama ini Mom." Darel begitu berapi-api.
"Bee...tau ga kenapa aku sampai ga makan seharian waktu di puncak...?" tanya Anin pada suaminya.
"Emang kenapa... banyak kerjaan dari Fely?"
Anin mendekatkan bibirnya ke telinga Darel lalu berkata : "Patah hati gua...liat babang ganteng masang gelang ke tangan si model cantik. Cemburu gua bang."
Mbleeeph...Darel langsung nyosor bibir istrinya yang sudah sangat dekat di area wajahnya.
"Maaf ya mom...aku benar-benar ga sadar sesungguhnya aku juga telah lama merasakannya, tapi ga percaya, sampai-sampai aku sempat bohong lo. Sebenarnya selama ini yang chat sebagai Gerald itu aku mom. Aku terlalu malu menyadari dan memulainya, sehingga aku pura-pura menjadi Gerald untuk ingin tau tentang mu lebih banyak."
"Kenapa...abang malu pacaran sama asisten model...?" tanya Anin dengan suara datar.
"Tidak...hanya. Maaf, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan penolakan Fely. Dan aku masih penasaran padanya, sehingga begitu terobsesi ingin memilikinya. Aku ga yakin saja, jika hanya beberapa kali bertemu kamu, bawaannya kangen aja. Bahkan saat aku sudah jadian sama Fely pun aku sudah tidak merasakan getaran apa-apa. Berbeda saat aku bersamamu, aku merasa nyaman, tenang dan kamu tuh..ngangenin banget cintaku... muach."
"Gombalnya suamiku...kalo kangen kenapa ga sering-sering komunikasinya. Aku lebih merasa jika selama ini aku hanya cinta sendiri sama abang."
Darel mengecup pelan kening Anin, serta bertubi-tubi menghujaninya dengan kata maaf, maaf dan maaf.
"Aku lah yang lebih besar dan lebih banyak mencintaimu mom."
"Udah lah Bee, semua sudah berlalu. Yang penting kedepan kita bisa lebih jujur dan saling terbuka, agar ga miskom lagi.
"Mom...besok kita ngemall ya. Kayaknya aku belum pernah manjakan kekasihku dengan uangku deh. Belanja apapun yang kamu suka ya mom. Juga beli pakaian buat nge goal di Paris nanti." Hati Anis berdesir halus, agak ngeri dan penasaran tentang ritual yang satu itu.
"Harus ya Bee...beli pakaian buat ritual itu...?"
"Ya ... iyalah. Jarang-jarang kan liat kamu pake pakaian sexy."
__ADS_1
"Oh...bukannya sebaiknya kalo gituan... ga usah pake busana apapun Bee...?" pancing Anin.
"Wow... istriku mulai nakal ya, makin cinta kalo gini. Oke lah... kita ga jadi belanja besok. Biar polosan aja kita ntar." Senyum Darel sambil membenamkan istrinya dalam pelukan eratnya.
"Becanda Bee... masa aku harus melewatkan kesempatan besar untuk ngabisin uang suamiku yang CEO ini." Canda Anin.
"Silahkan Nyonya Darel Emilio Aswindra. Sejak belum jadian aja udah mau ku kasih blackcard aja di tolak." Kenangnya.
"Ya...iyalah belum jadian. Ntar di kira aku cewek matre." Bela Anin pada dirinya sendiri.
Kini mereka semua telah berada di Bandung, tak terkecuali si bayi Lyra juga ikut dalam acara tersebut. Karena Jovan memang sengaja mengambil cuti tahunan demi mengikuti semua sesson acara pernikahan adik satu-satunya ini. Jovan sangat setuju jika rentang waktu antara semua acara di langsungkan tidak lebih dari 7 hari. Sehingga semua ritual dapat dilaksanakan dan ia pun dapat mengikuti semua rangkain tersebut.
Bukan perihal yang sulit dalam melaksanakan acara tradisi adat budaya ini. Namun, kolega bisnis papa Darel yang memang banyak, tentu acara itupun berlangsung megah dan meriah layaknya sebuah perhelatan pernikahan pada umumnya.
Darel dan Anin kini telah berada dalam kamar Darel yang di dominasi warna abu-abu dan putih. Rapi, hanya kata itu yang bisa Anin ucapkan untuk kesan pertama ia memasuki kamar milik suaminya.
Ketika memasuki kamar itu, Anin langsung mandi karena merasa gerah juga sangat lelah.
Sehingga, Anin bahkan tak sempat melihat suaminya berada di mana malam itu, ia sudah langsung terbawa ke alam mimpinya.
Darel tersenyum bangga dan masih merasa tidak percaya. Jika kini telah ada wanita yang akan selalu menemani tidurnya dalam waktu selama mungkin.
Bersambung...
...So Sweet terus dah pokoknya...
...kalo udah mau end ini šš...
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1