DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 144 : PARIS ALUNA COMING


__ADS_3

Anin hanya bisa berdoa semoga kali ini sukses, agar tidak dapat gangguan dari baby Aluna.


Bohong saja jika Anin tidak rindu akan sentuhan suaminya yang memang sudah menjadi candu bagi mereka berdua.


Dan Kali ini benar saja Darel benar-benar baru menghentikan aksinya saat alarm subuh pada weker di kamar itu berbunyi.


Sesuai perkataanya mereka pun mandi bersama kemudian sholat berjamaah.


Baby Aluna tampak sangat menikmati setiap lanyunan ayat alquran yang Anin kumandangkan dengan suara merdunya.


"Makasih untuk hidangan buka puasanya yang lezat dann sangat luar biasa ya mom. Aku puas istriku. Pulang dari Paris ku pastikan hadiahnya sudah ada." Ucap Darel sembari berjalan ke kamar mandi. Lagi-lagi mandi besar.


Basah... basah... basah.


Selesai Sholat subuh Darel tampak terdampar manja di bawah selimut. Tidur dengan nyenyaknya demi mengembalikan tenaganya yang terkuras saat berbuka puasa tadi.


Anin sebenarnya ingin melakukan hal yang sama, tetapi tanggung jawabnya sebagai ibu tidak memberikan waktu untuk itu. Ditambah lagi, ia harus memeriksa semua perlengkapan dan kebutuhan untuk mereka bawa ke Paris selama 7 hari ke depan.


September in Paris.


Suasana appartemen yang Darel miliki di Paris seketika menjadi riuh dan tampak sempit karena mereka semua berkumpul di sana.


Dan ternyata benar saja, Anin dan Darel benar-benar tidak punya tempat dan waktu untuk saling bermesraan sebab masih punya urat malu, jika harus saling terkam di saat ada pengasuh Aluna, mama, papa dan juga Ayah yang ikut serta menghadiri wisuda Anin tersebut.


Usai acara wisuda Darel pun pamit pada kedua orang tuanya, ayah, juga menitip Aluna pada si mbak, dengan alasan ingin berjalan berdua saja dengan Anin.


"Ma... Emil dan Anin pacaran dulu ya ma. Titip kaka Aluna." Pamitnya.


"Iya... lama lama aja Mil... pulang besok juga ga papa. Lumayan kan mama bisa tidur sama Aluna." Balas mama dengan semangat.


"Beneran, boleh sampai besok ma...?" Darel memastikan ucapan mamanya.


"Iya... beneran. Ini Aluna kan udah 3 bulan. Artinya kamu udah bisa tes mesin." Mama bicara tanpa tedeng aling-aling, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Darel anak kesayangannya itu.


Darel langsung memeluk mamanya dengann manja.


"Muuuaaach... mama memang paling pengertian. Okeh...besok ya ma kami baru pulang. Makasih Mama."


"Kakak Aluna, jangan cari daddy n mommy ya... anteng aja tinggal sama si mbak. Nanti daddy kasih adek cowok yang tampan kaya daddy." Bicara Darel pada bayi Aluna yang masih terlihat nyenyak dalam tidurnya.


Sebenarnya Anin malu, malu banget atas semua ucapan pamit Darel pada mamanya tadi. Tetapi beruntung, mertuanya memang the best yang sangat pengertian akan kebutuhan biologis anak dan menantunya. Kata mama hal itu wajar mereka lakukan untuk merawat hubungan mereka agar selalu awet terjaga dengan harmonis.

__ADS_1


Sehingga Anin dan Darel memang bak sepasang pengantin baru yang berkali-kali melakukan penyatuan diri mereka. Tanpa gangguan apapun, termasuk saat rasa lelah dan lapar menyerang, mereka tingga panggil pelayan hotel saja.


Dalam sebuah kamar super mewar di lengkapi kolam renang di dalam yang Darel pesan khusus seperti suasana malam pertama mereka, di hiasi dengan kelopak bunga mawar yang membuat ruangan itu wangi, kontras dengan lilin-lilin aroma terapi yang bertebaran di sepanjang kamar menuju peraduan mereka.


Sungguh pikiran mereka kembali pada manisnya malam pertama mereka yang tertunda akibat tamu tak di undang yang membuat Darel kesal waktu itu.


Darel sengaja memilih hotel yang berada tepat di depan menara Eifel. Agar mereka dapat dengan mudah melihat bangunan yang menjadi saksi, dimana mereka jadian beberapa tahun yang lalu. Tempat mereka saling berjanji untuk saling menerima satu sama lain, setelah melewati bermacam rintangan pada hubungan sebelumnya.


Waktu mereka habiskan untuk saling memeluk dan bercerita akan harapan dan cita-cita mereka bersama untuk jangka waktu yang panjang.


Lambat samar mengalun pada indera pendengaran mereka saat mereka berdua tengah berenang di kala senja,


Sebuah lagu Indonesia yang sengaja mereka putar untuk mengiringi juga menambah romantis kebersamaan yang enggan mereka akhiri. 'SAMPAI AKU TUTUP USIA'


Aku tercipta olehnya


Untuk selalu cintai kamu


Beri aku kesempatan


'Tuk bahagiakan dirimu


Kamu tercipta olehnya


Genggam erat tangan ini


Jangan sampai kau lepaskan


Sampai aku tutup usia


'Kan kujaga hatimu


Sampai aku tua


Walau keriput di pipimu terlihat


Takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat


Dengan saling memejamkan mata, keduanya terbawa suasana dalam kolam renang itu di penuhi oleh rasa cinta yang kian mendalam satu sama lain.


Saling menye*ap, mema*ut dan melu*at tanpa jeda. Di saksikan semesta di bawah langit senja Kota Paris yang bagi mereka selalu memberikan kenangan indah untuk cinta mereka yang semakin kuat tak tergoyahkan.

__ADS_1


Di Indonesia.


Hanya membutuhkan waktu 1 hari setelah kepulangan mereka dari Paris, lagi rumah kediaman Darel kembali di penuhi anak-anak panti asuhan dan warga sekitar rumah Darel. Untuk ikut menghadiri acara Aqiqahan Aluna Queeni Aswindra.


Yang semestiya di laksanakan pada hari ke tujuh setelah ia di lahirkan. Tetapi, karena keadaan bayi Aluna yang mesti di rawat di Inkubator selama 6 minggu. Maka acara itu tertunda dan mereka sepakati untuk melaksanakannya sepulang mereka menghadiri wisuda Anin.


Acara itu di laksanakan pada pukul 10 pagi.


Lagi acara itu di laksanakan dengan mewah dan meriah. Sehingga pada pukul 2 siang kediaman Darel tampak sudah sepi, karena para tamu sudah kembali pulang ke rumah mereka masing- masing.


Tetapi, saat Anin bermaksud masuk dan menutup pintu depan rumahnya. Tampak di matanya sebuah iringan dua mobil memasuki halaman depan rumah itu.


"Sepertinya ada tamunya daddy Aluna, mungkin yang datang dengan mobil mewah ini, adalah kolega bisnisnya." Batin Anin saat memastikan bahwa mobil yang di depannya itu adalah sebuah mobil Rolls Royce Wraith Tone. Yang di dominasi warna hitam dengan penutup cap depan warna putih.


"Selamat siang Nyonya, apakah benar di sini kediaman bapak Darel Emilio Aswindra...?" tanya seseorang berpenampilan maskulin dengan setelan jas yang terbalut pada tubuh atletisnya.


"Iya benar, sebentar saya panggilkaan." Jawab Anin dengan ramah dan mempersilahkan mereka untuk duduk mennggu di kursi yang mereka siapkan untuk tamu.


Namun, belum sempat Anin masuk untuk memanggil suaminya. Darel telah tampak berada di ambang pintu dan langsung menyapa tamu yang bertanya pada Anin tadi.


"Oh... Pak Erik. Sudah tiba rupanya." Tampak lelakiyang Darel sebut Erik tadi memberi hormat pada Darel.



Bersambung...


...Eiiit daaah sumpah...


...Authornya susah pisah sama karya ini...


...Tapi bagaimanapun berani memulai harus berani mengakhiri...


...Yuk... tengok episode TAMAT selanjutnya...


...Pliiis BOOM...


...VOTE...


...LIKE...


...GIFT...

__ADS_1


...KOMEN...


...Yang banyak ya... šŸ™...


__ADS_2