DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 132 : KEBAHAGIAAN BERTUBI-TUBI


__ADS_3

"Mom... ga boleh menolak ajakan suami. Itu ibadah lho mom." Darel selalu mengaitkan hasratnya dengan ajaran agama yang di anutnya, jika istrinya mulai menolaknya.


"Jangan buat aku seolah menjadi istri durhaka dong Bee. Kasihanilah istri dan kakak yang ada di sini. Aku tau kebutuhan to'ing, tapi kita dapatkan kakak juga melewati proses yang lama. Masa hanya karena bela to'ing, kakak jadi korban." Anin terdengar mengiba pada suaminya.


"Mom... daddy cuma bercanda. To'ing dah biasa puasa kok. Tenang aja, dia akan tahan. Asal si iteng jangan suka nantang dan menggoda saja."


"Iya... makannya ini aku pake piyama serba panjang supaya auratku tidak menggodamu. Atau mulai besok aku pake syar'i saja ya Bee. Biar serba ketutup. Ngap-ngap deh." Anin berceloteh asal membuat suaminya makin gemas padanya.


"Ga perlu mom. Aku tahan godaan kok. Udah kita tidur saja. Servisan tadi... cukup kok buat 3 hari ke depan." Ucapnya lemas.


"Masa... aku ga yakin." Anin mulai jahil.


"Pliiis... jangan goda To'ing." Ujar Darel yang segera msuk dalam selimut menutupi seluruh badan bahkan kepalanya ke dalam selimut itu.


Semakin hari, mereka rasakan seolah di surga. Karena begitu indah nikmat dunia yang Tuhan ijinkan mereka jalani. Selalu berada pada naugan atap rumah yang sama, dimana mereka melakukan aktifitas dan rutinitas yang mereka lalukkan dengan begitu harmonis. Rumah tangga yang sejak awal pernikahan, sangat Darel idamkan. Hidup dan tinggal bersama istri yang selalu ada memandangi punggungnya saat berangkat bekerja, dan menyambutnya dengan senyum manis saat ia kembali pulang.


Sungguh suatu impian yang sangat sederhana sebenarnya, tetapi terhalang karena impian dan cita-cita istri tercintanya.


Sore itu, Anin dan Darel sudah mereservasi sebuah klinik ibu dan Anak untuk mengontrol perkembangan calon anak mereka.


Tak pernah lepas tangan Anin dari genggaman Darel sejak turun dari mobil, hingga selama antri bahkan kini di hadapan dokter kandungan itu.


"Permisi ya pa... ibu harus rebahan di situ untuk di USG, kita lihat perkembangan si bayi dulu." Pinta dokter itu dengan ramah, mengisyaratkan agar tangan itu bisa melepas genggaman posesif dari Darel. Kata itu tentu membuat Darel seolah kaget, karena ia tampak tidak sadar, jika sedari tadi memegang tangan Anin.


Dokter itu hanya tersenyum melihat semburat ekspresi malu yang terpaacar di wajah Darel.


"Wah... bayinya sehat dan aktif sekali. Ukuran dan berat badanya juga sesuai dengan usia kehamiln yang sudah memasuki 29 minggu atau 7 bulan ya Bu." Ucap dakter itu sambil terus memamutar alat monitor itu di atas permuaan kulit Anin.

__ADS_1


Anin dan Darel hanya menyimak dengan rona bahagia di wajah mereka.


"Oh... bayinya perempuan. Tuh, anak pintar... ia tanpa malu menunjukkannya. Biasanya bayi-bayi lain tampak malu dan sedang tidur jika sedang di periksa." Celoteh dakter yang juga sangat antusias dengan perkembangan bayi dalam kandungan Anin.


"Oke... baik selesai. Vitaminnya harus selalu di minum ya bu. Sekarang sudah mulai memasuki trimester ke tiga, biasanya di sini akan terjadi lonjakan selera makan yang meningkat.


Hindari makanan yang manis-manis, agar bayi tidak mengalami kelebihan berat badan.


Di usia ini, bahkan bisa terjadi kenaikan 1kg pada tiap bulannya, sehingga pada masa kelahiran bayinya terlampau besar dan susah untuk keluar jika ingin melalui jalur normal.


Untuk bapak... di usia ini boleh berbahagia, karena saat usia hamil tua tidak seperti saat ibu hamil muda, bapak boleh sering-sering jenguk jalan lahirnya, agar persalianan lancar. Tapi, tetap pelan-pelan dan jangan memaksa saat istinya lelah ya pak." Dokter itu terus saja memberikan saran yang panjang kali lebar kaya luas persegi panjang.


Anin menyenggol kecil perut Darel dengan sikunya, saat sudah kembali duduk di sebelah suaminya.


"Ini resep vitaminnya, usahakan jaga pola makan, istirahat yang cukup dan jangan stres. Sampai jumpa di kontrol bulan depan." Ucap dokter itu dengan ramah.


"Baik... sampai jumpa dokter dan terima kasih." Ucap Anin tak kalah ramah.


"Kaka... daddy senang banget kamu cewek nak. Manis, pintar dan tangguh seperti mommy ya nak." ucapnya dengan kegirangan.


Anin hanya mengelus sayang rambut Daarel suaminya, tak bisa mereka tutupi betapa bahagia yang mereka rasakan saat itu.


"Mom...besok mau sama daddy atau sama mama. Belanja buat perlengkapan kakak mom..." Darel begitu semangat melajukan mobilnya ke arah rumah orang tuanya.


"Terserah Bee. Kalau tidak repot sama daddy nya mungkin lebih baik." Tukas Anin menanggapi tawaran suaminya yang terdengar bersemangat sekali.


"Oke... kalau gitu, besok biar daddy yang temenin. Trus besok juga, ku panggil orang untuk mendekor kamar kaka yang ada di sebelah kamar kita. Mau nuansa pink mom...?" tanya Darel yang sangat antusias dengan jenis kelamin putri pertaamanya itu.

__ADS_1


"Jangan juga kali Bee... kalau untuk dinding mungkin kita gunakan yang cream saja, tetapi untuk aksesoris di dalamnya bolehlah kita isi beberapa dengan pink, tapi jangan begitu dominan. Anak perempuan ga selalu dan harus suka warna pink, Bee. Bukan kah pelangi yang warna-warni itu lebih indah?" pancing Anin pad suaminya.


"Oke ratu ku. Akhirnya... kau memberikan pendapatmu tentang desain rumah kita."


Tampak mobil mereka sudah terparkir rapi di halaman keluarga Felix Simon Aswindra.


Mama dan papa Darel tentu sangat menyambut baik kedatangan anak dan menantunya itu. Bahkan, mereka tidak di ijinkan untuk pulang. Mama sangat menginginkan agar Anin dan Darel menginap di rumah mereka.


Tentu saja keduanya tidak punya alasan untuk menolak, sebab mereka pun sudah berjanji untuk selalu sering mengunjungi mama dan papa Darel.


Selain perihal belanja keperluan bayi, Darel juga mengutarakan keinginannya untuk mama menyiapkan acara tradisi siraman memasuki usia kehamilan 7 bulan, atau yang sering di sebut dengan Mitoni, tingkeban merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata β€œpitu” yang artinya adalah angka tujuh. Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, dimana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada si bunda yang sedang mengandung. Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni iniΒ  juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti.


"Oke... minggu depan kita laksanakan.


Anin... kira-kira ayahmu bisa datang ga Nak? Mungkin kamu akan lebih senang jika ayah bisa ikut hadir dalam acara itu." Pinta mama Darel yag tentu sangat di sambut Anin dengan senang hati.


"Ya Allah begitu bertubi-tubi kebahagiaan yang kau berikan untukku ya Allah. Segala sujud syukurku hanya ku haturkan pada Mu ... wahai Tuhanku yang maha membuat semuanya menjadi begitu indah." Doa sujud Anin pada akhir sholat tengah malamnya.


Bersambung..


...Mohon dukungannya πŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih πŸ‘πŸ’ŒβœοΈπŸŒΉ...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


__ADS_2