
Tidak biasanya papa memanggil Darel untuk bicara di ruang kerja seperti itu. Bahkan tampaknya, pembicaraan itu hanya mereka lakukan, empat mata.
Dengan langkah terburu-buru Darel melangkah menuju ruang kerja papanya. Tampak di sana papa sedang menghadap layar laptop dengan tatapan serius. Kemudian memanggil Darel untuk mendekat dan mengamati layar yang masih dalam keadaan menyala itu. Darel memperhatikan, ada sebuah gambar semacam peta di sana. Darel masih bingung dan tidak mengerti. Akan kemana arah pembicaraan papanya.
"Kamu tau ini apa Mil...?"
"Sebuah peta, lokasi. Apakah itu lokasi pembangunan Panti Jompo milik papa...?"
"Perhatikan dengan cermat gambar serta keterangannya." Jawab papa yang masih terlihat tenang.
Darel memicingkan matanya, untuk melihat dengan seksama peta yang tertera di layar itu.
Darel semakin bingung, saat ia membaca ada kata ESMOD di sana, kemudian beberapa nama jalan yang ada di Paris. "Ini, peta area sekitar ESMOD pa...?" tanya Darel.
"Iya...tepat sekali. Ini adalah ESMOD. Lalu ini adalah apartemen." Jawab papa sambil menunjuk bagian itu dengan ujung pulpen nya.
"Lalu...?"
"Itu apartemen yang salah satu kamarnya di sewa oleh Anin. Dan papa sudah membelinya sebagai hadiah ulang tahun untukmu. Ini tiket ke Paris... temui gadis itu dan papa tidak mau mendengar kegagalan mu lagi untuk mengungkapkan perasaanmu padanya. Kalau perlu bawa pulang dan nikahi dia." Ucap papa yang sudah mirip dengan nada perintah.
Kali ini jantung Darel benar-benar nyaris copot. Dia sama sekali tidak menyangka, papa yang selama ini terlihat sangat cuek dengan segala kisah cintanya pada Anin, justru begitu detail memperhatikan Anin.
"Papa... papa... jangan bercanda pa. Masa... papa bahkan sudah membelikan apartemen untukku demi dia. Bukankah selama ini hanya mama yang tau kisah cintaku dan Anin...?" pertanyaan konyol dari Darel.
"Apa kamu kira papa sanggup mendengar rengekan demi rengekan dari mamamu, tiap malam. Hanya karena khawatir dengan keadaan menantu idamannya itu..., hah??" Kali ini papa bertanya sambil menyodorkan sebuah tiket penerbangan ke Paris.
Dengan buasnya Darel langsung menerkam, memeluk tubuh papanya dengan erat. Ia tidak dapat menyembunyikan kesenangannya yang ia rasakan begitu bertubi-tubi.
"Pergilah, temui dia. Urusan perusahaan. Nanti papa yang urus. Tapi, ketika pulang. Jangan dulu kasih papa dan mama cucu. Halalin dulu anak gadis orang." Ujar papa dengan senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Lagi...Darel hanya bisa mengucapkan terima kasih berjuta-juta kali pada lelaki kesayangannya itu.
Dengan perasaan yang penuh dengan jutaan bahkan milyaran kebahagiaan, Darel yang telah mengantongi ijin dari ayah Anin, bahkan dukungan dari kedua orang tuanya. Kini ia telah berada di kota Paris. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 28π€.
Darel yang memang sama sekali tidak menghubungi perihal kedatangannya. Kini telah nampak duduk manis di atas sofa yang terdapat di ruang tengah apartemen yang salah satu kamarnya di sewa oleh Anin. Cukup lama Darel menunggu, kedatangan wanita yang dicintainya itu. Sampai, pada pukul 5 sore waktu setempat, pintu apartemen itu terbuka dari luar. Muncullah sosok seorang Anin yang sangat ia rindukan.
"Bang Emil...?" Anin terpekik tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Kenapa... kaya liat setan aja." Darel berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Kok... abang bisa masuk sini...? Maksudku apartemen ini."
"Kamu lupa aku adalah seorang CEO kenalan mu yang muda, tampan juga kaya. Ha...ha...ha...!!!" Ucapnya mendekati Anin kemudian memeluk dan mengusap pelan pucuk kepala Anin. Sambil berkata lagi dengan pelan. "Abang kangen Anin." Sontak Anin meleleh dan tidak berniat untuk melepas pelukan orang yang sejujurnya juga sangat ia rindukan itu.
Namun, segera sadar dan berkata : "Bang... Anin belum mandi. Lepas dulu ini." Ujarnya sambil berusaha melepas tangan kekar milik Darel.
"Kalau sudah mandi, berarti boleh peluk lagi ya Nin...?"
"Abang, kenapa bisa di sini...?" tanyanya dengan serius.
"Aku sekedar mengecek apartemen yang di hadiahkan papa, katanya sebagai kado ultahku." Jawabnya dengan nada pelan.
"Ini apartemennya abang... lalu, apa aku harus pindah tempat tinggal karena pemiliknya sudah ganti?" pertanyaan polos iti keluar dari mulut Anin.
"Oh, itu tergantung negosiasi dengan pemilik yang baru. Apakah kamu tetap boleh tinggal di sini atau tidak."
"Sayang sekali jika aku harus pindah dari sini. Aku sudah terlanjur betah kurang lebih 3 bulan di sini, karena sangat dekat dengan ESMOD jadi aku bisa lebih irit, karena hanya berjalan kaki ke sana."
"Kalau begitu, mari bernegosiasi dengan pemilik yang baru. Aku jemput nanti malam pukul 7 ya... Trus ini, titipan mama. Katanya harus kamu pakai dan di foto kemudian kirim pic nya ke dia. Oke, maniis? Abang pulang dulu." Pamitnya.
__ADS_1
Ya, walau Darel telah menjadi pemilik apartemen itu, bukan berarti ia harus tidur di situ, ia sudah membuka 1 kamar hotel untuk sementara ia berada di Paris.
Setelah kepulangan Darel dari Apartemen itu, buru-buru Anin membuka kotak yang Darel sodorkan padanya tadi. Ternyata isinya adalah gaun yang dulu pernah ia inginkan saat di Butik MJ bersama mama Darel. Anin terharu di buatnya, sampai tidak terasa pipinya kini telah berlinang air mata.
"Ya Allah, setelah hadirnya bang Emil di sini, kemudian gaun ini, kejutan apa lagi yang Engkau persiapkan untuk hamba mu ini ya Allah. Jangan karena nikmat yang kau berikan ini membuat aku khilaf dengan segala ketetapan-Mu. Amin." Doa Anin saat melaksanakan sholat magribnya.
Kemudian ia tampak telah siap mengenakan gaun berwarna merah burgundy polos dengan model pundak off shoulder yang tentu menampakkan tulang selangkanya dengan jelas di atas dada yang di hiasi bordiran dengan benang keemasan sepanjang tepinya, di padu dengan bagian lengan flare yang agak melebar di atas siku. Untuk pertama kalinya, kini Anin menggunakan Strappy Heels yaitu sendal berhak yang berdetail tali temali warna cream yang menambah kesan elegan pada penampilannya malam itu.
Tidak lupa menata rambutΒ model chignon yang hanya menata pada bagian bawah rambut saja, cukup memperlihatkan leher jenjang yang di miliki Anin. Mengingat mereka akan keluar di malam hari, Anin tampak percaya diri memberi riasan smokey eyes pada matanya kemudian memoles lipstik nude beige pada bibirnya memberi kesan sensual sekaligus alami.
Sesaat Darel terkesima melihat penampilan Anin yang sangat berbeda dari biasanya. Anin tampak tersipu malu karena memang tidak biasa berpenampilan seperti malam ini.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Anin dan Darel sudah berada di restoran Le Jules Vernes yang berada di lantai dua Menara Eifel, Paris. Di sana mereka tidak hanya di suguhi makanan daging dan wine, tetapi jua dapat menikmati pandangan kota Paris di malam hari yang sangat indah, cantik dan tentu sangat romantis.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari keduanya, saat keduanya masih terlihat asyik menikmati hidangan yang di sajikan di hadapan mereka.
Setelah selesai makan, Darel tampak menyerahkan sesuatu dalam tangan Anin. Sebuah earphone bluetooth, yang bagian satunya juga ada di tangan Darel.
Bersambung...
...Jiiiaaaah... kirain kasih cincin gitu....
...Taunya cuma Earphone. Kecewa pemirsaaah πππ...
...Mohon dukungannya π...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
__ADS_1
...Kasih ππβοΈπΉ...
...seikhlasnya yaa...