
Pengaruh obat bius mestinya sudah habis, tetapi ada beberapa hal yang cukup serius yang membuat mama masih belum sadarkan diri. Dan itu masih memerlukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut.
Informasi dari dokter tentu sangat membuat papa Darel semakin bersedih. Kini mama Darel sudah berada di ruang ICCU.
Mama belum bisa di jenguk, hanya lewat jendela kaca papa dan Darel bisa melihat mama. Dari balik jendela kaca itu, tampak mama masih berjuang melawan maut.
Tanpa terasa, Darel tidak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi di tahan nya. Banyak pikiran yang berkecambuk datang silih berganti. Mulai dari pikiran terburuk hingga harapan dan doa terbaik untuk sang mama.
Darel baru menyadari bahwa banyak waktu yang telah ia lewatkan untuk hidup bersama dengan mamanya. Sempat terpikir dan menyalahkan dirinya, mengapa saat kuliah ia memilih ikut Melisa di Surabaya dari pada di Bandung seraya menghabiskan waktu yang lama bersama kedua orang tuanya.
Bahkan jika saja ia tidak kuliah di Surabaya, ia juga pasti tidak bertemu dengan Felysia si cinta pertamanya yang kini juga sudah mematahkan hatinya. Karena kelakuan yang menurut Darel sangat Keji itu. Lama Darel termenung sambil memandang nanar melihat keadaan mama yang tubuhnya di penuhi peralatan medis untuk membantu mama agar tetap hidup.
Sudah 3 hari mama Darel masih tidak sadarkan diri. Kini tampak Melisa pun berada di Bandung untuk melihat keadaan mamanya secara langsung. Dan dokter yang menangani mama pun kembali memanggil mereka untuk menginformasikan keadaan mama.
Tampak papa, Darel dan Melisa dengan seksama memperhatikan hal yang dokter itu sampaikan.
"Keadaan luka Bu Amelia sebenarnya sudah mulai membaik pasca operasi. Tetapi ibu mengalami koma, yang kami sendiri belum bisa memastikan kapan beliau dapat sadar. Sejauh ini kondisinya sudah stabil, beliau sudah melewati masa kritis. Untuk itu, kami akan memindahkan beliau ke ICU agar keluarga juga dapat secara bergantian dekat dengan pasien. Keadaan ibu memang koma, tetapi beliau masih bisa mendengar kita yang sedang berbicara di dekat beliau. Saya sarankan teruslah berkomunikasi untuk mempercepat pemulihan kesadaran beliau." Terang dokter panjang.
"Ya, dokter lakukan saja yang terbaik untuk istri saya. Kami siap mengikuti semua pengaturan dari pihak rumah sakit ini. Saya percayakan semuanya pada dokter, dan terus pantau perkembangannya." Ujar papa menanggapi keterangan dokter.
Sepekan berlalu keadaan mama tidak menunjukan tanda - tanda menuju kebaikan juga tidak mengalami kemunduran. Mama tampak seperti sedang tidur panjang, masih dengan peralatan lengkap seperti infus, selang makanan, keteter, ventilator dan defibrilator yang melekat di tubuhnya terhubung dengan monitor di ruangan itu.
Entah apa penyebab utama keadaan koma yang mama Darel alami. Tetapi hingga sampai detik itu, papa nampak enggan untuk meninggalkan mama. Kadang hanya pulang untuk mandi dan makan saja ke rumah. Atau juga ia meminta Bi Ratna untuk mengantarkan makanan untuk ia makan di rumah sakit saja. Lalu menghabiskan harinya untuk duduk memandangi dan memegang tangan, jari jemari istri yang sangat ia cintai itu. Sesekali tampak air mata keluar dari sudut mata mama. Dokter bilang, itu merupakan respon dari mama, menandakan bahwa ia dapat mendengar namun belum bisa kembali sadar saja. Setelah di luar ruangan. Tampak papa, Darel dan Melisa tengah berembuk untuk masalah menjaga dan menemani mama Darel.
Melisa tidak dapat melarang papa yang selalu bersikeras berada di rumah sakit, sebab baginya itu adalah wujud nyata dari rasa sayangnya terhadap istri nya. Di sisi lain Melisa juga mengakui tidak dapat selalu ada, walaupun untuk menjaga dan menemani mama. Karena mengingat anak dan suami yang telah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu juga mengingat bisnis Butik yang juga harus ia terus pantau.
"Papa tidak meminta kalian untuk ikut menjaga mama kalian. Lanjutkan saja segala pekerjaan kalian, pulang lah ke tempat kerja kalian. Papa bisa menemani mama kalian sampai mama kembali sembuh." Ucap Papa dengan datar.
__ADS_1
Tampak Darel menjauh dan menelpon seseorang di sana.
"Ger, aku bisa minta tolong ga sama kamu?" tanya Darel saat sambungan telepon itu sudah menghubungkannya dengan Gerald.
"Buat kamu apa sih yang ga, Dar? Gimana kabar mama mu?" tanya Gerald terdengar khawatir.
"Nah itu dia masalahnya. Sampai sekarang mama masih tidak sadarkan diri Ger. Dan aku tidak bisa membiarkan papa sendiri menjaga dan menemaninya. Mama memang dirawat di ruang ICU yang secara intensif di jaga perawat selama 24 jam penuh. Tetapi papa, bersikeras untuk selalu ada di dekat mama. Aku khawatir dengan kesehatannya, juga bingung dengan perusahaan yang papa pegang di sini. Sudah 10 hari papa tidak ke kantor dan kamu tau bagaimana keadaan kantor jika tidak ada seorang pemimpinnya." Terangnya pada Gerald.
"Lalu apa rencana mu?" tanya Gerald.
"Aku berencana mengambil alih sementara perusahaan papa di sini. Tetapi aku mohon bantuan mu, untuk menggantikan aku sebagai CEO di perusahaan ku. Jika kau setuju, lusa aku usahakan pulang, kita akan mengadakan rapat luar biasa untuk pergantian pengurus perusahaan."
"Apa itu tidak berlebihan, Dar. Aku akan tetap sebagai asisten mu saja. Dan semua pekerjaanmu semuanya akan aku lakukan." Tolak Gerald.
"Jangan, sebab aku tidak tau sampai kapan mama akan sadar. Sedangkan majunya perusahaan ku juga tidak lepas dari kerja keras kita berdua. Tolong lah Ger, hanya kamu yang bisa ku percaya melanjutkan perusahan ku." Pinta Darel.
"Tentu, aku akan kembali setelah semuanya normal. Terima kasih ya Ger, aku berhutang banyak padamu." Ujar Darel mengakhiri sambungan telponnya.
Darel melangkah lagi mendekati Papa dan Melisa yang masih saling diam.
"Pa, jika memang papa mau fokus menemani mama. Apakah Darel boleh membantu papa?" tanya Darel pelan.
"Dengan apa kamu bisa membantu papa?" tanya papa sambil mendongakkan kepalanya ke arah Darel yang berdiri di hadapannya.
"Ijinkan aku menggantikan tugas papa di perusahaan." Ujarnya dengan serius.
Papa pun berdiri lalu memeluk Darel.
__ADS_1
"Terima kasih Nak, terima kasih jika kamu bersedia menggantikan tugas papa di perusahaan. Besok...!! Besok kita ke perusahaan untuk mengumumkan pergantian pimpinan. Melisa, papa berharap kamu bertahanlah 1 hari lagi, sampai besok untuk menemani mama. Selama kami melaksanakan rapat luar biasa." Ujar papa antusias.
Dan Melisa pun menyetujui permintaan papa.
"Tetapi, Emil juga minta ijin lusa nanti akan pulang sebentar ke Surabaya, untuk melaksanakan hal yang sama. Emil sudah minta Gerald sahabat Emil untuk menjadi CEO di perusahaan milik Emil, pa."
Jelas Darel pada papa.
"Iya, terserah kamu Mil. Kamu sudah dewasa, papa yakin kamu sudah pasti bisa mengambil keputusan yang baik."
"Kalau begitu, kita pulang bareng saja Mil. Agar Rafa dan Reya lebih aman pulang bersamamu." Ujar Melisa menimpali, karena kedatangannya kali ini bersama si kembar namun tanpa suami dan pengasuh.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
__ADS_1