
"My Love...sedang apa, hmm?" Sapa suara bariton dari layar pipih itu. Menampilkan dada bidangnya yang tampak basah, memberi kesan segar di area favorit Felysia untuk bersandar.
"Sedang merindukanmu Pap." Jawab Felysia dengan suara manja nya.
Tampak Dennis mencebikkan bibirnya. "Honey...apakah kamu mau ikut aku ke Turki?" Ayahku sedang kritis Han. Dan aku mungkin akan lama di sana?"
"Pap... sebagai apa aku kau ajak ke sana? Bahkan kita menikah saja belum."
"Jika, kamu mau besok pun kita bisa menikah secara siri sayang."
"Tidak!! aku mau menikah secara syah pap."
"Ha... ha... ha... Lahirkan dulu anak laki - laki untukku. Baru kau ku jadikan istri syah sayang!!!"
Felysia hanya terdiam, dan sengaja mengendor ngendor kan leher tank top nya agar melorot dan mempertontonkan dadanya yang berisi dan montok.
"Ah, sudah lah sayang. Jangan kau goda aku seperti itu. Aku tak punya banyak waktu menemuimu. Besok kami semua akan berangkat. Jaga dirimu baik baik ya sayang. Secepatnya aku akan pulang. Karena aku pasti sangat merindukan mu." Ujarnya yang kemudian menceburkan dirinya ke kolam renang. Lalu sambungan VC itu terputus.
Felysia hanya menarik nafas nya geram. Mengapa ia bisa jatuh dalam pelukan seorang Dennis pria yang telah nyata beristri 2 itu.
Tapi, Fely pun tidak menampik. Bahwa sudah banyak dana yang Dennis gelontorkan untuknya. Kasih sayang dan perhatiannya pun, sangat mampu mengobati luka hatinya.
Sesaat Felysia benci akan keterlambatan munculnya Darel. Jika saja ia datang sebelum ia mengenal Dennis. Mungkin ia kini telah jadi istri Darel.
Tapi, apakah Darel mau menerimanya seperti Dennis. Bukankah Darel pria baik - baik. Berbeda dengan dia dan Dennis yang berjumpa pun di club malam. Ah.... makin ia pikirkan. Semakin ia risau.
"Lebih baik aku tidur, dan memikirkan hari esok yang jelas nyata akan berjumpa dengan kakak Darel." Felysia bemonolog dan siap untuk tebar pesona lagi.
Anin dan Felysia tampak berjalan beriringan memasuki Butik MJ. Melisa sudah berpesan ia telah menunggu du lantai 3, karena di sana terdapat bermacam koleksi gaun yang limited edition. Serta aksesoris lainnya. Sepatu dan tas branded juga ada di lantai itu.
Felysia yang melihat Melisa langsung mendaratkan ciuman pipi kiri dan kanannya, memberi kesan akrab dan telah kenal lama terhadap Melisa. Di dalam ruang yang sama Amelia Aletha Kurnia mama Melisa dan Darel nampak pura - pura sibuk memilih gaun yang berjejer rapi pada gantungan. Terkadang ia juga nampak memegang pakaian yang terpasang pada manekin.
Penampilan bu Amelia jauh dari kata mewah, beliau hanya menggunakan windhi blouse hitam motif bunga kecil, serta celana harem warna peach. Memberi kesan sederhana dan natural, sehingga tidak menampakkan penampilannya sebagai istri pengusaha bahkan ibu dari pemilik butik sekaligus CEO. Walaupun jika di cermati dengan seksama, ada kilatan berlian yang ia gunakan pada anting, liontin dan cincinnya. Tetapi itu hanya yang paling kecil yang ia gunakan.
"Hai, Felysia. Maaf aku terlalu sibuk, sehingga aku selalu lupa memberikanmu bonus sebagai model ku." Ujar Melisa memulai obrolan.
__ADS_1
"Ah...tidak apa apa kak. Aku malah ga nyangka dapat bonus dari kakak."
"Pilihlah sesuka hati mu, jangan sungkan ya. Tapi maaf, aku tinggal sebentar. Anin, mungkin bisa membantu mu sementara pelayan datang." Ujar Melisa pamit.
"Aku tinggal ya Nin." Ujar Melisa pada Anin.
"Iya... baik Bu." Jawab Anin penuh hormat.
"Anin... kemaren waktu di hubungi. Aku boleh ambil berapa gaun?" tanya Felisa saat sudah memastikan Melisa tidak ada di ruangan itu.
"Yang ku dengar sebuah gaun, clutch dan sepatu."
"Berarti 1 paket ya. Anin kamu bantu cari gaun yang paling mahal ya... supaya aku ambil yang itu saja nanti."
"Sebaiknya, kamu pilih yang cocok dengan badanmu saja, Fe."
"Anin, barang mahal itu pasti selalu cocok dengan tubuhku yang indah ini. Beda lah dengan kamu. Walau pakai gaun semahal apapun, tetap tidak memancarkan aura bintang." Ujar Felysia yang memang selalu suka merendahkan orang lain.
"Iya, maksud ku. Walau harganya mahal, tetapi ukurannya tidak pas. Atau modelnya tidak cocok dengan wajahmu. Itu akan mengurangi keindahan dan kecantikanmu."
"Yang pasti, barang di sini ga ada yang murahan Fe. Di lantai ini semua gaun limited Edition. Walau kamu ambil yang harga termurah pun, tidak akan pernah sama dengan orang manapun saat kamu menghadiri pesta." Jawab Anin sambil menyodorkan beberapa gaun pilihannya.
"Aduh ini bagus semua. Aku coba yang ini saja. Pilihanmu itu semua tertutup. Selalu ada kain tipis menutupi bagian bagian tubuh yang ingin aku perlihatkan."
"Aku mau coba yang ini saja." Ujarnya menuju ruang ganti, dan di sana ia hampir saja menabrak seorang wanita yang nampak sedang berjongkok mengambil pakaian yang terjatuh di lantai.
"Iih.. ih!! Ngagetin deh. Ngapain jongkok jongkok di situ." Bentak Felysia pada seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah bu Amelia mama Melisa dan Darel tentunya.
Buru buru Anin mendekati sumber keributan itu. "Ada apa? ibu tidak apa - apa?" tanya Anin dan berusaha menolong wanita itu. Sebab ia melihat posisinya tengah jongkok. Sementara Felysia telah melengos pergi meninggalkan Anin dan bu Amelia untuk mengganti bajunya.
"Tidak..., ibu tidak apa - apa, tadi hanya sedang mengambil baju ini." Kata Bu Amelia membentangkan baju yang baru saja di ambilnya.
"Oh, syukurlah. Aku kira temanku telah menabrak ibu, hingga jatuh."
"Dia hanya terkejut melihat ibu yang tiba tiba muncul." Ujarnya ramah.
__ADS_1
"Maafkan dia, jika agak tidak sopan tadi ya bu. Sifatnya memang begitu... Ibu, ada yang bisa di bantu. Saya juga pegawai di sini." Ujar Anin dengan sopan dan ramahnya.
"Oh, bisakah kamu bantu pilihkan gaun pesta yang cocok untuk anak gadis saya. Badannya mirip dengan perawakan mu."
"Baik, sebentar saya carikan. Ibu, maaf boleh saya tau. Bagaimana warna kulitnya dan akan di gunakan pada pesta apa?"
Sejenak bu Amelia berpikir lalu menjawab. "Kulitnya agak coklat, dan mungkin akan digunakannya untuk pesta pertunangannya."
"Wah, maaf bu. Padahal sebaiknya ibu bawa putri ibu sendiri untuk memilihnya. Apalagi untuk acara pertunangannya, pasti itu sangat istimewa baginya."
"Oh..iya juga sih ya. Kalau begitu, kapan kapan saja ibu bawa dia dan memilih sendiri gaun yang ia suka." Jawab ibu Amelia yang kemudian terperanggah melihat kecantikan Felysia yang baru keluar dari kamar ganti.
"Gimana Anin, gaun ini cocok kan untukku."
"Coba berputar, aku mau lihat bagian belakangnya."
Felysia pun berputar mengikuti perintah Anin. "Oh, Tidak Fely. Itu sesak."
"Tapi ini yang paling mahal. Lagi pula aku bisa diet ketat demi gaun ini. Dan kamu pasti bisa memperbaikinya untukku."
Nampak bu Amelia berdiri di antara keduanya. Ia nampak puas dapat menilai langsung, karakter dua wanita yang membuat anak laki - laki kesayangannya galau.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat autor harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...