
Lama Anin menscroll pic yang baru saja masuk ke ponselny.
Anin terbelalak dan membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
Berderet-deret pic akan kemesraan suaminya bersama Santy di atas sebuah tempat tidur. Tampak mereka berada di sebuah kamar hotel yang mewah, Anin menyimpulkan sendiri. Suaminya yang bertelanjang dada, dengan tubuh bagian bawah terbalut dalam sebuah selimut yang sama dengan Santy wanita idolanya itu.
Keduanya tampak saling bepelukan dengan tubuh yang sama-sama polos di bagian atas.
Ada beberapa pic terlihat tangan kekar suaminya memeluk posesif tubuh sexy Santy.
Juga sebagian... tampak Santy berebah manja berbantalkan lengan Darel yang tampak terlelap tidur, dengan tangan yang berada di salah satu buah dada milik Santy.
Seketika Anin tidak dapat menguasai dirinya, tangisnya membuncah. Anin merasa dunia seakan berhenti berputar. Logikanya tidak dapat berkompromi, dengan langkah yang begitu lemah dan tertatih tiba-tiba Anin merasakan perutnya bergejolak, sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya, membuat tubuhnya terasa melemah dan hampir tidak berdaya untuk melangkah.
Anin hanya sanggup merangkak ke depan pintu, dengan ponsel yang masih ia gengam. Dan sesampai di depan pintu kamarnya, Anin hanya sempat memanggil, "Ayah... tolong A...."
tidak ada kelanjutan sebab kini Anin tampak lunglai di depan pintu kamar mereka.
Bi Ratih baru saja ingin memanggil Anin untuk makan siang pun terkejut melihat Anin yang terkulai lemah di depan pintu.
"N Y O N Y A ANIIIIN," teriak bi Ratih mengejutkan ayah Anin yang berada di dalam kamarnya.
Dengan tergopoh keluar mendapati anaknya tergeletak di depan pintu.
"Cepat panggil ambulan Bi... atau siapapun!!! satpam di depan sana, agar Anin segera kita bawa ke Rumah sakit."
"Iiiya... baik pak." Jawab Bi ratih yang gugup segugup, gugupnya.
Bak orang kebakaran jenggot, Bi Ratih berlarian ke arah depan pos jaga untuk meminta pertolongan.
Beruntung tepat saat bi Ratih di sana ada taksi online yang baru saja menurunkan penumpang. Maka, secepatnya Bi Ratih meminta sopir menjemput Anin dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
Ayah dan Bi Ratih ikut serta dalam taksi online tersebut. Bi Ratih sudah tidak dapat berpikir untuk membawa apapun kelengkapan milik Anin, saking paniknya... bahkan Bi Ratih tidak menggunakan alas kaki, saat lari terbirit-birit mendatangi pos satpam.
"Segera kamu hubungi nak Emil Bi, atau mertua Anin." Ujar ayah yang tampak bisa menguasai dirinya. Sambil teus merafalkan doa untuk anak kesayangannya.
"Bibi lupa membawa ponsel Pak." Jawab Bibi yang menyesal dengan kepanikannya.
__ADS_1
Ayah Anin masih menyimpan no kontak menantunya. Lalu dengan segera menghubungi Emil, untuk segera menyusul mereka kerumah sakit.
Taksi itu kini sudah sampai di depan halaman Instalasi gawat Darurat sebuah rumah sakit swasta tidak jauh dar kediaman Darel dan Anin.
Dengan sigap para perawat menyambut dan meletakan Anin ke atas sebuah blankar, kemudian mendorongnya masuk dalam ruangan untuk di observasi dan di tangani.
Tidak sampai 30 menit sejak kejadian itu, Darel, mama dan papanya tampak sudah hadir lengkap di rumah sakit tersebut. Dengan raut wajah yang semua tampak tegang, sebab tidak tau apa yang menjadi penyebab pinsannya Anin.
Sebab, Bi Ratih hanya berkata : "Saya juga tidak tau tuan. Tadi... bibi mau memanggil Nyoya Anin untuk makan siang, tetapi ia sudah jatuh di depan pintu kamar sambl memegang ponsel." Bi Ratih masih terbata.
"Keluarga pasien atas nama Anidyta kaililla." Panggil seorang perawat. Yang sudah mendapatkan data pasien dari ayah Anin, setelah ia masuk ke ruang IGD tersebut.
"Iya... saya suaminya." ujar Darel mendekati perawat itu.
"Silahkan masuk, ada beberapa hal yang ingin dokter sampaikan." Ujar perawat yang kemudian mengajak Darel masuk ke ruang UGD tersebut.
"Selamat siang Pa. Istri anda sudah siuman, tetapi kondisinya masih sangat lemah. Dan juga beliau mengalami kontraksi berkali-kali. Kontraksi ini berupa rasa tarikan dari perut juga sedikit nyeri bahkan semakin tak berjarak. Pasien juga mengakui bahwa beliau mengalami kram di perut bagian bawah seperti saat menstruasi, rasa itu terkadang muncul terkadang hilang.
Kemudian... maaf dari va**** beliau juga mengeluarkan darah dan cairan yang meningkat. Juga panggul beliau terasa sakit seperti ada tekanan dari dalam. Dan semua itu adalah ciri-ciri istri anda akan segera melahirkan." Terang dokter dengan seksama.
"Benar... tepat sekali seperti yang kami telah periksa, namun dengan keadaan darurat seperti ini, istri anda akan melahirkan bayi prematur. Bapak tidak usah panik, kita usahakan agar bayi bisa kita lahirkan secara normal. Tetapi jika terjadi pendarahan hebat, dengan terpaksa kita akan lakukan secara operasi cesar."
"Baiklah dokter. Lakukanlah yang terbaik agar anak dan istri saya selamat. Dan sekarang, apakah saya sudah bisa menemui istri saya dokter...?''
"Sebentar pa... nanti kami akan panggil bapak kembali. Saat Ibu sudah kami pindahkan ke ruang bersalin. Siapakan segala sesuatu keperluan bayi juga mental semuanya. Untuk menghadapi segala kemungkin terjadi, menyambut kelahiran bayi kalian." Jawab dokter dengan ramah.
Darel melangkah bagai tidak menginjak bumi. tiba-tiba ia merasa rapuh mendengar bahwa kini Anin harus siap melahirkan bahkan sebelum waktunya.
"Ma... Anin akan melahirkan." ujar Darel dengan wajah yang sangat pucat saat keluar ruangan itu dan mendengar arahan dokter tadi.
Mama segera memeluk tubuh kekar putra kesayangannya.
"Kamu akan segera menjadi ayah, percaya saja pada Allah bahwa ujiannya selalu sesuai kemampuan kalian. Kuatlah untuk Anin, yang ia sandang lebih sakit dari yang sekedar kamu rasakan. Bawa sholat sebentar nak. Jangan pernah kamu tunjukkan wajah lemahmu pada istrimu." Mama menguatkan dengan air mata yang menggenang.
Bi Ratih mereka pulangkan untuk kembali membawa perlengkapan dan kebutuhan bayi
yang memang telah Anin persiapkan, sekedar untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, tiga lelaki pelindung Anin yaitu Darel, ayah dan papa mertuanya. Tampak telah berwajah segar setelah sholat, masuk keruang bersalin untuk memberi semangat pada Anin. Sementara mama Darel tampak sudah komat-kamit di telinga Anin untuk merafalkan doa untuk menantu kesayangannya.
Tidak ada senyuman ceria di wajah Anin. Hanya bias pucat pasi menahan sakit yang semakin ia rasakan di sekitar pinggul, panggul dan perut bagian bawahnya. Semua susunan tulang di area bawahnya bahkan betisnya, semua serasa ingin patah, remuk dan terlepas dari sendi-sendinya.
Di tambah lagi dokter tampak telah menambahkan cairan induksi pada infus yang terpasang pada tubuh Anin untuk merangsang kontraksi otot-otot rahim agar Anin dapat melahirkan secara normal melalui jalur v*****.
Maka rasa sakit itu terasa memiliki ritme yang makin cepat dan semakin cepat.
Darel segera mendekati dan menciumi kening istrinya. Kemudian berkata : "Mom pasti kuat melewati ini. Daddy selalu ada saat kamu berjuang ya mom." Tukasnya yang kemudian berdiri dan menggengam erat tangan istrinya.
Anin tidak menanggapi ucapan suaminya, yang ia rasakan hanya lah lelah dan perasaan ngantuk yang begitu tiba-tiba menyerangnya.
Membuatnya ingin menyerah dan memejamkan mata bulatnya, yang telah basah karena keringat dan air mata yang mengalir begitu saja.
"Bu...ibu... jangan tidur. Jangan pejamkan matamu." Teriak seorang perawat yang juga ada untuk membantu persalinan darurat Anin.
Saat melihat Anin yang semakin lemah karena sakit yang luar biasa ia rasakan.
Bersambung...
...Eh... sumpah author tuh sambil mewek lho...
...nulis part ini.ššš...
...Kebayangkan sakitnya melahirkan tuh ke apa?...
...So' jangan pelit kasih :...
...VOTE...
...LIKE...
...GIFT...
...KOMEN...
...Yang banyak ya... ššš...
__ADS_1