
"Kenapa harus sama Gerald? Kamu suka sama dia?" tembak Darel pada Anin yang sontak kata itu membuat Anin berhenti mengunyah makanan di mulutnya.
"Bukan suka, tapi cinta." Jawab Anin sambil mengangkat dagunya ke arah Darel.
Prank Darel melepas dengan keras sendok dan garpu nya ke atas piring yang kebetulan sudah habis.
"Maksud kamu apa?" tanya Darel dengan nada marah pada Anin.
"Tapi bo'ong." Ujar Anin sambil tertawa.
"Apaaan siih kamu Nin, becanda nya ga lucu tau." Ujar Darel agak kesal.
"Ya, abis dari tadi tegang melulu. Maksudku, aku ke sana bareng Bang Ge aja, supaya aku ada temennya di sana. Kalo Bang Emil ntar asyik sama Fely kan, aku ga ada temennya." Jelas Anin memperbaiki suasana Darel yang tadi memang sempat terlihat marah.
"Kirain beneran suka sama Gerald. Ku bilangin ya, pokoknya nanti kamu harus jaga jarak sama Gerald. Udah ku bilang Gerald bukan lelaki baik-baik. Pokoknya jangan deh, dia itu penjahat wanita." Ujar Darel yang lebih terdengar posesif.
"Jiiaaah, kayak abang laki-laki baik aja. Sama aja kali." Ujar Anin yang masih suka melihat ekspresi Darel saat kesal.
"Oh, tentu saja aku lebih baik dari Gerald lah." Ucap Darel sambil memperbaiki kerah bajunya.
"Memang aku percaya, udah ah bang. Pindah ke sofa deh ngobrolnya." Ujar Anin mengusir halus Darel dari atas meja makan.
"Nin." Ujar Darel sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Hmm...apa?"
"Makanan penutupnya ada?" tanya Darel manja seolah lupa jika tadi ia baru saja kesal di buat Anin.
"Ada. Aku tadi ada buat Dessert Box Tiramisu, kayaknya udah jadi deh. Bentar ku ambilin." Ujar Anin yang sudah semakin tidak mengerti apa arti kedekatan mereka berdua yang tanpa status ini.
Beberapa menit kemudian Anin dan Darel tampak sudah menikmati desert box Tiramisu itu.
"Suka?" tanya Anin. Darel hanya mengangguk.
"Kalo aku suka banget, aku suka sesuatu yang berhubungan dengan coklat dan kopi. Kayak warna kulit ku." Terang Anin tanpa di minta. Darel hanya tersenyum senang melihat Anin yang selalu ceria di depannya.
"Eh, Nin. Desain mu sudah selesai. Boleh ku lihat?" Tiba - tiba Darel meminta Anin menunjukkan Desain yang akan ikut kompetisi.
"Ih, nanti ketahuan kalau itu karyaku, abang juri bukan sih? Nanti abang menangin Anin lagi." Ujar Anin.
"Ih.Pe-De!! Aku udah ga masuk dalam TIM, sebagai CEO aja aku sudah mengundurkan diri." Ujar Darel mencoba sedikit terbuka pada Anin.
"Lho, kok gitu. Trus perusahaan siapa yang pegang?" tanya Anin.
"Idola mu tuh, si Gerald." Jawab Darel setengah ketus.
__ADS_1
"Ouwh, benarkah? Berarti nanti aku lobby bang Ge aja, ah biar menang." Canda Anin.
"Anin!!" Lagi Darel tersulut emosinya di buat Anin.
"Ih, bang Emil darah tinggi-an deh, becanda napa bang?" Ujar Anin yang memang gemes melihat wajah kesal Darel.
Dan Darel pun sebenarnya ga serius marah pada Anin, ia menikmati sekali kebersamaanya dengan Anin, yang tidak pernah ia dapatkan pada wanita manapun, Felysia sekalipun saat mereka dalam status pacaran kemarin.
"Emang kenapa abang mengundurkan diri?" tanya Anin kembali serius.
"Aku mau fokus bantu papa jaga dan rawat mama di Bandung, Nin."
"Oh gitu. Iya sih. Kasian juga kalau papanya abang sendiri yang urus urus, secara beliau juga sudah tua kan. Jadi staminanya juga harus di jaga. Bentar ku ambil sketsa gambar ku." Ujar Anin yang melangkah masuk ke kamarnya untuk memperlihatkan karyanya yang hampir selesai.
Kemudian tampak keduanya saling bertukar argumen dan pendapat atas karya itu. Darel yang telah lebih dahulu memiiki pengalaman dalam penjurian tentu, bisa menilai lebih detail tentang karya tersebut. Tetapi bukan berarti dia mengharuskan Anin untuk merubah sesuatu yang telah di rancang oleh Anin.
Hanya lebih memberi saran dan menambahkan beberapa aksen yang di anggap perlu untuk menambah nilai jual karya itu sendiri.
"Permisi aku ambil foto desain mu ini ya." Pinta Darel.
"Belum selesai ini, main foto foto aja." Ucap Anis sewot. Tetapi Darel tetap mengambil foto desain Anin dan beserta Anin nya juga. Tanpa sepengetahuan Anin.
"Kamu benar benar ingin memenangkan kompetisi ini, Nin." Tanya Darel.
"Banget."
"Aku mau belajar di Paris. Itu cita - citta terakhirku."
"Terus kalau sudah belajar di sana lalu selesai, kamu ngapain? Masak juga kan buat suami." Pancing Darel.
"Ya kalo masak itu kodrat abang. Aku mau kayak kak Melisa, yang punya butik sendiri, di mana isinya tuh semua karya ku"
"Kalo butiknya ga laris gimana?"
"Ga mungkin lah bang, secara rancangan ku itu kan bertaraf internasional, trus aku kan punya kenalan CEO muda yang aku yakin pasti nanti mau berinvestasi di butik ku, untuk membantu kemajuan butik itu nantinya." Terang Anin bersemangat.
"Eh, Kamu jangan lupa kalo CEO kenalan mu itu tidak hanya muda tapi juga tampan lo Nin." Ujar Darel sambil tertawa terbahak - bahak.
"Ih Pe-De. Emangnya abang?" ujar Anin juga sambil terus tertawa.
"Sudah pasti itu aku." Jawab Darel.
"Pesan ku, berkarya lah dengan maksimal. Jangan terlalu percaya diri, ingat di atas langit masih ada langit. Semua orang juga ingin menjadi juaranya, maka orang lain juga memiliki seribu satu cara yang akan di lakukan untuk sebuah kemenangan tersebut. Semua pasti merasa karyanya lah yang terbaik. Siapkan hatimu untuk sebuah kemenangan dan kekalahan sekaligus. Agar kamu tidak sombong saat menang dan tidak down saat kalah." Nasihat Darel kali ini sangat bijak.
"Ih, abang bikin aku terharu."
__ADS_1
"Serius Nin, yang namanya kompetisi itu ada kalah ada menang. Dan di sini bukan hanya karya yang kamu adu, tetapi mental yang utama."
"Iya sih, makasih nasihatnya ya abang. Terima kasih."
"Jika aku ikut dalam penjurian sih, karya mu oke. Tapi, aku belum melihat bagaimana karya pesaing mu. Dan ingat dalam sebuah lomba, akan banyak tipe dan karakter orang yang mungkin akan menghalalkan segala cara. Pesan ku, hati-hati. Jangan ceroboh dan gegabah. Oke manis." Ucap Darel sambil memencet hidung bangir milik Anin hal yang paling ia suka, dan ia pastikan akan selalu ia rindukan saat mereka terpisah jarak dalam beberapa bulan kedepan.
"Ih, abang sakit tau." Ujar Anin mengelus hidung bekas pencetan Darel tadi, yang sebenarnya hal yang Anin suka dan juga akan ia rindukan pula.
"Udah malam Nin, bilang ke bapak aku pamit pulang ya." Ujar Darel yang sebenarnya masih malas beranjak dari sofa yang ia rasakan sangat nyaman itu.
"Iya, besok ku sampaikan." Ujar Anin yang juga ikut melangkah mengikuti di belakang tubuh atletis Darel.
Anin juga sebenarnya merasa enggan untuk berpisah, tapi Anin cukup tau diri lah. Siapa dia dan statusnya yang hanya sebagai seorang asisten. Dan jika ia mau memasak untuk Darel pun, menurut Anin karena Darel adalah kekasih Bosnya yang juga harus ia hormati setiap perintahnya.
Anin melangkah sambil menunduk dan melamun. Hingga ia tidak tau jika Darel yang di kiranya terus maju ke depan, tiba - tiba sudah membalikkan tubuhnya ke arah Anin.
Sontak Anin terkejut karena kini ia bertabrakan dengan tubuh Darel. Untuk beberapa detik Anin tidak bernafas. Waktu serasa berhenti berputar saat tubuh nya dan tubuh Darel tidak berjarak se inci pun.
Kemudian Anin tersadar saat mendengar suara Darel yang bibirnya menempel di daun telinga Anin. "Aku pergi dulu, jangan kangen aku ya." Ucap Darel lembut.
Anin segera menjauhkan tubuhnya dari Darel lalu berkata.
"Siapa juga yang kangen sama pacar orang." Ucapnya yang masih sangat sadar jika Darel adalah kekasih Felysia.
Darel hanya tersenyum kemudian berkata sambil memegang pucuk kepala Anin dengan lembut.
"Ingat jaga jarak sama Gerald."
"Iya bawel cepat pulang gih." Usirnya halus pada Darel. Yang sudah benar benar meninggalkannya dan masuk ke mobil.
Bersambung
...Hadooh - hadoh kok author jadi teruwu - uwu sendiri ya nulis bab ini....
...Semoga Reader juga merasakan hal yang sama....
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
__ADS_1
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...