
Apakah Bimo hanya pelarian hati Anin yang penasaran tidak mendapatkan Darel...?Anin bimbang dibuatnya.
Keesokkan harinya Anin mulai menyampaikan yang Bimo utarakan padanya. Saat mereka berdua duduk di sofa tengah rumah keluarga Pujo Arseino itu.
"Ayah..." Anin memulai pembicaraannya.
"Ada apa...?" ayah yang selalu hapal gelagat anak gadisnya jika sedang galau.
"Anin, kan di terima di Esmod Paris. Bulan April sudah mulai belajar. Dan 2 minggu sebelumnya harus sudah daftar ulang di sana. Bagaimana dengan ayah..?" tanya Anin pelan.
"Sesuai kesepakatan kita sejak awal saja. Bahwa kalau kamu khursus ayah akan ikut kakak mu saja di desa."
"Iya, aku juga sudah bilang ke kak Jovan. Nanti sekalian bawa saja mobil Anin. Biar untuk di pake Kak Jovan dan ayah."
"Iya, berarti sudah akur. Apa ada masalah lain...?" Ayah yang sudah mengerti dengan Anin yang nampak berbelit-belit jika ingin menyampaikan sesuatu.
"Itu soal mas Bimo."
"Ada apa kamu dan dia...?"
"Mas Bimo ingin mengajakku bertemu dengan kedua orang tuanya di Solo. Katanya dia serius menjalin hubungan dengan Anin dan ingin menikah." Raut wajah Anin tampak murung.
"Wah, bagus lah. Berarti tidak lama lagi ayah akan dapat menantu seorang Kapolsek." Ujar ayah terkesan bercanda.
"Jadi ayah mengijinkan jika Anin ikut bertemu orang tuanya di Solo...?" Anin masih memasang raut tidak percaya pada jawaban ayah.
"Apakah jawaban ayah terdengar mengijinkan mu?" tanya ayah lagi membuat Anin sedikit bingung.
"Rasanya tidak mungkin ayah mengijinkan Anin ikut serta?" ujarnya memandang nanar pada ayah tersayangnya.
"Kenapa kamu bertanya pada ayah, jelas - jelas itu menyangkut soal keyakinan dan ketetapan hatimu. Walau ayah larang jika kamu mau, pasti tanpa persetujuan pun kamu pasti pergi. Berbeda jika hatimu bilang tidak. Walau ayah ijinkan pun, kamu akan tetap tinggal. Sekarang ayah tanya sama kamu, hatimu berkata apa?" ayah mulai mengeluarkan kata kata bijak nya.
__ADS_1
"Anin tidak mau ayah, karena Anin masih belum yakin pada mas Bimo..." Akhirnya Anin jujur pada ayahnya.
"Mengapa saat itu buru-buru di terima?"
"Sebenarnya waktu itu Anin tidak begitu serius, tetapi mas Bimo sangat bisa mengkondisikan kata-katanya dan begitu cepat mengambil sebuah keputusan untuk kami saling menerima satu sama lain."
"Lalu, sekarang dia bahkan ingin mengajak mu menikah...? Apakah juga akan kamu terima jika lagi-lagi dia dapat mengkondisikan keadaan?"
"Tidak ayah, tidak untuk menikah. Anin perlu berkali-kali untuk berpikir jika itu menyangkut keputusan akhir untuk menikah."
"Di mata ayah, Bimo pria yang sopan, tampan, mapan dan tentu dapat di andalkan. Apa kamu masih ragu...? Ayah setuju saja jika cinta mu berlabuh pada hatinya." Anin tidak mengerti dengan arah tujuan pembicaraan sang ayah.
"Anin tidak merasakan sesuatu padanya. Kedekatan kami di desa kemarin dan berlanjut dengan hubungan jarak jauh ini, bagi Anin hanya suatu formalitas yang harus di jalani layaknya sebuah hubungan pada umumnya saja. Sejauh ini tidak ada rasa."
Ayah terkekeh mendengar penjelasan Anin.
"Ayah tidak menyangka, anak gadis ayah sudah tau maknanya cinta dan dapat mengukur kedalaman hatinya sendiri." Ujar ayah masih dengan senyum yang melebar. Membuat Anin hanya terdiam melihat ekspresi ayahnya itu.
Anin senyum penuh semangat seperti mendapatkan dukungan untuk menolak ajakan Bimo untuk bertemu orang tuanya.
"Nah, gitu dong ayah..., Anin cuma minta ketegasan dari ayah. Agar Anin juga punya pedoman untuk menolak ajakan mas Bimo."
"Tapi, apa kamu tidak menyesal ...? Mungkin saja kamu akan kehilangan kesempatan menjadi istri seorang perwira lho, Nin...!"
"Mungkin ayah saja yang menyesal kehilangan kesempatan untuk mempunyai menantu seorang Kapolsek... ha...ha...ha..." Ganti Anin yang meledek ayahnya.
"Kamu pasti sudah terlanjur kepincut sama pria yang sering ikut makan ke rumah ini kan...?" tebak ayah asal.
"Ih... ayah ngarang." Tiba-tiba ada yang berdesir di hati Anin, saat ayahnya menyinggung soal Darel pria pujaan hatinya itu.
"Tidak perlu kamu uraikan juga ayah sudah mengerti mengapa seorang Bimo yang sempurna itu susah masuk kedalam hatimu. Sebab di dalam hatimu sudah ada penunggunya. Ya kan ...?" tanya ayah sedikit memaksa.
__ADS_1
"Kalau menyangkut soal Bang Emil, Anin juga tidak berani pastikan ayah. Anin mau fokus belajar saja dulu, oke...?" Anin mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Iya terserah kamu saja, di mana hatimu senang. Ayah hanya menggiring dan mungkin sesekali meniup pluit jika dalam perjalanan mu terjadi pelanggaran." Lagi-lagi ayah seolah menganggap semua ini adalah lelucon.
"Memangnya Anin lagi sepak bola apa...??" Anin menanggapi ayah dengan candaan yang ringan.
"Hampir seperempat tahun usiamu hanya kamu habiskan untuk berjuang, dengan peluh dan air mata juga tidak demi dirimu sendiri, melainkan untuk ayah yang mestinya membahagiakanmu. Doa ayah di tahun-tahun berikutnya kamu lah yang di bahagiakan oleh orang lain dan keluargamu. Untuk itu, jangan cepat mengambil keputusan terutama tentang pada siapa hatimu kamu serahkan. Usia hidup bersama orang tua dapat di ukur paling banter sampai 25 tahun, itu pun bukan kamu yang memilih karena sudah jadi takdirmu menjadi anak ayah. Tetapi, usia hidup bersama pasangan tidak dapat di kira akan selama apa, untuk itu hiduplah dengan orang yang benar mau bersepakat berbahagia bersamamu."
Anin hanya dapat memeluk ayahnya penuh sayang. Anin sangat bersyukur walau sudah tidak memiliki ibu, tetapi ayah yang masih di ijinkan Tuhan hidup bersamanya mampu menjadi ibu sekaligus sahabat yang dapat Anin andalkan.
Segera Anin mengabarkan pada Bimo perihal ia tidak bersedia juga tidak di ijinkan ayah untuk ikut ke Solo. Dengan alasan banyak yang harus Anin persiapkan untuk urusan kelanjutan studinya walaupun hanya setahun.
Tetapi nampaknya Bimo tidak puas dengan alasan itu, maka ia tetap menemui Anin dan meminta ijin langsung pada ayah Anin. Kini, Bimo tampak lebih sering meninggalkan desa hanya demi bertemu dengan Anin yang lumayan jauh, memakan waktu kurang lebih 7 jam. Tetapi seolah ingin menunjukkan keseriusannya, Bimo tidak perduli akan jarak yang terbentang itu.
Hari itu, di minggu keempat di bulan dua tahun itu. Bimo telah nampak muncul dengan mobil dinasnya di halaman rumah Anin. Kali ini ia datang tidak sendiri, terlihat ia beserta dengan supir yang juga merupakan anak buahnya.
Anin selalu menyambut Bimo dengan ramah dan terkesan senang. Membuat Bimo yakin jika Anin benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya.
Bersambung
...Mohon dukungannya š...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih ššāļøš¹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
__ADS_1
...Terima kasih...