DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 124 : PERUBAHAN ANIN


__ADS_3

"Ih...sombong amat. Pake acara ga bisa ngitung kekayaannya katanya. Itu namanya riya, Bee!!!" Sarkas Anin pada suaminya itu.


"Bercanda mom, aku sangat setuju dan mendukung dengan pilihanmu itu. Semoga di tempatkan di Bandung. Biar kita ga repot-repot lagi harus pindah ke mana-mana." Doa Darel.


Sebulan berlalu setelah kembalinya Darel ke tanah air.


Kini, ia kembali mengatur jadwalnya untuk berangkat ke Paris. Dan lagi, bukan hanya sekedar menemui Anin, sebab perusahaanya mendapat panggilan interview pada perusahan yang ingin berpatner dengan perusahaannya.


Tidak menunggu waktu yang lama, Darel segera mendelegasikan semua pekerjanya pada Vino dan juga Nindy. Dan Kali ini ia hanya berangkat sendiri. Mengingat kini sudah berada di akhir tahun, sehingga ia bisa sekalian menghabiskan tahun ini bersama Anin hingga awal tahun menjelang.


Darel di kejutkan dengan suasana apartemen yang tidak serapi biasanya. Dapur mereka tampak berdebu, seolah Anin sudah berhari-hari tidak beraktifitas di sana. Saat itu Darel berpikir, mungkin istrinya benar-benar sedang sibuk menyelesaikan Tugas Akhirnya, sehingga tidak punya waktu untuk memasak atau sekedar bersih -bersih rumah.


Darel yakin istrinya sedang di kamar mereka, Darel mengurungkan niatnya untuk masuk kamar itu. Dan memilih mandi terlebih dahulu di kamar mandi yang berada di luar kamar mereka.


Kini tubuh Darel hanya di tutupi handuk putih di pinggangnya, pelan-pelan ia membuka kamar yang ternyata tidak terkunci.


Nampak di sana istrinya sedang terlelap tidur, sekilas Darel melihat melirik waktu yang tertera pada jam dinding di kamar itu, pikul 5 sore waktu Paris.


Segera Darel mengambil celana boxer kemudian memakainya.


Masih dengan gerakan yang sangat hati-hati ia duduk di tepi ranjang di mana Anin tertidur sangat pulas.


"Mom... bangun hampir magrib. Siap-siap sholat yuk." Berulang ulang kata itu Darel ucapkan. Sambil mencium seluruh permukaan wajah istrinya.


Anin memicingkan matanya, seolah tak percaya bahwa kini suaminya yang ada di hadapannya.


"Kamu sudah datang Bee." Ucapnya langsung menyundul kepalanya ke dada bidang suaminya itu.


"Mandi ... trus kita sholat." Perintah Darel pada istrinya. Yang kemudian di ikutinya dengan patuh.


Selesai melaksanakan kewajiban umat muslim itu, kini Darel tampak sibuk di dapur kecil apartemen itu.

__ADS_1


Belum sampai Anin melangkah ke arah Darel, terdengar suara Darel pada istrinya.


"Mom... malam ini aku saja yang memasak untuk kita ya. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sibuk sekali, sampai dapur ini berdebu.


Mom... ga pernah masak...?" tanya Darel sambil tampak sibuk mengolah makan malam sederhana untuk mereka berdua.


Lagi-lagi Anin hanya diam menuruti sesuai perintah suaminya. Hingga beberapa menit kemudian, tercium aroma yang membangkitkan selera Anin. Sontak ia melangkah setengah berlari menghampiri suaminya, Sebuah hidangan sederhana Makaroni Sosis Saus Asam Pedas, tampak begitu menggiurkan bagi Anin.


Darel segera melepas celemek yang ia gunakan, duduk di kursi makan lalu meraih Anin untuk duduk di pangkuannya. Hidangan itu masih panas, terlihat dari asap yang masih mengepul di atasnya, sehingga mereka harus menunggu beberapa saat agar hidangan itu dapat di nikmati dengan lebih nyaman.


Darel menggunakan kesempatan menunggu itu dengan menjilat dan menggigit kecil permukaaan kulit leher Anin yang telah berada tepat di depannya.


"Bee... " Panggil Anin dengan suara yang sangat pelan tanpa gairah.


"Kenapa...?"


"Geli... kita makan ini saja dulu. Tunda dulu makan aku nya." Kelakar Anin mencoba untuk bercanda.


Darel hanya tertawa menanggapi ujaran istrinya yang kini memang semakin pintar dan mengerti kebutuhannya.


Darel adalah lelaki normal yang selalu berhasrat apalagi melihat dan dekat dengan istrinya. Tetapi, ia juga bukan pria bejat yang dengan sesukanya memaksakan kehendak pada istrinya.


Sehingga malam itu mereka habiskan untuk benar-benar tidur berpelukan sampai pagi datang.


Sudah dua hari Darel di Paris, iapun melihat sendiri betapa istrinya tenggelam dalam tumpukan kertas-kertas yang ia sendiri tak dapat berbuat banyak untuk membantunya.


Membuat, lagi-lagi Darel tidak berani menyentuh atau sekedar menggoda istrinya untuk meminta haknya sebagai seorag suami.


Tetapi Anin mengerti akan kebutuhan suaminya. Sehingga ia pun berkata : "Bee... mainnya sekali saja ya dan jangan lama, aku masih banyak pekerjaan yang belum selesai dan juga cape."


Tidak ada jawaban dar Darel, sebab sekejap saja. Kini bahkan mereka telah melakukannya di atas sofa tengah ruangan apartemen itu.

__ADS_1


Darel menepati permintaan Anin, tidak lama dan sekali saja. Sebab, Darel merasa tidak bergairah tatkala ia merasa Anin tidak merespon cumbuan nya dengan maksimal seperti biasanya yang begitu terasa membara.


Pagi itu, Darel kembali terlihat sudah rapi dengan setelan jasnya. Untuk memenuhi panggilan dari perusahaan milik Santy. Anin tampak lemah dan sedikit pucat, memaksakan dirinya untuk melayani suaminya. Menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Mom, tidak usah di kerjakan jika memang memberatkan mu. Aku bisa melakukannya sendiri. Dan untuk tugas kuliahmu, carilah orang yang bisa membantumu menyelesaikannya. Aku tak suka melihatmu sakit dan lemah seperti ini. Kamu seperti bukan Anin yang ku kenal dulu. Anin yang rajin, periang dan penuh semangat. Aku merasa tidak berguna di sini jika hanya merepotkanmu." Darel berkata dengan pelan sambil menyelipkan anak rambut yang tampak berantakan di sekitar wajah istrinya.


"Maaf Bee, aku juga tidak tau mengapa begitu merasa lemah. Padahal pekerjaanku tidak begitu berat. Tapi seolah itu seperti beban yang sangat besar."


"Apa kamu sakit...?" tanya Darel menempelkan punggung tangannya pada kening istrinya.


"Tidak... Bee aku baik-baik saja. Hanya rasanya malas sekali untuk memasak dan melakukan tugas rumah seperti biasa. Aku sekarang lebih suka tidur, pekerjaaan itu terlihat berantakan, bukan karena aku tak bisa mengerjakannya, tetapi karena waktuku banyak terbuang karena aku tertidur di atas tumpukan tugas itu."


"Ha...ha...ha. Perasaan yang aneh. Seolah-olah istriku berubah menjadi seorang yang pemalas." Ujar Darel menyeringai.


Anin hanya mengangkat kedua bahunya. Sementara Darel sudah tampak sibuk menyuapi istrinya dengan roti panggang.


"Mungkin itu tanda-tanda si to'ing mau liburan lagi Mom. Si iteung mau berdarah lagi...!!!" tebak Darel asal.


Mendengar hal itu, membuat Anin segera mengarahkan tangannya pada perut bagian bawahnya dan meraba sesuatu di sana.


"Astaga...!!!" pekiknya.


Bersambung..


...Mohon dukungannya šŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat author harapkan lho...


...Kasih šŸ‘šŸ’ŒāœļøšŸŒ¹...

__ADS_1


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...


__ADS_2