DI BALIK LAYAR

DI BALIK LAYAR
BAB 44 : MENGIKUTI PERMAINAN


__ADS_3

Darel tampak mengambil ponselnya, untuk menghubungi seseorang.


"Keruangan ku sekarang!" perintahnya, tentunya itu panggilan untuk Gerald asisten andalan Darel.


"Ada apa ?" tanya Gerald yang langsung duduk di sofa pada ruangan Darel.


"Nih, kamu dengar sendiri." Ucap Darel menyerahkan ponselnya yang isinya rekaman obrolan Felysia dan Anin. Kemudian Darel mengecek dan menanda tangani beberapa berkas yang sudah menunggu jamahannya sejak pagi.


"Jadi selama ini kamu chat nya sama Anin dan kencannya sama Fely? Ha ha ha." Gerald tampak tertawa terbahak bahak melihat Darel yang hampir tertipu oleh dua wanita sekaligus.


"Jadi aku harus gimana?" pertanyaan polos keluar begitu saja dari mulut Darel.


"Santai Bro. Kamu tidak bisa langsung melabrak mereka. Karena cara kamu mendapat info itu ilegal. Kita ikuti saja dulu permainannya." Ujar Gerald.


"Aku kecewa Ger, benar benar kecewa setelah tau yang sebenarnya."


'Ya, itulah kenyataan yang harus kamu tau. Sebelum semuanya terjadi."


"Aku malah ga nyangka ternyata Anin memang melakukan segala cara untuk mendapatkan uang." Umpatnya kecewa.


"Tapi kan dia menolak di kasih mobil itu, Dar. Bahkan uang 300jt itu pun secara paksa di terimanya."


"Dia bisa saja mengirimnya kembali ke rek Fely!!" ucapnya dengan nada suara yang meninggi.


"Sebenarnya kamu kecewa sama Fely


atau Anin Sih?" Gerald memandang sahabatnya itu dengan wajah bingung.


"Anin itu tidak lebih dari aku. Kami adalah asisten. Apa kamu pikir kami punya pilihan untuk tidak melaksanakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan hati nurani kami. Selain tunduk, hormat dan patuh pada perintah Bos kami?


Di suruh terjun ya terjun, di suruh mati pun rela!!" lanjut Gerald tak kalah emosi.


"Sorry... sorry Ger. Aku emosi, iya aku kecewa dengan kenyataan yang sesungguhnya. Felysia benar simpanan orang. Dan Fix dia matre!!!"


"Nah..itu baru bener!! Tadi seolah kamu malah kecewa karena Anin. Kamu malu kali, ternyata sudah chat an sama asisten aja?"


"Ya, Anin juga matre kali?"


"Beda lah Dar, ini beda kasus. Anin itu wajar dapat uang, karena Felysia sendiri yang sudah menjanjikannya. Dan sangat jelas, dia bahkan menolaknya. Coba nanti aku pancing Anin deh, buat ngaku. Apa sebenarnya yang terjadi." Ujar Gerald.


"Tidak usah Ger. Iya aku percaya saja Anin melakukannya karena terpaksa, karena setia pada pekerjaannya."


"Nah gitu donk. Tapi ku sarankan, kamu jangan serta merta menjauhi Felysia. Anggap saja kamu tidak tau. Lebih baik kamu sendiri yang menangkap basah keburukannya. Atau boleh lah sesekali kamu cicipi dulu tubuhnya, supaya dia merasa bahwa kamu memang tercipta untuknya."


"Gila emangnya aku sudi melakukan itu dengan nya? Barang bekas bro!! ucapnya seolah jijik.


"Dia cantik lo Dar, sexy lagi. Aku sih ga nolak kali di kasih, gratis lagi ha ... ha... ha.!!! Ledek Gerald.


"Itu siih kamu. Tapi Ger, aku takut lho lama lama deket dia. Sukanya main peluk peluk, cium cium, pangku pangku. Hiiih... horor gue!!" Darel bergidik membayangkan kebersamaan yang sering ia lakukan bersama Felysia.


"Kenapa? Takut si To'ing mu khilaf yaah??" Gerald masih meledek Darel yang wajahnya mulai memerah karena malu.


"Udah lah... sampe kapan kamu jaga keperjakaan mu itu hah? Tapi, udah pecah di mulut kali." Gerald masih meledek Darel dengan tawa nakalnya.


"Udah udah, sana balik kerja keruangan mu" Usir nya pada Gerald. Dan Darel pun kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Tak lama ponselnya berbunyi. Darel tampak tersenyum, melihat ponselnya.

__ADS_1


"Walaikumsallam Ma." Jawabnya lembut pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Sayang, maaf mamah ga sempat berpamitan sama kamu. Mamah sekarang sudah di Bandung lagi sayang."


"Iya, ga apa - apa mah. Minggu kemaren aku juga banyak kesibukan, jadi ga sempat mampir ke rumah kak Mel."


"Iya kamu sibuk pacaran kan." Kini mama Darel lagi yang mulai meledek nya.


"Ah...,tidak juga mah" Kilahnya.


"Sayang, mama hanya sekedar mengingatkan. Siapapun yang kamu pilih antara mereka berdua, mama tidak berhak menentukan. Semua jawaban ada dalam hatimu sendiri. Pikirkan lagi, siapa yang layak menjadi ibu dari anakmu. Jangan tergesa - gesa dalam mengambil keputusan. Maafkan mama, jika selama ini mama seolah mendesak mu dalam urusan pernikahan. Sejak sekarang mama akan berhenti memburu mu soal itu. Mama percaya dengan mu, kamu pasti sudah dewasa dalam menentukan pilihanmu." Tidak biasanya mama menelpon Darel seperti ini.


"Mah, maaf jika aku selama ini lebih mementingkan pekerjaan dari pada pernikahan seperti yang mama nantikan. Tapi, kali ini Emil janji sama mama, Emil pasti akan mendapatkan istri yang tepat."


"Sebenarnya mama sudah memilih satu di antara keduanya. Tetapi mama masih mau melihat pilihanmu terlebih dahulu."


"Katakan saja, siapa yang mama pilih jadi menantu mama."


"Tidak sekarang, mama lebih menghargai pilihanmu sayang. Semoga pilihan kita sama dan di ijinkan Allah."


"Katakan sekarang saja Ma, Emil siap menikahi wanita yang mama pilihkan."


"Tidak sayang, ujilah dahulu kedua wanita mu itu. Atau berilah waktu lagi, mungkin kamu akan di pertemukan dengan wanita selain mereka. Jika mama boleh meminta, menikahlah di usiamu yang ke 30."


"Sudahlah ma, mama katakan saja Felysia atau Anin?"


"Tidak mama tidak akan jawab sekarang. Bawalah nama mereka dalam sholat mu. Tenangkan pikiranmu. Mama akan menunggu. Assalamualaikum sayang." Mama pun menutup sambungan telepon itu.


"Walaikumsallam." Ucap Darel dalam hati.


Sungguh obrolan yang tidak biasanya yang Mama lakukan dengannya. Tak pernah mama seserius ini bicara dengannya. "Lalu, siapa sebenarnya antar keduanya yang mama pilih? Apakah mama menyukai Felysia karena ia cantik yang sudah tentu keluarganya pun kini berstatus sama dengan mereka. Atau Anin, karena kesederhanaanya? Tetapi dari keluarga yang biasa saja? Apa mama tidak malu punya menantu orang biasa seperti Anin?" Darel masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Anin, lagi ngapain?"


"Lagi masak Bang Ge."


"Wah, pasti enak ya."


"Insyaallah. Tapi kalo buat ayah, masakan ku ga bisa enak Bang, pasti selalu hambar."


"Kok, gitu?"


"Iya, buat ayah kasih yang rendah garam dulu. Dan menghindari yang goreng goreng. Jadi kalo masak buat ayah tuh, sayurnya direbus, kukus aja. Ikannya di panggang. Supaya kesehatan ayah semakin membaik."


"Kamu belajar jadi perawat atau koki juga ya Nin, waktu sekolah?"


"Google bang, semua info itu bisa di dapat di sana dan aku cocokan dengan saran dokter."


"Kerjaan sama Fely gimana Nin?" pancing Darel.


"Aman, tinggal 2 agency lagi yang masih terikat kontrak. Eh, 3 sama kontrak perusahaan Bos nya Bang Ge."


"Berarti sekarang lagi ga sibuk?"


"Ga sibuk apaan, desain buat kompetisi bulan depan belum kelar. Jahitan buat Ka Jovan dan mbak Winda juga baru 20% tersentuh, semoga semua selesai tepat waktu."


"Semua di kejar waktu ya Nin."

__ADS_1


"Ga apa. Aku suka kerja gini. Jadi kalo dah mepet tuh, otakku makin encer bang."


"Apa Fely sering mengganggu waktu mu?"


"Aku asistennya Bang. Kita berdua sama, apa kita punya alasan untuk menolak pekerjaan, saat kita sudah menyetujui bekerja untuknya."


"Iya sih, memang. Maksudku, apakah di luar pekerjaannya sebagai model, dia juga sering mempekerjakanmu dalam urusan pribadi?"


"Bang Ge, kita ga usah ngomongin tentang orang lain boleh?"


"Oh, iya maaf aku lupa. Ku kira dia juga suka cerita soal pribadinya. Eh, sekarang mereka kayaknya udah makin deket ya?"


"πŸ€—πŸ˜. Kalau itu aku tau, iya. Kayaknya dia sedang falling love"


"Nah, tuh ngomongin orang πŸ˜€"


"Itu bonus Bang, spesial buat Abang🀭"


"Anin, udah mateng blom. Mau dong masakan mu."


"Beneran mau, ada nih yang rasa normal.


Ku kirim via ojol boleh?"


"Beneran, ada buat 2 porsi cukup ga?"


"Cukup dong. Kok 2 buat siapa?"


"Buat si Bos juga lah, nanti dia ngiler."


"Apa dia mau makan makanan biasa.


Kalo kita kan setara Bang."


"Ih, apaan siih. Si Bos baik hati dan tidak sombong kok orangnya." Ketik Darel sambil senyum sendiri. Dan benar saja, ternyata chat dengan Anin memang bisa membuatnya lupa dengan kegalauannya tadi, ya. Walaupun hanya sebagai Gerald.


...Uwu...uwuuu...uwu....


...Ciee yang bakalan dapat kiriman makan siang...


...Bahagia banget niih...


...πŸ€­πŸ˜πŸ€—...


Bersambung


...Mohon dukungannya πŸ™...


...Komen kalian...


...Sangat autor harapkan lho...


...Kasih πŸ‘πŸ’ŒβœοΈπŸŒΉ...


...seikhlasnya yaa...


...Biar makin semangat...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2