
"Abang...kita kemana niih?" tanyanya yang saat mereka sudah berada di dalam sebuah mobil, yang Ani tidak tau dari mana dan mau kemana.
"Kemana aja lah pokoknya... ini kencan pertama kita kan mom..?"
Anin merengut, tiap mendengar panggilan itu dari Darel, ia merasa Darel terlalu lebay. Sehingga ia hanya diam, tidak mau menanggapinya.
"Aku lupa tanya... hari ini eneng ga ada jadwal khursus...?" tanyanya yang baru ingat menanyakan perihal khursus Anin.
"Anin, libur 1 minggu. Sejak kamis lalu. Jadi Rabu baru masuk."
"Waduuh... kenapa aku ga tanya dulu ya... tau ada liburnya. Mending ku belikan tiket buat pulang ke Bandung. Lumayan kan bisa santai di rumah."
"Siapa juga yang cuek sama aku selama ini."
"Situ nya, gengsi banget. Hubungin duluan kenapa...?"
"Malu lah Bang. Secara abang itu horang kaya, CEO muda, tampan, dan baik kaan...? Siapalah aku yang hanya seorang mantan asisten, mantanmu." Jawab Anin sambil memanyunkan bibirnya.
"Neng...bibirnya ga usah di buat gitu. Abang ga tahaaaan." Ujarnya yang kini sudah menggandeng tangan Anin untuk mengikuti langkahnya.
Darel tidak ingin melewatkan momen kebersamaannya dengan wanita kesayangannya ini.
Mereka tampak sedang menikmati makan siang mereka di dalam sebuah kapal layar yang melintasi sepanjang Sungai Seine. Yang merupakan Tempat Wisata romantis kedua setelah menara Eiffel di Paris.
Darel benar-benar telah mengatur lokasi yang akan ia kunjungi bersama Anin. Mungkin beberapa waktu yang lalu ia salah, telah banyak membuang kesempatan untuk meresmikan hubungannya dengan Anin, bahkan Anin sempat menautkan hati pada Bimo.
Tapi, untuk kedepan. Ia tidak mau lagi menyia-nyiakan semuanya.
Darel sudah berjanji untuk membahagiakan Anin dengan semampunya. Itu janjinya pada ayah Anin juga pada dirinya sendiri.
Ia tidak ingin melihat mata Anin menangis sedih lagi. Ia hanya ingin menyaksikan bola mata itu berkaca karena terharu bahagia.
"Suka Neng...?"
"Banget bang, makasiih yaa." Jawab Anin yang memang tidak dapat menutupi rona senang di mimik wajahnya.
"Suka di sini atau di Indonesia...?"
"Dimana aja asal sama abang....a...a...gubrak!!Keceplosan eneng nya." Canda Anin.
"Makin pintar jawab ya... sejak jadi pacar abang."
"Ya... namanya juga hasrat terpendam." Ucapnya sambil membuang muka, pura-pura asyik melihat pemandangan yang sangat indah di Sungai Seine itu, sambil menahan malunya.
"Mom... sejak kapan siih suka sama Daddy." Ujar Darel makin absurd.
"Belum muhrim sayang...!!!" ucapnya lembut di dekat telinga Darel. Yang tentu memudahkan akses bagi Darel menempelkan bibirnya sebentar pada pipi Anin. Cup.
__ADS_1
"Ih... abang. Nyosor terus."
"Mubazir Neng udah deket tadi..." Ucap Darel bangga.
"Neng...serius. Suka sama abang sejak kapan...?" tanyanya setengah memaksa, dengan posisi tangan yang tak lepas menggenggam jari Anin.
"Kasih tau ga ya...lupa siih. Mungkin baru tadi malam kali." Bohong Anin.
"Masa...? Kalo aku siih, kayaknya sejak sering ketemu di butik deh." Darel mencoba serius, mengungkapkan perasaannya.
"Bohong banget. Kalo sejak ketemu di Butik, kenapa abang malah jadian sama Fely. Bukannya kita lebih duluan ketemu di butik ketimbang pertemuan abang saat reuni...?"
Sewot Anin.
"Iya sih. Kan aku kasih tak sampai sama Fely.
Maafin abang ya..." Ucapnya sesekali mengecup punggung tangan Anin.
"Maafin buat apa? Abang ga salah kok."
"Itu...karena abang pake jadian dulu sama Fely. Mestinya, abang jangan tergoda lagi sama dia. Langsung mantapkan hati aja pilih kamu." Jawabnya.
"Ya... namanya juga CLBK... Cinta Lama Belum Kelar. Wajar aja di selesaikan dulu. Tapi, sekarang apa masih penasaran sama Fely ...?" giliran Anin yang memastikan hati Darel.
"Jamin ... kamu cinta terakhirku." Darel mengangkat dua jarinya untuk bersumpah janji.
"Kita sama - sama merawatnya ya cintaku." Pinta Darel sungguh-sungguh.
"Siap Bee."
"Naah...tuh lebih enak di denger timbang abang doang. Panggil aku Bee terus ya Lov."
"Perasaan dari semalam sibuk ngurus panggilan aja deh nii orang." Sarkas Anin setengah bercanda.
"Biarin... namanya juga baru jadian. Jadi masih serasa mimpi gitu.
Lov liburnya lama..., ke Indonesia yuk."
"Iih... sisa 3 hari ini liburnya. Mana puas, lama di jalan aja. Ntar remuk aja ini badan."
"Liburnya kapan lagi Lov...?"
"Tergantung pelajarannya selesai siih, bisa 2 sampai 3 bulan. Kayaknya di September ada libur lagi agak lama, soalnya persiapan masuk ke level akhir. Oh iya... aku belum bilang ya. Aku kemungkinan sampe akhir tahun aja. Ga sampe 1 tahun."
"Kok bisa...?"
"Iya bisa lah, abang lupa. Kalo calon istrimu ini adalah gadis yang pintar, periang dan rajin belajar. Jadi pas regis ada di tes, lalu aku langsung masuk kelas lanjutan, ga dari kelas dasar." Jawab Anin sedikit menyanjungkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Percaya ... lah. Calon istriku ini the best dah pokoknya." Kini Darel tampak telah berdiri dengan meraih tangan Anin agar mengikutinya.
"Kemana lagi Bee...?" tanya Anin manja.
"Masih ada satu tempat lagi yang wajib kita berdua kunjungi Lov." Jawabnya yang kini tanpa ijin dan rasa malu terus menempelkan tangan kekarnya di pinggang ramping Anin.
"Bee...kapan pulang?" tanyanya pelan.
"Mungkin besok, tergantung kamu aja sih Lov. Kalo minta aku bertahan. Ya... pasti aku bertahan. Kenapa...susah pisah ya?" tanyanya percaya diri.
"Buruan pulang aja Bee... Aku takut tergoda kalo selalu di giniin." Ujar Anin sambil memegang tangan yang masih melingkar itu.
"Tapi suka kan...?"
"Nyaman... tapi takut kebablasan." Jujurnya pada Darel.
"Iya... aku tau maksudmu Lov. Tapi, bukannya aku udah bersedia jadi lelaki yang akan menjaga dan melindungi mu. Aku sangat mencintaimu Lov. Jika, memang aku ingin merusak mu kenapa tidak saat kita di villa atau di rumah sakit Puncak. Banyak kesempatan kok, saat itu." Ujarnya menguraikannya.
"Hmm... dan sejak itu. Aku sudah sangat sadar bahwa aku telah jatuh cinta pada seorang Darel Emilio Aswindra." Kali ini Anin berkata dengan lantang.
"Sudah sejak itu lov...? Maafkan aku yang tidak peka ya. Habis...kamu kayaknya datar gitu"
"Datar... situ yang sibuk sama si DIA." Lagi-lagi Anin kesal.
Darel kembali tersenyum, senang. Karena akhirnya ia dapat pengakuan hati seorang Anin.
Kini mereka berdua telah tiba di tempat tujuan yang telah Darel rancang sebelumnya. Mereka telah berada di Gembok cinta, Paris.
Yang sangat terkenal berada di jembatan Arts dan jembatan Archevêché. Gembok cinta ini digantungkan terkunci oleh dua sejoli yang kasmaran. Tujuannya ialah agar cinta mereka terkunci abadi. Di gembok yang terpasang, tampak terlihat nama yang tertulis, unik memang memercayakan sebuah gembok untuk kelanggengan hubungan percintaan.
Darel dan Anin pun, ikut melakukan tradisi tersebut. untuk mengunci hati mereka satu sama lain, agar tidak akan terpisahkan untuk selama mungkin.
Bersambung...
...Ea...ea..ea...
...Terbayar ya... ke-LoLa-an si babang Darel selama ini...
...Dan semua kaum hawa ingin menjadi Anin🤭...
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian...
...Sangat author harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
__ADS_1
...seikhlasnya yaa...