
" Lho Mik, kok ada disini?" , pertanyaan Bianca memecah lamunan Reeneta.
Bianca sedang berjalan beriringan dengan Jordy menuju arah Reeneta. Wajah Jordy menunjukkan ketidaksukaannya pada Miko yang duduk tepat di samping Reeneta.
" Ehh hai , Kak Bianca?aku ada suatu urusan kak disini" , kata Miko sambil berdiri menyapa Bianca.
" Kalian saling mengenal? ", tanya Bianca pada Miko dan menunjuk Reeneta.
" Sepertinya ini adalah laki-laki yang takut pada laba-laba itu kan? ", kata Jordy cepat.
" Kalian kenal?", tanya Bianca kini memandang Jordy.
" Iya kak kemarin saat di acara pernikahanmu kami tidak sengaja bertemu", jawab Jordy.
" Sepertinya dunia memang sempit sekali yaa", kata Bianca.
" Lalu kak Bianca ada acara apa disini? ", tanya Miko.
" Aku aku dan Reeneta sedang ada project besar di perusahaannya Jordy ini Mik", jawab Bianca.
" Oh iya, ini Miko adalah pengacara muda di tim nya. Arnold, mungkin kamu juga seumuran dengan Jordy ya Mik sepertinya ", sambung Bianca.
" Oh jadi pengacara ya" , kata Jordy tanpa terlihat tertarik sama sekali.
Reeneta yang mengenal Jordy luar dalam tahu jika saat ini wajah Jordy sedang menahan kesal pada Miko. Entah mengapa tapi Reeneta tahu Jordy merasakan cemburu pada Miko. Reeneta hanya tersenyum kecil.
" Baiklah jika begitu, Kak Bi, kita pulang sekarang ?" tanya Reeneta dan di iyakan langsung oleh Bianca.
Setelah saling sapa Bianca dan Reeneta berjalan berlalu meninggalkan gedung Grow.bag. Miko yang sepertinya sangat penasaran tentang Jordy dan Reeneta membuka obrolan dengan Jordy .
" Ahh, maaf yaa soal kejadian laba-laba tempo hari", kata Miko basa - basi.
" Santai saja, aku Jordy, maaf tadi nama mu Miko?", tanya Jordy.
" Iyaa benar, jika saya tidak salah tebak, anda pasti direktur Grow.bag ?" , tanya Miko.
" Lebih Tepatnya, salah satunya,eh, tapi apa yang membuat mu kemari?" , tanya Jordy lagi.
" Aku mengambil tasku yang ketinggalan di mobil kemarin, untung saja disini ada fasilitas saving nya, jadi apapun barang customer yang ketinggalan bisa di claim, aku benar-benar mengagumi aplikasi ini " , jelas Miko.
" Syukurlah kalau begitu" , jawab Jordy puas
__ADS_1
" Ahh saat ingin keluar dari sini aku melihat Reeneta, jadi ingin menyapanya juga, maka dari itu...", Miko menghentikan ucapannya karena Jordy memberikan isyarat akan menerima panggilan telepon.
Tringg...Tringggg...
Suara hp Jordy berbunyi, memecah kecanggungannya.
" Baik Nin, tolong aturkan saja untuk besok Senin, maaf mengganggu hari Sabtu mu yaa.." , ucap Jordy pada penelepon di seberang dan lalu mematikan hp nya.
" Ahh kalau begitu pak Miko, saya harus masuk ke dalam, semoga lain kali kita bisa mengobrol kembali" , kata Jordy sambil menjabat tangan Miko penuh arti. Jordy melenggangkan langkahnya memasuki gedung, sedang Miko langsung pergi keluar karena memang sudah tak ada urusan di sana.
" Ada apa , kenapa kau tekuk wajah ganteng mu itu?", tanya Aldy pada Jordy saat memasuki ruangannya.
Aldy sudah duduk di sofa dengan memandangi laptop miliknya ,nampak mengecek sesuatu.
" Aku tadi lihat ada laba-laba menyebalkan", kata Jordy ogah ogahan.
" Laba- laba? ", tanya Aldy heran.
" Sudahlah .. bagaimana? semua lancar?", tanya Jordy.
" Tentu saja, serahkan padaku", ucap Aldy.
Jordy menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya terpejam, pikirannya melayang layang,menerka nerka hari esok.
---
" Apa semuanya sudah siap kak? ", Reeneta membuka pintu mobil milik Bianca.
" Arnold, baru saja mengirimkan pesan, tinggal finishing, daannn.. kanu tau apa...? " , Bianca menghidupkan mesin mobilnya.
" Apa?" , tanya Reeneta penasaran.
" Tapi kamu kenapa kaku sekali sih pada Jordy?", tanya Bianca. mobil melaju pelan. Bianca masih belum sepenuhnya hafal jalannya di kota Global.
" Ish.. ", jawab Reeneta kesal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tau topik ini akan sama seperti nasehat nasehat Bianca sebelumnya.
" Reeneta.. berdamai lah dengan dirimu sendiri. Tidak ada gunanya kamu selalu protes dan dendam dengan masa lalu", ucap Bianca dengan bijak.
Reeneta masih terdiam, ia tak tahu harus bicara apa. Otak dan hatinya kini benar-benar tidak bisa sinkron. Berdamai dengan diri sendiri adalah hal paling sulit untuknya.
" Nanti akan kupikir kan lagi", ucap Reeneta datar.
__ADS_1
" Jika kamu ingin keseriusan Jordy, bukankah kamu sudah melihatnya? Ia langsung terbang ke NewJ saat tau kamu disana. Jika kamu ingin kesetiaan Jordy, itu juga sudah terbukti kan? selama tiga tahun ini ia tak pernah mencari pengganti mu. Lalu apa lagi yang ingin kamu cari Reen?", ucap Bianca.
" Janji, " , kata Reeneta parau.
" Kamu memang keras kepala Reen. Makanya obrolkan berdua dari hati ke hati dong..." , pinta Bianca.
" Sudah.. dia mau nunggu aku kok ", kata Reeneta.
" Tapi kamu gak pernah jujur kan apa yang selama ini kamu rasakan? come on", Bianca memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah kompleks pertokoan dengan ruko dua lantainya. Sedang Reeneta tak menggubris omongan Bianca, ia sibuk memperhatikan sekeliling.
Dari parkiran ini saja sudah terlihat , mobil mobil mewah berjajar dengan rapi. Benar juga yang dikatakan Aldy dan Qaila , jika kompleks ini memang untuk kalangan atas.
" Aku dan Arnold, sebenarnya hanya ingin mempertemukan kalian saja, sisanya biar kalian yang tentukan sendiri. Mau kembali bersama, atau mau berpisah sekalian. Ahh, sebenernya juga, aku tidak begitu ingin mencampuri urusan kalian. Tapi melihat Arnold yang kadang masih suka merasa bersalah , aku jadi ingin mempersatukan kalian,agar Arnold juga gak lagi merasa bertanggung jawab. Gemass rasanya" , jelas Bianca sambil tertawa.
" Maaf yaa kak", kata Reeneta lirih.
" Santai, aku mengerti, Semua ini tidak mudah untuk mu. Tapi ingat ini, yang menderita disini bukan kamu saja..", hati Reeneta bergetar.
" Sudah Ayok turun, kita harus melihat apa yang kurang dari kantor baru kita. Ku harap Senin kita sudah bisa mulai bekerja disini", ucap Bianca.
Reeneta keluar dari mobil, papan nama BA Management sudah terpasang dengan indah di dinding ruko. Ada harapan besar di wajah Bianca dan Reeneta saat memandang papan nama tersebut.
---
" Bagaimana mungkin anda tega bersikap begini padaku?" , Reeneta menegang, ada raut kekecewaan di wajahnya, tapi ia sama sekali tidak meninggikan suaranya, yaa ia mengontrol nada bicaranya.
" Maaf yaa mbak, dari awal saya kan sudah menjelaskan kalau ini hanya sementara, ga bisa lama - lama", jawab wanita paruh baya dengan nada sopan.
" Tapi ibu bilang masih ada waktu tiga sampai lima bulan lho, ini baru seminggu ibu... bagaimana aku dapat ganti tempat tinggal jika mendadak seperti ini" , Reeneta ingin marah, tapi ia tak biasa berteriak-teriak, hanya raut wajah kecewa saja yang ditunjukkan nya.
" Saya sudah transfer full 100% yaa mbak, refund biaya sewanya, saya juga minta maaf sekali, mohon mbaknya bisa memaklumi yaa. Tolong usahakan malam ini semua sudah beres ya", wanita itu menundukkan kepala tanda penyesalannya dan berlalu meninggalkan Reeneta yang masih terpaku di depan pintu.
' Ahh sial sekali' , pekik Reeneta dalam hati.
Reeneta menutup pintu, ia memandangi ruang kamar apartemen yang baru seminggu ini ia tempati. Dirinya memang tidak banyak memiliki barang barang bawan, bahkan semua barang hampir tidak berpindah dari tempatnya, masih sama seperti seminggu yang lalu saat Reeneta pertama kali memasuki ruangan itu.
" Baiklah .. " , kata Reeneta mantap.
" Pindah yaa pindah saja ", ucap Reeneta dengan kesal.
Reeneta mulai memasukkan baju baju miliknya dalam koper kecil yang Ia bawa dari NewJ. Selalu sama, meski sudah terbilang sukses, punya penghasilan yang lumayan , nyatanya ia tak pernah memiliki banyak barang. Kurang dari satu jam saja , semua sudah beres.
__ADS_1
---