
Reeneta dan rombongan karyawan perusahaan BA berjalan menuju gedung, tempat dimana pernikahan Bianca dan Arnold diadakan hari ini.
" Kota Global oke juga ya, sayangnya jalanan terlalu padat, macet ", keluh Ririn. Ini ada adalah pertama kalinya Ririn ke Global jadi ia merasa kaget dengan kondisi jalanan di kota ini.
" Justru karena itu, bidang transportasi di kota ini menjadi yang terbaik", sanggah teman Ririn.
" Tetap saja.. jalan kaki lebih sehat, iya kan Reen ?", Ririn meminta pendapat Reeneta.
" NewJ dan Global punya kelebihan masing-masing tentu saja", kata Reeneta.
" Ahh.. ini kampung halaman mu, kamu pasti lebih suka tinggal disini", kata Ririn.
" Mba Reeneta tinggal di dekat sini yaa? ", tanya seseorang.
" Iya dekat dari sini", ucap Reeneta dengan tersenyum. Ia mengingat apartemen milik Jordy, tempatnya tinggal dahulu.
" Reen, kekasih mu gak ada ?" , bisik Ririn ke telinga Reeneta.
Reeneta hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka tiba di dalam gedung, Bianca dan Arnold sudah di panggung untuk bersalaman dengan para tamu undangan. Satu persatu pegawai BA Management juga merapatkan barisan untuk mengucapkan ucapan selamat pada pasangan yang sedang berbahagia ini.
" Reen.. " , tiba - tiba seseorang memanggil Reeneta.
Reeneta yang memang masih hafal dengan suara ini menoleh. Qaila sudah berdiri di belakangnya.
" Siapa Reen?", tanya Ririn.
" Sahabat ku, ahh.. aku menemuinya dulu, kamu lanjut di barisan saja" , kata Reeneta pada Ririn. Ririn mengangguk.
Reeneta berlari ke arah Qaila , memeluk sahabatnya itu. Tapi Qaila nampaknya masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan matanya itu dan Qaila masih diam saja.
" Aku kangen banget sama kamu Qai", ucap Reeneta. Dia mempererat pelukannya, tapi Qaila masih diam, air matanya mengalir.
" Qai, kamu kenapa?", tanya Reeneta, yang menyadari Qaila tengah menangis.
Qaila mulai menangis sesenggukan, jadi Reeneta segera menarik tangannya menjauh dari keramaian tamu undangan, sebelum banyak orang menyadari nya. Mereka menuju area samping gedung, yang agak sepi.
Reeneta menyuruh Qaila duduk di bangku yang ada disana lalu dia menunggu Qaila tenang dengan membiarkan Qaila menangis sejadi-jadinya.
" Sampai kapan kamu akan menangis Qai? ", tanya Reeneta yang mulai gak sabar.
" Ngapain kamu kesini, dasar jahat...", ucap Qaila.
Reeneta tersenyum pada sahabatnya itu. Qaila langsung memeluk Reeneta.
" Kamu kemana saja sih Reen.. ?", tanya Qaila.
__ADS_1
" Pergi kerja Qaila .. ", Reeneta menjawab dengan asal-asalan ingin menggoda Qaila.
" Kamu jangan nangis lagi, makeup mu sudah hancur tuh", ucap Reeneta.
" Bodo amat.. ", Qaila menyeka air matanya dan mulai merapikan makeup nya yang berantakan.
" Kamu masih saja sama, seperti anak kecil ", kata Reeneta. Qaila mulai bisa tersenyum.
" Aku kangen banget sama kamu Reen", ucap Qaila.
" Aku juga .. kangen.. kangen.. kangen banget" , kata Reeneta.
" Kamu baik-baik saja kan selama ini ? ", tanya Qaila.
" Baik kok, kamu gimana , sibuk gak jadi jaksa terkenal? ", tanya Reeneta.
" Gimana kamu bisa tahu? ", Qaila penasaran
" Aku selalu memantau dirimu tentu saja", ucap Reeneta sambil tersenyum
" Sudah sekarang coba cerita ke aku semuanya.. kamu kemana aja selama ini ? Kamu gak tahu apa, kita disini nyariin kamu terus , bahkan Jordy.. ", Qaila tidak melanjutkan perkataannya.
" Qai.. aku di NewJ , sama kak Bianca", kata Reeneta berusaha mengalihkan pembicaraan Qaila agar tidak membahas Jordy dulu.
" Apa?", Qaila tak percaya.
" Gak mungkin! Kak Arnold tau aku sampai gila mencari mu, tapi dia berlagak sama sekali tak tahu", Qaila menunjukkan kekesalan nya.
" Jangan salahin kak Arnold , aku yang memintanya berjanji, apapun yang terjadi, jangan sampai kamu tahu", kata Reeneta.
" Apa..? Kenapa? Kamu gak menganggap ku lagi ha?", tanya Qaila, wajahnya mulai serius.
" Bukan Qai.. tapi kamu gak akan kuat. Demi aku, pasti kamu akan memberitahukan pada ..", Reeneta berhenti.
" Jordy?? ", ucap Qaila.
Reeneta mengangguk.
" Kamu.. belum bertemu dengan Jordy kan ? " , tanya Qaila.
" Sudah... Baru-baru dia ke NewJ Qai.. dia menemui ku disana. Kak Arnold sudah menceritakan semuanya padanya", ucap Reeneta.
" Lalu ? ", Qaila penasaran.
" Aku , aku takut", ucap Reeneta.
" Reen.. Jordy itu orang yang paling menunggu mu, kamu ga tau dia sangat khawatir , dia bahkan sempat menarik diri beberapa waktu dari kami", kata Qaila.
__ADS_1
" Tapi.. Kami tidak direstui", timpal Reeneta .
" Jangan gila, Mama nya Jordy yang paling keras menangis saat pertama kali tau kamu pergi beneran. Dia sangat menyesal", ucap Qaila
" Jordy juga mengatakan hal yang sama", kata Reeneta.
" Lalu kenapa Reen? Kamu jangan menyiksa dirimu lagi. Atau kamu sudah memiliki kekasih lain? ", Qaila mencoba menelisik, mencari tau tentang ini.
" Bukan Qai.. ", Reeneta menggeleng kan kepalanya.
" Jujur padaku.. Kenapa? ", Qaila mendesak Reeneta untuk berkata yang sebenarnya.
" Sulit bagiku untuk kembali seperti dulu lagi Qai, ketakutan akan kehilangan membuat ku terbiasa untuk sendiri", ucap Reeneta
" Kamu? Jangan bilang kamu trauma ? ", kata Qaila.
" Entahlah... ", Reeneta menatap dalam gedung tempat pesta Bianca ,ingat jika dirinya belum menemui Bianca dan Arnold.
" Atau kamu hanya sedang merajuk pada Jordy Reen..? " , kata Qaila sambil tersenyum.
" Merajuk ? ", Reeneta tak mengerti.
" Sudah tiga tahun kamu tidak bertemu dengan Jordy, pasti kamu rindu ... ini hanya bentuk pertahanan dirimu yang menyangkal kerinduan mu yang mendalam untuk Jordy", jelas Qaila.
" Kamu ngomong apa sih? " , kata Reeneta.
Qaila tersenyum menggoda sahabatnya itu.
" Kak Bianca bilang, akan mengirim pemimpin baru untuk ditempatkan di cabang perusahaan nya yang disini, aku mohon kamu juga ikut pindah kesini yaa Reen... " ,kata Qaila.
" Kenapa?", tanya Reeneta berpura-pura .
" Yaa.. aku gak mau kamu pergi lagi", ucap Qaila.
" Aku harus mendapatkan persetujuan dari bos Bianca dulu deh untuk itu", kata Reeneta.
" Kamu tenang saja, aku akan bantu bujuk. Permintaan adik ipar tidak mungkin ditolak.. ", kata Qaila yakin.
" Ahh, hubungan mu dengan Aldy gimana ? ", tanya Reeneta.
" Ku ceritakan lain waktu saja... hahhaha", ucap Qaila.
" Ish, kalau gitu, aku mau masuk , aku belum menyapa kak Bianca dan Kak Arnold", kata Reeneta yang langsung nyelonong pergi.
Qaila menatap punggung sahabatnya itu dan bersyukur akhirnya Reeneta kembali kesini. Kebahagiaan ini akhirnya bisa lengkap. Qaila mengeluarkan HP dan menghubungi seseorang.
***
__ADS_1