Dia Canduku..

Dia Canduku..
34.


__ADS_3

Tring... Tring...


" Hallo Qai, ada apa?", Tanya Reeneta setelah mengangkat telepon dari Qaila.


" Reen, lu dimana ? Masih di apartemen atau sudah berangkat?", Tanya Qaila.


" Baru juga jalan ini, ada apa sih Qai. Kenapa khawatir gitu ?", Reeneta penasaran.


" Aldy sama Willy tiba - tiba berantem entah sama siapa Reen, ini rame banget di halaman kampus, sampai doses dan satpam pada keluar, Cuma aku ga liat Jordy sih. Kamu sama Jordy enggak", nada suara Qaila terlihat sangat panik.


" Jordy? Enggak .. Jordy tadi pagi bilang ada urusan jadi gak jemput aku. Kamu pantau dulu deh, aku segera kesana, Aku coba hubungin Jordy juga yaa ", Reeneta mematikan telepon dari Qaila.


Ia mulai berlari menuju kampus , Jordy juga masih gak bisa dihubungi.


Dan benar juga saat memasuki halaman sudah sangat ramai, Reeneta menerobos masuk kumpulan orang yang sedang menonton. Ia mencari sosok Qaila tapi gak dilihatnya dimana-mana.


Meskipun banyak satpam dan dosen kenapa gak ada yang berani melerai. Lalu Reeneta menyadari seakan dari kerumunan ini ada yang menjaga melingkar , jadi dari kerumunan gak mungkin ada yang bisa menerobos area pertarungan mereka.

__ADS_1


Tapi ini sungguh tak adil, Reeneta merasa kesal dan marah karena melihat perbandingan jumlahnya, Aldy dan Willy melawan tujuh orang yang entah siapa. Meskipun mereka berdua terlihat jago berkelahi tapi tenaga mereka seaakan habis karna kalah jumlah.


Reeneta kembali menghubungi Jordy, tapi tetap tak ada jawaban. Lalu ia melihat sosok Cici yang berteriak-teriak karena tertahan orang-orang yang seakan melingkar tadi. Reeneta berusaha menerobos kerumunan mendekati tempat Cici.


" Ci.. Ci.. " , Qaila mendekati Cici.


" Reen,. Kamu... " , Cici memandang ke arah Willy lagi.


" Ci.. ada apa ini?", Tanya Reeneta.


" Nanti aja ceritanya yaa.. Willy kayaknya udah kehabisan tenaga, bantu aku lepas dari orang ini" ,


Lalu dengan cepat Reeneta menendang kaki orang itu dan membuatnya melotot pada Reeneta, kesempatan itu tak disia siakan Cici langsung menerobos dan membantu Aldy dan Willy. Dan disinilah Reeneta baru tau jika Cici juga jago berkelahi.


Tiba - Tiba Klakson mobil menderu dengan keras.. seakan meyuruh kerumunan ini untuk bubar. Yaa.. Jordy dengan mobilnya berusaha menerobos kerumunan yang ada, memaksa mereka berhamburan untuk memberi jalan .


Jordy turun dari mobil dan seakan masuk ke Medan pertempuran meyerang tujuh orang asing itu. Cici menepi, di raut wajahnya terlihat tenang. Di susul Willy dan Aldy yang juga menepi setelah mendapat gesture dari Jordy. Ada raut kelelahan di wajah Willy dan Aldy.

__ADS_1


Kini Jordy melawan tujuh orang itu seorang diri, Reeneta yang melihatnya sempat ketakutan , tapi rasa takutnya tiba-tiba hilang melihat Jordy susah dipastikan bisa menang, Saat ini enam orang tergeletak tak berdaya lagi.


" Siapa yang mengirim kalian kesini", tanya Jordy pada satu orang yang masih bertahan.


" Nona.. Nona muda", orang itu menjawab dan langsung melarikan diri. Wajah Jordy menegang. Tujuh orang asing itu sudah lari, Kini penjaga yang tadi melingkar juga sudah pergi, Satpam berusaha menetralkan tempat dengan menyuruh semua mahasiswa untuk kembali.


Willy menghampiri Jordy.


" Jord... " , Willy menepuk bahu Jordy.


" Dia benar - benar kembali Will" , kata Jordy lesu.


Willy pun hanya bisa memandang Jordy yang seakan terpukul.


Sesaat Jordy melihat Reeneta di kejauhan yang masih berdiri sendirian. Jordy menghampiri Reeneta.


" Sayang, kamu gak papa? " , Jordy menarik tangan Reeneta.

__ADS_1


Reeneta mengangguk pelan.


###


__ADS_2