Dia Canduku..

Dia Canduku..
108.


__ADS_3

Jordy memarkirkan mobilnya, dilihatnya jam tangannya sudah menunjukkan pukul 19.15.


" Ahh,, ternyata masih jam segini", kata Jordy pada dirinya sendiri.Biasanya ia baru pulang lewat dari jam 9 malam.


Ia berpikir sejenak, menimbang-nimbang mau langsung masuk ke apartemen atau keluar cari udara sekalian ngopi. Di apartemen ia akan sendirian, jika keluar pun dia juga akan sendirian. Rasanya dirinya sudah bosan dengan keadaan nya yang seperti ini. Tiga tahun , selama tiga tahun ia hanya mengejar angan, angan untuk bersama Reeneta. Ia bekerja sangat keras hanya untuk mengalihkan pikirannya agar tidak gila mencari Reeneta kala itu.


Jordy turun dari mobil, akhirnya ia memilih agar tetap di apartemen saja. Ia pergi ke seberang jalan, ke minimarket untuk membeli roti cokelat dan kopi sashet untuk di seduhnya di rumah.


Ia berjalan gontai menuju apartemennya, tanda-tanda lelah sudah ada di raut wajahnya.


' Ahh.. kenapa tiba-tiba ngantuk ya' , kata Jordy dalam hati.


Ia ingin cepat-cepat masuk ruangannya dan merebahkan tubuh lelahnya.


' Pasti karena sudah dua hari ini aku selalu begadang ' , lanjutnya terkekeh karena merasa lucu.


Selama ini ia tak pernah merasakan letih meskipun bekerja lembur hampir tiap hari. Tapi semenjak bertemu Reeneta, semenjak melihatnya lagi, tubuhnya jadi semakin mudah letih.


' Mungkin tubuh ini tahu , jika obatnya sudah ada, jadi selalu sakit' , batinnya lagi. Ia tak bisa menyembunyikan senyuman yang kini merekah.Mengingat pikirannya yang konyol itu.


Reeneta adalah candu, obat dikala sakit , kebahagian di kala sedih, penerang di kala gelap dan satu -satunya penyemangat untuk Jordy.


Brughh...


Ia melemparkan tubuhnya tepat di sofa depan televisi.


' Rasanya nyaman sekali, untung saja aku tak jadi pergi', batinnya dalam hati.Rasa lelahnya kian menjadi- jadi dan terbitlah rasa malas.


Jordy ingin pindah ke kamar, tapi diurungkannya niatnya itu, Ia tertidur pulas hanya sesat setelah matanya terpejam.


 


Di luar apartemen...


Reeneta memencet password di pintu dan klik,suara itu menandakan pintu bisa terbuka. Ia melangkah memasuki ruangan itu. Kurang lebih seminggu yang lalu ia baru dari sini dan kini harus kembali ke sini lagi.


Reeneta melihat Jordy yang sudah terlelap di sofa, masih dengan pakaian kerjanya. Jasnya dibiarkan tergeletak saja di lantai dan ia masih memakai sepatu kerjanya.


' Kenapa dia tidak beberes dulu sih, apa dia sakit' , batin Reeneta. Ia melangkah ke arah Jordy dengan wajah khawatir.


Di pegangnya kening dan leher Jordy, tapi tidak ada tanda-tanda ia sedang demam. Suhu tubuh nya normal.

__ADS_1


" Ahh, dia pasti hanya kelelahan saja", ucap Reeneta.


Ia memasuki kamar, Kamar yang dulunya selalu ia pakai. Ia langsung merebahkan badannya ke kasur. Ia tiba-tiba terbayang semburat kenangan kejadian seminggu yang lalu, sangat panas. Di ingatnya kembali sosok Jordy yang mencum bunya dengan panas. Tubuhnya bergetar, ada getaran geli yang dirasakan nya


" Pikiran bodoh macam apa ini? Sudahlah, Aku tidur saja", kata Reeneta yang tak sadar dan sesaat kemudian langsung terlelap.


Jordy tersentak dari tidurnya, Ia bangun dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 23.30.


" Sial aku ketiduran ", ucapnya.


Lalu dirinya segera membereskan jas dan sepatu nya lalu pergi mandi.


Air hangat mengaliri tubuhnya, dirasakannya kesejukan dan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuh Jordy yang kekar, meski jarang olah raga tetap saja tubuhnya berotot berisi. Masih sama seperti dulu, hanya sekarang lebih matang.Siapapun wanita yang melihat perutnya pasti akan menganga karena takjub dengan tubuh indahnya.


Jordy mematikan shower nya, diambilnya handuk kecil hanya untuk menutupi bawah pusarnya hingga ke pahanya. Ia keluar dari kamar mandi dengan bersenandung kecil lalu pergi ke dapur untuk menyeduh segelas kopi yang tadi dibelinya.


" Oke, tunggu disini yaa kopi ku sayang", katanya dengan senyuman memandang cangkir kopi itu


Entah mengapa malam ini ia sangat bersemangat sekali.


Saat memasuki kamar nya untuk berganti baju, betapa terkaget nya dia melihat tubuh seorang wanita yang sedang tidur di ranjangnya, posisinya membelakangi Jordy, jadi Ia hanya melihat rambut panjangnya yang terurai.


" Reen..." , teriak Jordy yang langsung berhampur memeluk Reeneta.


" Ada apa ini? ", tanya Reeneta terkaget saat melihat Jordy.Ia berusaha untuk bangun, tapi gagal, tubuh Jordy tepat ada di atasnya


Wajah Jordy sangat berbinar, tak ada rasa bahagia yang sanggup disembunyikan oleh wajah tampannya.


Jordy masih tersenyum bahagia tanpa bicara.


" Jord, apa yang kau lakukan? ", jerit Reeneta.


Tapi Jordy tak beranjak, Ia masih memandang bahagia sosok yang lama ia rindukan itu. Senyuman masih mengembang di wajahnya .


" Jord!!Apa kau sudah gila?", pekik Reeneta, wajahnya kaget bercampur khawatir.


" Kenapa sih Reen, aku hanya bahagia kau kembali kemari", ucap Jordy. Tetesan air dari rambut Jordy menetes ke wajah Reeneta, membuat Reeneta panik, entah apa yang tengah ia pikirkan.


" Jord, pakai celana mu", kata Reeneta sambil kini menutup matanya.


Jordy memandang tubuhnya, handuk kecil miliknya terjatuh entah kapan karena terlalu bersemangatnya dia saat melihat Reeneta.Ia mulai kelabaan menahan malu.Lalu dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


" Tetaplah menutup matamu Reen", ucap Jordy setengah berteriak.


Kali ini Reeneta sama sekali tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak - bahak.Ekspresi panik kini berganti ke wajah Jordy.


" Teganya kau" , ucap Jordy setelah selesai memakai celana dan kaos oblongnya.


" Aku kenapa? ", ucap Reeneta yang masih terus terkekeh menahan tawa.


" Apa kau melihatnya?" , tanya Jordy.


" Semuanya Jord, semua nya", kata Reeneta dengan menggoda sekaligus menahan tawa.


" Haisshh" , ucap Jordy sebal, sambil membating handuk kecil itu ke tubuhnya. Ia pergi keluar kamar dengan malu.


Reeneta mengekor di belakang Jordy.


Jordy duduk di sofa , di depannya secangkir kopi yang baru dibuatnya beberapa waktu lalu masih mengeluarkan asap, tanda masih panas.


Reeneta duduk disamping Jordy merebahkan punggungnya ke sofa sambil cengengesan.


" Minum Jord, kopinya hampir dingin", ucap Reeneta setelah menyentuh cangkir kopi di atas meja.


" Hmmh..", Kata Jordy tanpa menoleh ke arah Reeneta.


" Segitu malunya Jord?", tanya Reeneta.


" Diamm Reen", kata Jordy.


Reeneta sepertinya sudah menunjukkan jika ia sudah tidak canggung lagi kali ini.Meskipun harus dengan kejadian yang seperti ini, tapi ada kelegaan yang tersirat di wajah Jordy.Ia merasa bersyukur.


" Kau segitu sukanya yaa", kata Jordy yang tersenyum nakal, sambil menarik pinggang Reeneta mendekat padanya.


" App..Apa maksud mu? ", ucap Reeneta terbata-bata.


" Kau sangat suka dengannya yaaa? ", kata Jordy dengan kerlingan matanya ke arah bawah, Reeneta mengikuti mata Jordy dan mengerti maksudnya.


" Apa.. apaan kau Jord", kata Reeneta dengan berusaha melepaskan tangan Jordy di pinggangnya.


" Jangan mengelak, kau begitu bahagia saat melihatnya.." , ucap Jordy.


" Aku..aku ..hanya tertawa karena lucu, wajahmu, bukan..bukan..", lagi -lagi Reeneta terbata-bata.

__ADS_1


Jordy tersenyum nakal.


---


__ADS_2