Dia Canduku..

Dia Canduku..
50.


__ADS_3

Tidak ada satupun orang yang berbicara , hanya ada suara hujan yang semakin deras. Lalu suara derap langkah kaki anak buah Silvy yang berlari ketakutan meninggalkan tempat itu. Kini hanya tinggal mereka disana.


Reeneta berusaha membuka matanya, Ia merasakan sakit di punggungnya karena badannya terasa di tindih oleh sesuatu yang berat. Ternyata Andri ada di atasnya, melindunginya dari pukulan besi Silvy.


" Reen.. kamu ga papa? ", tanya Jordy yang berada dibawahnya.


" Sedikit sakit", ucap Reeneta parau.


Silvy langsung berlari dan berusaha memindahkan tubuh Andri,


" Andriii!!!" , Silvy berteriak dan langsung tersungkur. Ia berusaha menggoyang goyangkan tubuh Andri.


" Maaf .. Maafin aku Andri, Aku... Aku salah, Jangan tinggalin aku Ann...", Silvy menangis dengan keras, Andri tersenyum padanya.


Nafas Andri tersengal karena terbatuk batuk, dan dari belakang kepala nya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sedangkan Silvy sekarang hanya bisa menangis menyesali apa yang telah dilakukannya.


" Reen.. kamu gapapa kan ?", Andri memandang Reeneta dengan lemah.


" Ann .. Andri, kenapa kamu ngelakuin semua ini?" , Reeneta tergopoh-gopoh mendekati Andri karena tangannya masih terikat. Jordy pun melakukan hal yang sama, dilihatnya mantan sahabatnya itu dengan penuh rasa iba. Bagaimanapun juga Jordy selalu menyayangi sahabatnya itu, meski luka yang telah ditorehkan Andri juga sangat besar.


" Kamu bertahan yaa Ann, " kata Jordy.


" Hhk..hkk.. Jord.. aku minta maaf sama kamu, karena egoku..aku.. hhk..hkk", Andri masih susah untuk bicara.


" Ann.. kamu jangan banyak bicara, kamu harus bertahan yaa", Reeneta menangis tak kuasa melihat Andri dengan banyak darah. Reeneta jatuh bersandar ke pelukan Qaila.


Qaila yang sedari tadi sudah berusaha membuka ikatan Aldy memang segera berlari ke Reeneta untuk membuka ikatan tangan Reeneta.


Dan Aldy setelah membuka ikatan tangan Willy langsung menghampiri Jordy untuk membuka ikatan Jordy juga.

__ADS_1


" Ann.. kita segera bawa kamu ke rumah sakit oke, ", kata Jordy.


" Jord.. ma...af, aku benar-benar me...nye...sal", Andri masih berusaha bicara lalu tiba-tiba dia menutup matanya tak sadarkan diri.


Reeneta juga tiba-tiba langsung ambruk, tubuhnya yang sedari tadi sangat lemah sudah sampai diambang batasnya.


" Reen... ", Qaila berteriak.


Jordy sangat panik, melihat Reeneta tak sadarkan diri.


" Will.. segera bantu Aldy angkat tubuh Andri ", teriak Jordy. Willy mengangguk dan dengan cepat segera mengangkat tubuh Andri.


Jordy segera mengangkat tubuh Reeneta menggendongnya menuju mobil, diikuti Qaila yang menunjukkan wajah amat khawatir.


Willy dan Aldy juga segera mengangkat tubuh Andri agar segera mendapatkan pertolongan di Rumah Sakit.


" Ini ... Silvy gimana ? ", tanya Cici yang berteriak.


Cici memandang Silvy dengan kasihan tapi segera berlari meninggalkannya. Mereka dengan cepat menuju Rumah Sakit.


Hujan juga turun semakin deras.


Silvy tinggal sendirian , masih terduduk menangisi kebodohannya.


Ia tak menyangka akhirnya menjadi seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur.


***


Sudah dua hari berlalu sejak kejadian malam itu, Reeneta masih terbaring di bangsal rumah sakit, dan ia juga masih belum sadar.

__ADS_1


" Jordy... Aku gantiin jaga yaa.. pulanglah, sudah dua hari Jord, kamu belum istirahat sama sekali" , kata Qaila yang datang bersama Aldy.


" Aku gapapa Qai" , kata Jordy.


" Jangan gitu dong Jord.. jangan sampai nanti Reeneta siuman malah kamu yang ambruk", kata Aldy.


" Benar kata Aldy Jord.. lagian, Reeneta pasti baik-baik saja kan ?", Qaila berusaha meyakinkan Jordy.


" Kata dokter kondisinya masih sama , Ia hanya kekurangan banyak cairan dan gula darahnya rendah sekali. Tapi Entah kenapa ia lama sekali sadarnya", kata Jordy masih memandang kekasihnya yang tak berdaya.


Wajah Reeneta kini mulai membiru akibat lebam dan benturan yang ia alami. Tangannya yang robek diperban akibat pecahan kaca. Ia terlihat tenang dalam tidurnya.


" Kamu pulang yaa Jord, ketika Reeneta sadar, kami langsung menghubungi kamu" , kata Aldy.


" Enggak, aku akan tidur di sofa saja. Kalian jika masih ingin disini , yang tenang", kata Jordy yang kemudian pergi merebahkan badannya di sofa ruang VVIP tempat Reeneta dirawat.


" Dia memang sangat keras kepala", kata Aldy.


" Biarkan saja," kata Qaila.


" Gimana kabar Andri?", sambung Qaila.


" Dia juga belum sadar, masih kritis. Kata Willy ia kehilangan banyak darah, jadi memang harus menunggu masa kritisnya berakhir", jelas Aldy.


" Silvy?", Qaila menatap Aldy


" Silvy menghilang.. setelah kejadian malam itu, kami belum berhasil melacaknya lagi, " kata Aldy yang kini duduk di samping Qaila.


" hufftt.... semoga dia tidak berulah lagi , dia memang phyco yang menakutkan", kata Qaila.

__ADS_1


Aldy hanya mengangguk setuju.


###


__ADS_2