
Silvy duduk di sofa dalam kamarnya, wajahnya masih nampak rasa kesal dan marah. Andri menghampiri nya dengan gontai, ia seakan sedang memikirkan banyak hal.
" Sudahlah ... Kita akhiri saja disini, Reeneta itu tidak mungkin bisa membantu kita ", kata Silvy berang.
" Kamu gak tau seperti apa Jordy ketika aku mendekati Reeneta, gadis itu berharga untuk Jordy" , kata Andri.
" Kalau memang berharga mana mungkin Jordy ga mencarinya? Dari semalam Reeneta menghilang, tapi tanda-tanda Jordy merasa kehilangan saja tak ada", Silvy menyandarkan tubuhnya ke kursi.
" Tunggu saja", kata Andri yang hendak meninggalkan kamar tapi Silvy segera berdiri dan menahannya.
" Kamu.. kamu gak beneran menyukai nya kan?" , Silvy menatap mata Andri.
" Apa maksudmu ?", Andri seakan heran mengapa Silvy menanyakan hal semacam itu.
" Aku.. aku dengar kamu menyukai nya saat sekolah dulu..", Silvy menunduk malu. Tak biasanya ia seperti itu. Ia adalah wanita dengan percaya diri yang paling tinggi.
" Memang aku sangat menyukai nya dulu. Hampir setiap laki-laki di sekolah juga menyukai nya dan mengatakan wanita idamannya ya seperti Reeneta itu" , Andri kini duduk di sofa di ikuti Silvy yang kembali duduk.
" Dia gadis yang hebat Vy... Dia berasal dari panti asuhan dan tiap hari bekerja untuk menyukupi hidupnya sendiri. Gak mau merepotkan orang lain , ahh bukan dia gak mau dikasihani orang lain", sambung Andri yang terlihat menerawang sambil tersenyum.
" Orang miskin memang harus bekerja keras", kata Silvy yang masih curiga pada Andri
" Yah.. mungkin benar, tapi karena saat itu aku juga berada di posisi yang sama dengannya sebagai orang yang diasingkan, aku merasa dia benar-benar hebat. Dia seakan sudah diasingkan sejak kecil", kata Andri
" Dia cantik?", tanya Silvy.
" Cantik sekali... " , Andri menjawab tanpa berpikir.
__ADS_1
" Andrii!!!!", bentak Silvy.
" Hhhaa.. dia memang cantik, kamu sudah melihatnya sendiri, aku hanya jujur. Tenanglah, aku masih milikmu", kata Andri yang tahu bahwa Silvy sedang cemburu.
" Aku ga mungkin rela kamu sama dia yaa Ann.. ", Andri mengangguk. Ia tahu Silvy sangat keras kepala dan nekat, meski sejujurnya di hati yang paling dalam ia sangat mengagumi Reeneta dan bahkan mencintai nya. Ia gak ingin mencelakai Reeneta.
" Aku mengerti.. ", kata Andri yang kini memeluk Silvy dengan erat.
" Aku gak akan segan segan sama dia yaa.. walaupun kamu pernah jadi temannya atau apapun itu, itu sudah jadi konsekuensinya karna dekat dengan Jordy", kata Silvy.
" Vy.. apa kita akhiri saja semua dendam ini pada mereka? Kita pergi ke luar negeri dan hidup bersama saja , berdua? ", Lanjut Andri.
" Gak mungkin!! Kamu sudah berjanji untuk membantu ku membalaskan dendam kita kan? Tapi semenjak bertemu Reeneta itu, kamu selalu galau", kata Silvy sambi melepaskan pelukan Andri.
" Aku ga ingin kita akhirnya lebih menyesal dari ini Vy, Jordy bukan orang bodoh dan lugu seperti dulu. Kini ia benar benar sudah dewasa dan pasti lebih matang dalam bertindak. Kamu yakin jika terjadi apa apa pada Reeneta, dia bukannya akan menderita tapi akan menghabisi kita semua", kata Andri.
" Aku gak peduli, aku belum puas sebelum mencoba melakukan sesuatu untuk membalasnya", kata Silvy yang langsung pergi meninggalkan Andri sendiri.
***
Tringgg.. Tringg... Suara hp membangunkan Qaila.
" Iyaa mah... ",
" Maaf mah, aku lupa izin, tadi malam kelelahan, aku menginap di tempat Reeneta",
" Iyaa ada.. dia sekarang tinggal dekat kampus kok" ,
__ADS_1
" Aku mengerti, udah yaa mah.. bye bye.." ,
Aldy menatap Qaila dengan tersenyum.
" Anak mamah baru bangun ", kata Aldy meledek Qaila.
" Kamu udah bangun? Sejak kapan?", tanya Qaila kini membenahi posisi duduknya.
" Belum bangun juga karena memang belum tidur.. ", kata Aldy yang kembali memainkan laptop nya. Qaila melihat wajah Aldy yang terlihat sangat lelah.
" Gimana , belum ketemu yaa", kata Qaila yang kini sudah bepindah duduk di samping Aldy.
" Belum, gak ada tambahan bukti yang bisa kulacak lagi", Aldy sedang menelusuri rekaman cctv di sekitar apartemen.
" Tapi kemana semua nya? ", Qaila heran tidak ada satupun orang kecuali mereka berdua disini.
" Jordy pagi buta tadi pergi, entah kemana, ia sangat terburu-buru dan Cici Willy barusan keluar cari makan" , ucap Aldy.
" Ahh.. aku tak bisa membantu apa-apa ", Qaila kembali merebahkan tubuhnya mengingat Reeneta, sahabat terbaiknya kini tak tau nasibnya bagaimana.
" Tenang saja Qai, Jordy sudah punya rencana, aku yakin sebentar lagi semua akan kembali normal" , kata Aldy.
" Tapi Al, kalau mendengar ceritamu soal Silvy, Aku jadi takut orang itu nekat dan membahayakan Reeneta. Apalagi...", Qaila tidak melanjutkan perkataannya.
" Kenapa Qai?", tanya Aldy yang kini memandang Qaila .
" Tidak apa, aku hanya takut Reeneta tidak bisa bertahan, jika terjadi apa -apa padanya.... Aku juga ga bisa maafin diriku sendiri " , kata Qaila.
__ADS_1
" Percayalah pada Kami Qai" , ucap Aldy yang dikuti anggukan oleh Qaila.
***