
Byyuurrrr. Segelas air mendarat di muka Reeneta.
R
eeneta membuka matanya, dilihatnya Silvy sudah berada di depan nya. Wajahnya sangat kesal. Reeneta tahu Silvy seorang yang pemarah dan tidak sabaran, dan itu membuatnya semakin ingin mengusik ketenangan Silvy.
" Bisa bisanya yaa kamu tidur", teriak Silvy.
Reeneta hanya tersenyum ketus.
" Singkirkan senyum jelekmu itu ", sepertinya Silvy sedang sangat kesal yang entah kenapa.
" Memangnya apa yang harus aku lakukan? Kau mengurung ku disini, jadi aku hanya bisa tidur kan?" , kata Reeneta.
" Tahu tidak aku sangat membencimu?", kata Silvy.
" Itu juga yang kurasakan untukmu" , kata Reeneta datar.
" Kamu benar-benar sangat berani, sepertinya kamu tidak takut mati yaa?", Silvy semakin emosi.
" Aku sangat takut tentu saja, aku takut sebelum aku mati, aku belum melihatmu menderita", kata Reeneta diiringi senyuman.
Hal itu tentu membuat Silvy sangat jengkel. Silvy kembali mengambil gelas kaca kosong yang tadi digunakan untuk menyiram kan air pada Reeneta lalu dengan sengaja dilemparkan nya tepat di telapak tangan Reeneta. Pecahan kaca menyayat sebagian tangan Reeneta yang membuat darah mengalir dengan pelan. Reeneta merasakan kengiluan saat pecahan pecahan kaca itu menyentuh ujung dari jemarinya, memaksanya mendesis lirih menahan sakit.
" Hahahaha.. semakin kamu banyak bicara semakin puas aku menyiksa mu. Menyerah saja, buat Jordy patah hati dengan meninggalkan nya, dan kamu tidak perlu menderita lagi", kata Silvy.
" Kalau begitu siksa saja aku, daripada harus melihat Jordy menderita lebih baik aku saja yang menderita", Reeneta masih menahan kesakitan akibat tangannya yang terkena kaca.
" Bodoh kamu, Plakkkkk!!!" , kali ini Silvy menampar Reeneta sangat keras menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Reeneta tak memberikan ekspresi apa-apa hanya wajah datar nya yang ia perlihatkan pada Silvy.
" Emm.. bagaimana jika aku memberikan hiasan sedikit pada wajah cantikmu itu, sayatan? Yahhh.. benar, kamu pasti akan terlihat semakin cantik", kata Silvy.
' Wanita ini benar-benar gila, tapi aku tak boleh takut, sebentar..... Sebentar lagi.... Aku yakin Jordy akan datang untuk ku', kata Reeneta dalam hati.
Silvy mengambil pecahan kaca yang siap di goreskan pada wajah Reeneta, tapi Andri tiba disana tepat waktu.
__ADS_1
" Vyy.. apa yang kamu lakukan?", Andri menahan Silvy, tapi sayang Silvy sudah berhasil menjambak rambut Reeneta. Ia menariknya begitu keras hingga Reeneta yang sudah tak punya tenaga ikut terpelanting dan pelipisnya disambut oleh pinggiran meja.
" Arrgggh", Reeneta mengaduh, Pelipisnya kini berdarah dengan lebam di area sekitar nya.
" Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah berjanji padaku tidak akan menyakiti Reeneta kan?" , Andri berteriak pada Silvy.
" Persetan, dia yang memancingku, dia sengaja membuat ku marah", kata Silvy.
Andri menatap Reeneta dengan iba, Reeneta yang masih kesakitan kini telapak tangan kanannya berdarah cukup banyak, pipinya bengkak ditambah pelipis dan bibirnya juga berdarah. Andri tak kuasa melihatnya, tapi tak tahu harus bagaimana.
" Jangan seperti ini, Reeneta tidak tahu apa-apa. Kesalahan nya hanya menjadi kekasih Jordy", kata Andri.
" Jika kamu membelanya sekali lagi, aku akan benar-benar membunuhhh nya ", kata Silvy yang menatap tajam pada Reeneta.
Tiba-Tiba Seorang wanita yang merupakan anak buah Silvy berlari dengan tergesa-gesa.
" Ada sekelompok orang datang Nona", kata wanita itu.
" Siapa?", tanya Silvy.
" Akhirnya .... Jaga dia, ketika ku panggil bawa dia kepadaku nanti" , kata Silvy yang diberi anggukan oleh wanita itu.
Silvy pergi diikuti Andri.
***
Jordy dan teman temannya masih berdiri di halaman, menunggu Silvy dan Andri keluar.
" Haii... Jordy ku sayang, aku sangat merindukanmu" kata Silvy ketika melihat Jordy.
Silvy berjalan beriringan dengan Andri dan di belakang mereka diikuti beberapa anak buah Silvy.
Qaila yang mengenali wajah Andri segera berteriak.
" Andri.. kamu Andri kan?", Qaila menunjuk wajah Andri.
__ADS_1
" Hai Qai.. lama tak berjumpa", kata Andri sembari tersenyum.
" Brenggsek kamu... Jadi kamu yang membuat Reeneta celaka yaa? Aku ga menyangka kamu benar-benar jahat!!", Qaila yang tidak bisa mengontrol emosinya berteriak dengan kasar.
" Sssttth... Siapa sih kamu? Jangan lancang berteriak teriak pada Andri ku", kata Silvy garang.
" Persetan kalian, Dimana Reeneta??", tanya Qaila.
" Aku gak tahu kalau kamu sudah menambah anggota baru Jord? Wanita bodoh macam ini", Silvy menunjuk Qaila.
" Cepat serahkan Reeneta pada kami Silvy, jangan mengulur waktu lagi" , kata Aldy.
" Kamu jangan macam-macam lagi !! dasar wanita jahat!!", kata Cici.
" Kenapa sih , kalian ini tidak kangen apa sama aku? Aku cuma ingin reuni sebentar", kata Silvy lalu tertawa.
" Hentikan main-mainnya Vyy" , kata Willy.
" Ahhh.. kalian sangat berisik, tentu tentu , aku akan kembalikan wanitanya Jordy itu pada kalian, toh dia sangat tidak berguna", kata Silvy.
Silvy memberikan kode pada anak buahnya, dua orang wanita membawa Reeneta keluar dengan kedua tangan nya terikat ke depan.
Reeneta memandang Jordy dengan penuh kasih ia tersenyum pilu.
' Akhirnya... Akhirnya aku melihatmu sayang', bisik Reeneta dalam hati.
Jordy memandang Reeneta tak percaya. Gadisnya, kekasihnya sampai diperlakukan seperti itu.
Reeneta terlihat sangat lemah, rambut panjangnya yang setengah basah karena terkena siraman air terurai berantakan. Keduanya tangan terikat dengan bekas darah yang mengalir dari telapak dan jari - jari tangannya. Bibirnya berdarah, pipinya lebam dengan pelipis yang juga berdarah.
Tangan Jordy mengepal menahan amarah.
Qaila terisak, ia menangis, melihat sahabatnya yang biasanya begitu cantik kini terlihat semenyedihkan itu.
" Reeneta..", teriak Qaila.
__ADS_1
###