Dia Canduku..

Dia Canduku..
23.


__ADS_3

Reeneta masih terlelap tidur walau jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia membuka mata, tapi kepala nya sangat berat. Saat ia mencoba bangkit dari tidurnya, seakan tubuhnya tidak bisa menopang berat badannya.


' kenapa tiba -tiba pusing sih ?, ' kata Reeneta pada dirinya sendiri.


' ahh, harus bolos ngampus sih ini, padahal baru aja masuk ' , Reeneta berusaha meraih hp nya, tapi terlalu jauh dari jangkauan. Jadi ia tidak berusaha lebih keras lagi karena tau akan sia -sia.


Jordy tidak datang dari kemaren, entahlah pikiran Reeneta kacau. Ia memutuskan utk memejamkan matanya lagi.


***


Qaila dari semalam chat Reeneta tapi tidak mendapat jawaban, ia mulai khawatir tapi mencoba ditepis. Qaila berencana akan menemui nya ke jurusannya setelah selesai jam belajarnya.


Di jalan menuju jurusan Reeneta ia melihat Genk Jordy berjalan ke arah gerbang keluar kampus , tanpa Reeneta. Ia menjadi sangat khawatir. Ia mengambil hp dari dalam tas utk menelpon Reeneta. Tapi tetap tidak ada jawaban.


Ia berpikir sejenak, kalaupun Jordy dan Reeneta marahan , ga mungkin Jordy akan meninggalkan Reeneta di kelas sendiri kan ? Jadi Qaila segera berlari ke parkiran mengendarai mobilnya menuju apartemen Jordy yang tak jauh dari kampus, tempat tinggal Reeneta saat ini.


Qaila menyesal kenapa tadi malam hanya mengantar Reeneta sampai parkiran tanpa tau apartemennya di lantai berapa, ia langsung menuju pos satpam tapi pasti penjaga juga tidak tau. Tapi apa salahnya mencoba , apalagi Reeneta masih tidak menjawab teleponnya.


" Pak, pernah liat anak kuliahan cewe sering jalan kaki,. Tinggal di lantai berapa yaa? ", Tanya Qaila pada penjaga.


" Wajah, saya kurang paham neng, cuma lihat orang lalu lalang saja, tapi ga pernah memperhatikan ", kata salah seorang satpam disana. Benar perkiraan Qaila mereka memang tidak mengenali Reeneta.


" Kalau Jordy kenal gak ?" , Tanya Qaila lagi.


" Owh... Mas Jordy kenal neng, ada di lantai 3 paling pojok yaa neng" ,


" Makasih yaa pak, " Qaila segera berlari.


" Ehh neng mas Jordy jarang ke apartemen lhoo, mungkin ini juga sedang kosong" , satpam itu berteriak , tapi Qaila tak peduli dan tetap berlari.


Tok.. tok... Tok...

__ADS_1


" Reen, Reeneta.... " , Qaila berteriak sekuat tenaga, raut muka nya semakin khawatir.


Sudah hampir tengah hari, Reeneta kembali membuka matanya , ia penasaran siapa yang mengetok - ngetok pintu sedari tadi. Kalau Jordy ia sudah tau password nya kan.


Meskipun berat ia mencoba bangun , tertatih - tatih menuju pintu depan, yang masih digedor -gedor orang. dengan sudah payah Ia berhasil membuka pintu, melihat Qaila dengan wajah hampir menangis, Reeneta lega lalu tiba tiba tubuhnya ambruk ke lantai,


Qaila berteriak kaget. Dengan tangis pecah ia mencoba mengangkat Reeneta, tubuhnya yang kurus memudahkan Qaila memapah ke arah kasur.


" Kamu kenapa sih Reen, bikin khawatir? " , tanya Qaila yang masih menangis.


" gpp Qai, cuma sedikit demam kayaknya, pusing banget", Reeneta masih bisa tersenyum tipis.


Lalu dengan sigap Qaila mengambil air hangat dan handuk kecil , ia mengompres Reeneta.


" Pasti belom makan kan ? Belom minum obat juga ? " ,


" Aku dari pagi gabisa bangun, kepalaku rasanya berat ",


" Tunggu bentar yaa Reen" , Qaila memandang sayu Reeneta yang masih hanya tersenyum tipis.


" Dimana Jordy ? " ,


" Jordy kayanya marah beneran , dia belum datang dari kemaren " ,


" Belum kamu hubungi ? Kamu ga bilang kalau sakit ? " , Reeneta menggelengkan kepala.


" Gilaaa.. kalau ketemu pengen gue lempar ...." , suara Qaila terputus


" Qaii.... " , Reeneta berusaha membuat Qaila tenang


" Ahh sebel banget,, kamu punya pacar juga kaya ga punya pacar, apa gunanya?" ,

__ADS_1


" Jangan gitu ahh, ga baik emosi, mungkin Jordy sedang sibuk , meski pacaran juga ga harus tiap hari ketemu kan ? ",


Qaila tak bisa membantah Reeneta lagi, ia tau sahabat nya sedang sakit dan ia tak ingin menambah beban pikiran lagi untuk Reeneta.


Setelah disuapi bubur dan meminum obat Reeneta pelan pelan mulai terlelap lagi. Qaila menunggu hingga Reeneta benar - benar tidur dan meninggalkan Apartemennya.


***


" Masih belum menghubungi Reeneta ? " , Willy bertanya pada Jordy dan Jordy hanya menggeleng kan kepala.


" Dia juga ga berangkat ngampus lho Jord, gada hubungin kamu apa ? " , Cici juga menimpali.


" Ga ada , mungkin dia marah , " kata Jordy.


Qaila memangkah tegas menuju ke meja mereka, Setelah sebelumnya yakin kalau mereka pasti nongkrong di Cafe More, tempat favorit mereka.


" Brruuuuakkk" , Qaila menggebrak meja . Semua orang kaget, semua berantakan. Tak sampai disitu Qaila menarik kerah baju Jordy dengan kasar.


" Brengggssek loe ", Qaila memaki Jordy ,


Semua orang memandabg ke arah mereka, Cici berusaha menenangkan Qaila. Jordy hanya terdiam merasa apa yg didapat nya setimpal. Ia tahu Qaila sahabat Reeneta dan Ia sudah menyakiti Reeneta.


" Qaila tenang dong", Kata Cici. Willy masih termangu dan Aldy yang sedari tadi memainkan game di hp nya juga terkaget-kaget memandang Qaila.


" Diam deh" , Qaila menoleh pada Cici, lalu berteriak kembali pada Jordy. " Kalau loe gada niat baik sama Reeneta, tinggalin dia. Loe ga tau kan dia sakit sendirian disana hampir mati gara - gara loe , Brengggsekk" , kata Qaila.


" Reeneta sakit ? ", Jordy terlihat kaget dan syook, lalu tanpa pikir panjang melepaskan tangan Qaila berlari sekuat tenaga.


Qaila ingin mengejar Jordy tapi dihadang Aldy, tangan Qaila dipegang Aldy dengan kuat . Qaila tak berkutik.


" Biarin Mereka menyelesaikan ini dulu Qai" , kata Willy. Qaila menyerah dan terduduk dengan kesal.

__ADS_1


###


__ADS_2