Dia Canduku..

Dia Canduku..
51.


__ADS_3

" Will...", Cici memanggil Willy yang sedang menunggu di luar rungan ICU.


Willy tersenyum menyambut kekasihnya itu, Cici memeluknya.


" Aku bawain makanan... kamu belum makan kan?", tanya Cici yang dijawab dengan anggukan oleh Willy.


" Gimana keadaannya ?", Cici memandang Andri yang terbaring di atas tempat tidur dari kaca luar.


" Masih kritis. Ia kehilangan banyak darah kan , dokter bilang memang butuh waktu untuk sadar", jawab Willy.


" Jordy, kenapa ingin membantu nya ? Padahal Andri sangat jahat padaya.. aku merasa kesal sekali", kata Cici. Tapi Willy tersenyum melihat kekasihnya itu.


" Kamu yaa jangan mengumpat pada seorang pasien... Jordy gak pernah dendam sama Andri. Sama sekali!! Dia hanya gak suka dengan pengkhianatan yang dilakukan Andri dulu..andai Andri dan Silvy jujur dari awal pasti semuanya tidak akan seburuk ini", kata Willy.


" Tetap saja.. mereka jahat kan", kata Cici, tapi tidak direspon oleh Willy.


" Lalu kamu akan menunggu disini sampai kapan?", tandas Cici.


" Ahh.. orangtua Andri sedang dalam perjalanan dari luar negeri. Kita tunggu sampai Malam nanti jika mereka sudah bisa sampai, kita tak perlu berjaga disini lagi", kata Willy.


Cici mengangguk pelan.


" Oiya.. gimana dengan Reeneta?", tanya Willy yang masih menyuap makanan ke mulutnya.


" Belum sadar juga, dokter bilang ia kekurangan cairan tubuh... tapi bisa jadi juga mungkin terlalu syok , yang membuat tubuhnya menjadi sangat lemah ", jawab Cici.


" Kasihan dia, Lalu Jordy?", Willy penasaran.


" Qaila sudah menawarkan untuk menggantikan jaga , tapi Jordy bersikeras tidak mau , Ahhh.. Jordy.. aku melihatnya berbeda kali ini", kata Cici.


" Jordy sangat mencintai Reeneta, Semoga kedepannya sudah tidak ada lagi yang mengganggu dan mereka bisa bahagia yaa...", kata Willy


" Kita doakan saja", ucap Cici.


***

__ADS_1


Reeneta siuman saat malam mulai menjelang. Dilihatnya dari kaca jendela, suasana diluar juga sedang gerimis. Reeneta berusaha menggerakkan tubuhnya tapi gagal. Rasanya tubuhnya sangat berat dengan sakit di sekujur tubuh.


Reeneta memandang sekeliling ruangan, ada Jordy yang tertidur di sofa. Wajah Jordy yang tampan saat tidur membuat nya tenang.


' Kenapa kamu nampak kelelahan sekali Jord', kata Reeneta dalam hati.


' Syukurlah semuanya telah berakhir', bisik Reeneta.


Reeneta masih memandang Jordy yang tertidur dengan pulas. Karena ingin menghampiri Jordy dia berusaha bangun meski kondisinya saat ini sangat lemah. Reeneta membuat suara gaduh dengan decitan pada tempat tidurnya yang malah akhirnya membuat Jordy terbangun.


" Reen..", Jordy segera bangkit dan membantu Reeneta.


" Sejak kapan kamu sadar?", tanya Jordy.


" Belum lama kok, bantu aku duduk Jord", kata Reeneta. Jordy segera menekan tombol untuk mengangkat ranjangnya.


" Apa aku sudah lama tak sadarkan diri? " , tanya Reeneta.


" Dua hari Reen.. ", kata Jordy. Reeneta nampak tak percaya, sudah selama itu dan dirinya baru sadar.


" Sakit seluruh badan, Ahh.. gimana Andri Jord", tanya Reeneta.


" Kamu didepanku beraninya menanyakan tentang lelaki lain", kata jordy.


Reeneta hanya tersenyum, tangannya yang tanpa perban meraih tangan Jordy.


" Kamu tenang saja, dia juga dirawat disini", kata Jordy.


Ada perasaan lega diwajah Reeneta. Setidaknya tidak ada yang mati.


" Jord", kata Reeneta. Jordy masih memandang Reeneta, menunggu apa yang igin dikatakan wanita pujaannya itu.


" Aku Kangenn sekali ", kata Reeneta.


Jordy bergeming , di kecupnya kening Reeneta dengan sayang.

__ADS_1


" Aku juga.. sangat.. sangat kangen", kata Jordy.


Reeneta berusaha bangun sendiri, untuk meraih bahu Jordy. Tapi Jordy segera menahannya.


" Kamu mau apa?", kata Jordy.


" Hanya ingin peluk sebentar", kata Reeneta kesal .


" Tunggu kamu sehat, takutnya gak kuat", kata Jordy.


" Gakuat gimana ?", Reeneta menatap Jordy.


" Gakuat... karena aku gamau kalau cuma sebetar", kata Jordy dengan tersenyum manis.


Wajah Reeneta memerah, menahan malu. Jordy masih tersenyum dan segera duduk di ranjang. Reeneta segera bersandar pada Jordy.


" Kamu gak terluka kan? ", tanya Reeneta.


" Aku baik - baik saja sayang", ucap Jordy.


" Kamu dipukuli seperti itu, aku benar -benar takut. Yang lainnya gak ada yag terluka kan?", Reeneta masih memikirkn teman- temannya.


" Semuanya baik-baik saja , kamu harus segera sembuh agar bisa berkumpul bersama Qaila lagi ", kata Jordy.


" Ahh benar, Qaila apa dia terluka?", tanya Reeneta.


" Sangat sehat, setiap hari dia kesini dan memarahiku", kata Jordy.


Reeneta hanya tersenyum.


" Kamu harus segera sehat yaa sayang", ucap Jordy.


Reeneta mengangguk dan melingkarkan tangannya di tubuh Jordy. Di peluknya tubuh lelaki yang sangat dicintainya itu. Entah mengapa Reeneta seakan mendapatkan energinya kembali. Bagai oase di gurun gersang, Jordy merupakan orang yang sangat berarti untuknya. Ia sangat menyukai aroma tubuh Jordy, mendengar detak Jantung Jordy dan suara nafas Jordy. Reeneta memeluk Jordy semakin erat.


###

__ADS_1


__ADS_2