Dia Canduku..

Dia Canduku..
22.


__ADS_3

Reeneta termenung sendirian, matanya memandang jauh keluar jendela. Dilihatnya lampu kota berkelap-kelip nan nampak cantik di kejauhan. Ia sadar mengapa Jordy memilih apartemen ini, karna memang menenangkan, tidak bising meskipun ada di tengah kota. Apalagi pemandangan malamnya yang begitu indah.


" Apa malam ini ia tidak datang ? Apa dia marah ? Bukankah harusnya aku yang marah ? "


Reeneta bicara sendiri, ia tampak kesal dan membiarkan televisi menyala tanpa melihatnya. Berkali kali ia memeriksa layar hp nya, belum ada kabar dari Jordy. Tapi ia juga enggan mengabari Jordy.


Meski ia begitu merasa janggal pikirannya tidak tenang dan banyak terpikirkan tentang Jordy tapi entah kenapa ia sama sekali tidak merasa marah malah saat ini sangat merindukan sosok Jordy yang biasanya sudah ada menemaninya disini.


Lama ia termenung sendiri ia tidak sadar telah terlelap tidur dan ingin memimpikan kekasih hatinya.


***


" Jord lu ga pulang? " , Willy menatap sahabatnya tajam.


Kali ini mereka tinggal berdua di cafe langganan mereka. Aldy entah kemana tak menampakkan batang hidungnya sejak pulang kampus dan Cici sedang ada acara bersama ibunya.


" Kamu pulang aja duluan " , Jordy mengisap Vape nya, di keluarkan asap - asap beraroma capuccino.

__ADS_1


" Jord, kamu bisa cerita sama aku apa sih sebenarnya yang lu pikirin " , kata Willy sesaat sebelum meyesap kopinya.


" gada pikiran apa-apa, cuma giilaa.. aku merasa udah gila, aku kangen banget sama Reeneta", Jordy masih menikmati aroma aroma asam yang dihirupnya.


Willy tersenyum, melihat sahabatnya yang terlihat jelas sedang jatuh cinta.


" kalau kangen, temuin, "


" Tapi aku takut menemuinya, aku takut Reeneta jadi benci kalau tau siapa aku sebenarnya... " , Kata Jordy melanjutkan.


" Kenapa takut Jord, seharian aku liat Reeneta sama sekali tidak menunjukkan wajah marah atau tersinggung, bicaralah baik - baik"


Willy masih menunggu Jordy melanjutkan kata-katanya, ada sirat kekhawatiran, sahabat terbaiknya ini tak pernah terlihat ragu seperti ini.


" Aku lebih marah ada tangan kotor udah sentuh Reeneta",


" Kamu hanya sedang jatuh cinta" ,

__ADS_1


" Aku Gatau kenapa Will, sama Reeneta serasa beda, aku tau aku jatuh cinta, tapi cinta ku tak pernah seperti ini , "


" Maksud kamu Silvy ? " , Tanya Willy tapi tak mendapat jawaban dari Jordy. Jordy hanya melihat jauh menerawang dengan tatapan kosong.


" Dulu membuat wanita senang sangat mudah, membuatnya di bicarakan orang ia langsung bahagia, katanya popularitas nya meningkat. Kutunjukkan pengaruh atau kekuatan ku akan membuatnya bangga, katanya aku orang berpengaruh yang ditakuti orang orang",


" Jord kita memang orang seperti ini sejak dulu kan? Perkelahian? Unjuk kekayaan ? Atau apa ? Ketenaran ? Semua kita dapat, semua kita lakukan , kamu ingat sejak SMP kita memang hidup seperti ini kan ? Itu yang membuat semua kalangan atas mengenal kita karena kita diatas mereka semua. Membuat mereka takut hanya dengan mendengar nama mu saja. Seharusnya lu sudah mempertimbangkan semua ini ketika mendekati orang seperti Reeneta. Ia jauh dari semua ini, hidupnya lurus tak seperti masa lalu kita " Willy kembali menyesap kopinya.


" Lalu apa yang harus ku lakukan ?" Jordy terlihat benar-benar kacau.


" Pilihannya cuma lu seret dia masuk ke lingkaran kita atau ... "


" Atau apa ? " , Tanya Jordy.


" Kita berhenti dari semua yang telah lu capai" , Jordy tercengang.


Ia tak pernah memikirkan sejauh ini sebelumnya. Ia sama sekali tak ingin membuat kekasihnya celaka, tapi berhenti dari hal yang telah membuat namanya di atas juga tidak mudah.

__ADS_1


###


__ADS_2