
Jam 09.15 di apartemen Reeneta.
Eliza berjalan santai menuju apartemen Reeneta. Ia cukup bahagia mendapatkan kembali cucunya. Tapi ia juga merasa Reeneta terlalu cepat menikah. Sejujurnya Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama cucu yang telah lama hilang itu.
Eliza terkejut melihat dua orang wanita dengan tas make-up besar yang tertidur di depan pintu apartemen Reeneta.
" Bangunkan mereka", ucap Eliza.
Kedua ajudan Eliza yang selalu mengikutinya segera membangunkan kedua wanita itu. Kedua MUA tersebut langsung terperanjat kaget dan segera menyadarkan dirinya masing-masing.
" Sial kita ketiduran, ini sudah jam sembilan ", ucap salah seorang MUA sambil menatap ke jam tangan nya.
" Bukankah acara pernikahan mereka jam sepuluh , bagaimana ini? ", ucap wanita kedua sambil berwajah panik.
" Kalian MUA yang disewa Reeneta?", tanya Eliza tanpa ekspresi.
Kedua MUA wanita itu langsung menoleh ke arah Eliza dan mengangguk. Mereka berdua nampak menyesal.
" Iya Ibu. Kami sebenarnya sudah datang sejak jam setengah tujuh tadi, nona Qaila menyuruh kami datang sebelum jam tujuh karena jam sembilan harus selesai merias mereka berdua. Dan kami sudah menggedor-gedor pintu sejak datang sampai kami ketiduran ", ucap MUA pertama.
" Aku masih ingat jam setengah delapan tadi kami masih terjaga, kami masih berusaha menelpon dan menggedor-gedor pintu, tapi tetap tidak dibukakan, akhirnya kami berdua malah ketiduran karena kami dari luar kota dan langsung kemari , kami minta maaf ", MUA kedua menambahi.
" Cepat bobol pintunya", ucap Eliza tanpa menjawab kedua MUA tersebut.
Eliza yakin cucunya masih tertidur.
Tanpa berkata-kata, kedua ajudan Eliza segera membobol pintu ber pengaman itu. Setelah beberapa saat pintu berhasil terbuka, Eliza segera masuk. Diikuti kedua ajudan pribadinya dan Kedua MUA itu.
Suasana di dalam apartemen Reeneta masih sama seperti semalam, barang -barang masih berserakan dan terlihat Reeneta dan Qaila tengah tertidur lelap.
" Reeneta, Reen, sayang...bangun ", Eliza mencoba membangunkan Reeneta dengan mengoyang goyangkan tubuhnya.
Akhirnya Reeneta menggeliat dan seketika kaget.
" Jam berapa ini", teriaknya.
" Jam sembilan lebih", ucap MUA pertama.
" Apaa?", Reeneta semakin terkaget-kaget.
__ADS_1
" Qai ... Qai , bangun dong, ini sudah jam berapa, aku telat dong.. Gimana ini? ", Reeneta mulai menangis.
Qaila yang terbangun seketika langsung terduduk mencoba menyadarkan dirinya.
" Kami sudah mencoba menelpon dan menggedor-gedor pintu dari pagi tapi nona berdua tidak keluar", ucap MUA kedua.
" Aku pikir kalian sudah siap, atau kau berubah pikiran Reen? Tidak ingin menikah?", ucap Eliza dengan senyuman tipis.
" Omaa .. ", Reeneta merengek dalam tangis tak berkata apapun.
Eliza masih tersenyum tipis, Ia tahu rengekan Reeneta adalah cara meminta tolong kepada nya.
" Aldy dan Willy menelpon sebanyak ini, gimana dong. Reen... Maafin aku yaa.. Aku ketiduran dan sudah seperti mati saja", Qaila semakin panik saat mengecek hp nya.
" Sudah- sudah, segera matikan telepon kalian berdua", kata Eliza.
Tanpa bertanya Qaila mematikan hp nya dan juga hp milik Reeneta. Entah mengapa Qaila menurut saja dengan perintah oma Eliza. Pikirannya blank dan kalut, rasa bersalah kini menghantuinya.
" Sekarang kalian berdua segera siapkan peralatan yaa.. kalian akan merias di mobil, aku akan menyuruh orang membawakan mobil yang cukup besar dan nyaman", kata Eliza pada kedua MUA tersebut dan mereka hanya mengangguk
" Dan lagi...kalian berdua.. Reeneta dan Qaila segeralah mandi, jangan buang waktu lagi", ucap Eliza.
Reeneta dan Qaila segera berlari ke kamar mandi, dan mereka mandi ala kadarnya .
" Sudah jam segini, apa kita harus menelpon Jordy ?", Reeneta mengambil hp berniat menghidupkan.
" Sudah tidak perlu, kau akan semakin panik jika dia menelpon mu. Lebih baik tenangkan diri saja, dan segera berdandan", ucap Eliza.
" Oma benar Reen, ketika nanti ditelpon orang orang itu takutnya malah kita akan semakin panik, lebih baik segera merias wajah saja, ayoo kalian cepatlah", ucap Qaila menyuruh MUA segera memposisikan Reeneta.
Reeneta mengurungkan niatnya mengambil hp dan segera di make up oleh kedua MUA itu.
Di mobil limosin ini sangat nyaman dan pergerakan pun tidak terasa jadi MUA juga bisa berkonsentrasi dengan baik. Reeneta yang awalnya nampak tegang kini terlihat lebih santai.
" Qai .. Kau tidak merias wajah mu?", tanya Eliza yang duduk di sebelahnya.
" Gampang oma, nanti setelah Reeneta selesai saja , aku akan berhias sendiri dan mereka berdua nanti aku suruh bantu merapikan saja", ucap Qaila.
Eliza mengangguk, lalu mengeluarkan hp nya. Ia terlihat serius saat mengetik pesan untuk seseorang.
__ADS_1
" Omaa.. Maafkan aku, padahal aku sudah berjanji pada Reeneta untuk membangun kan nya, tapi apa, aku malah mengacaukan hari penting Reeneta", wajah Qaila nampak lesu.
" Tenanglah Qaila, semua akan baik-baik saja. Aku sedang mengumumkan kembalinya cucuku dan meminta para direksi Artha Grup untuk datang, sementara mereka akan sibuk mengurus tamu - tamu itu", ucap Eliza.
" Terima kasih omaa.. Aku benar-benar minta maaf", kata Qaila pilu.
" Sudahlah nak, Reeneta juga tidak marah padamu kan, kamu tenang saja dan semua akan beres, OK?", Eliza berusaha menghibur sahabat terbaik cucunya itu.
" Tapi ...", Qaila menghentikan perkataannya karena melihat Reeneta memberikan isyarat untuk mendekatinya.
Qaila berjalan ke arah Reeneta.
" Kenapa Reen?", tanya Qaila.
" Kenapa aku gugup sekali ya Qai ?" , ucap Reeneta.
" Tenang ya Reen, kamu memang akan menikah, pantas saja kamu tegang , rilex.. OK..", ucap Qaila.
" Benar nona, ini kan pengalaman pertama jadi wajar saja, nanti kalau sudah sah menikah juga akan lepas semua ketegangannya ", kata MUA pertama mencoba menenangkan Reeneta.
Jam sudah menunjukkan jam 10 lewat, mobil juga sudah terparkir sedari tadi di depan gedung tempat pernikahan Reeneta dan Jordy tapi mereka belum juga bisa keluar karena Reeneta belum siap.
Eliza masih sibuk mengecek hp nya , memastikan info dan kabar terkini dari orang-orangnya yang sudah ada di dalam gedung.
" Sudah jam sepuluh lewat", kata MUA kedua.
" Untunglah sudah hampir selesai", kata mua pertama.
" Kak, tolong kamu bantu Qaila yaa, ini aku tinggal merapikan saja kan", kata Reeneta pada.
MUA kedua itu pun mengangguk dan berjalan ke arah Qaila.
" Nona, saya bantu hair-do yaa.. Calon pengantin sudah finishing dan akan segera siap", ucap MUA itu.
Qaila menoleh pada Reeneta dan Reeneta tersenyum padanya.
Qaila sangat mengagumi kecantikan Reeneta dan juga kebaikannya. Di hari penting seperti ini, kebanyakan orang akan sibuk memikirkan dirinya sendiri, tapi Reeneta masih saja memikirkan orang lain.
" Thanks Reen...", ucap Qaila sambil tersenyum.
__ADS_1
Reeneta tersenyum mengangguk.
***