Dia Canduku..

Dia Canduku..
90.


__ADS_3

Setelah petugas pergi dengan membopong tubuh pria yang tengah pingsan tersebut, suasana menjadi tegang dan canggung. Reeneta dan Jordy sama - sama diam, Jordy belum berani menoleh pada Reeneta.


Semenjak tadi dia tetap memunggungi Reeneta , namun Reeneta masih memandang nya dengan tatapan yang tak percaya. Orang yang di depannya benar adalah Jordy. Punggung itu, benar punggung milik orang yang selama ini di rindukannya.


" Sampai kapan kamu akan diam disitu?" , ucap Reeneta mencoba bersikap biasa dan dengan nada yang datar, meski kini jantungnya berdetak cukup kencang.


Jordy belum bergerak, dia sedang memikirkan kata-kata apa, alasan apa yang bisa dia berikan untuk Reeneta, Ia juga takut, Bianca dan Arnold akan memarahinya, jika Reeneta enggan kembali ke Global setelah ini, karena Jordy tidak bisa menepati janjinya yang hanya ingin melihat Reeneta tanpa menemui nya.


" Aku pergi", kata Reeneta yang segera berbalik untuk memasuki lift di belakang nya.


Jordy segera memutar tubuhnya menoleh untuk memandang Reeneta yang kini tengah berbalik memunggungi nya.


Reeneta berhenti melangkah, mencoba mengatur ketegangan yang kini menjalar di seluruh tubuhnya. Meskipun berdebar hebat , ia tak ingin Jordy mengetahuinya. Reeneta tak ingin dianggap lemah lagi.


Jordy langsung berlari dan memeluk tubuh Reeneta dari belakang. Meskipun sangat kaget , tapi Reeneta mencoba bersikap biasa.


" Aku sangat merindukan mu, sayang..", kata Jordy mempererat pelukannya.


Reeneta terdiam , hatinya kacau, apa yang harus dilakukan nya apakah menyambut Jordy atau harus mengabaikannya. Reeneta memikirkan apa yang benar-benar diinginkan nya. Selama ini ia sangat merindukan Jordy, tapi ketika Jordy kini di hadapannya Ia menjadi takut.


" Lepaskan dulu...!!!", ucap Reeneta pelan tapi tegas.


Jordy mengendur kan pelukannya.


" Kamu masih marah sama aku? " , tanya Jordy mencoba mencairkan kecanggungan antara dirinya dan Reeneta.


" Sudah malam... Aku lebih baik permisi dulu", timpal Reeneta yang terus ingin melangkah pergi.


" Reen.. tunggu Reen ", ucap Jordy berusaha menghentikan Reeneta.


Reeneta memasuki lift diikuti Jordy di belakang nya.


Mereka berdua masih sama-sama diam, hingga tiba di depan pintu apartemen Reeneta.


" Boleh aku masuk? " , tanya Jordy


Reeneta tidak menjawab nya, tapi Ia tetap membiarkan pintu terbuka seakan mempersilahkan Jordy masuk.


" Duduklah.." , ucap Reeneta yang masih menunjukkan wajah datarnya.

__ADS_1


Reeneta pergi ke dapur dan mengambilkan minum untuk Jordy.


' Aku tidak bisa seperti dulu lagi, aku takut... Aku takut ini akan menyakiti ku sekali lagi' , Reeneta bicara dalam hati.


" Sorry adanya cuma ini", Reeneta menyodorkan segelas air putih pada Jordy.


" Terimakasih", Jordy tersenyum sambil meminumnya.


" Jadi , bagaimana bisa kamu samapi kesini ?", tanya Reeneta, sekarang wajahnya menunjukkan senyuman.


" Aku selalu mencari mu , aku .. merindukan mu Reen", ucap Jordy.


Reeneta tersenyum lebar tapi terkesan dingin.


" Sekarang kamu sudah melihat ku, semoga kerinduan mu bisa terobati yaa" , kata Reeneta.


" Kamu kenapa ? Kenapa jadi seperti ini? ", Jordy seakan tak percaya, Reeneta bisa sedingin itu padanya.


" Kenapa bagaimana ? " , timpal Reeneta.


" Reen.. aku minta maaf atas segala yang terjadi tiga tahun yang lalu, tapi semua tidak seperti yang kamu pikirkan" , Jordy mencoba memberi penjelasan.


" Tentang mengapa kamu harus pergi secepat itu, tidak melihat akhir dari perjuangan ku untukmu ", kata Jordy kecewa.


" Tunggu, apa kamu benar-benar tidak sadar? Perjuangan mu berakhir saat kamu memutuskan untuk menerima pertunangan itu bukan? Saat Mama mu menghubungi ku untuk menagih janji yang telah ku ucapkan padanya. Hubungan kita bukankah harusnya sudah berakhir disana, waktu itu" , kata Reeneta, wajahnya berubah lagi, kini berpura-pura nampak penasaran.


Akhirnya Reeneta memilih untuk tetap menyalahkan takdirnya. Dendamnya pada keadaan selama ini membuat semua jalannya tidak mudah. Membuat hatinya tak pernah tenang. Ia tak bisa memaafkan Jordy yang telah melepaskan dirinya begitu saja.


" Tidak Reen!! Aku tidak pernah memutuskan hubungan kita. Sampai sekarang kamu tetap kekasihku", ucap Jordy.


Reeneta tertawa terbahak-bahak , membuat nya terlihat bodoh. Sekali lihat Jordy seakan sudah tau jika semua tawa itu sengaja dibuat-buat oleh Reeneta sendiri.


" Maaf .. maaf ", kata Reeneta


" Jangan melucu disini dong, hhha" , sambung Reeneta.


" Aku selalu serius .... " , ucap Jordy.


" Masa selama tiga tahun kamu gak mencoba mencari kekasih Jord? " , tanya Reeneta.

__ADS_1


Jordy menggelengkan kepalanya.


" Lalu calon tunangan mu? Kamu melepaskan nya begitu saja?", tanya Reeneta membuat ekspresi penasaran.


" Jangan bicara mengada-ada, Reen , hanya kamu kekasih ku", kata Jordy.


" Sayang sekali, jika kamu disini kamu akan cepat move on lho.. Di NewJ semua orang nampak begitu menawan. Banyak orang Cantik dan Genteng. Andai saja aku tahu kamu begitu tersiksa selama ini, aku akan mengenalkan beberapa temanku untukmu", kata Reeneta.


" Apa maksudmu?" , kata Jordy.


" Ahh, pokoknya lain kali aku kenalkan beberapa kawan untukmu .. ku pilihkan yang paling cantik pokoknya. Percaya saja padaku", ucap Reeneta.


" Reen?? " , Jordy memandang wajah Reeneta dengan mengiba.


Ia tahu, Reeneta mencoba melindungi dirinya sendiri kali ini, sikap yang ditunjukkan pada nya ini juga bukanlah Reeneta yang sebenarnya.


Jika seorang bunglon bisa merubah warna kulit nya untuk berkamuflase saat menghadapi ancaman, maka seperti itulah Reeneta saat ini.


' Apa sekarang kamu melihat ku sebagai ancaman Reen ', bisik Jordy dalam hati.


Hatinya sakit, selama ini ia berusaha menata hati, mempersiapkan mental jika sewaktu waktu bisa bertemu Reeneta. Ia bermimpi dirinya akan disambut oleh kekasihnya itu , tapi melihat Reeneta yang sekarang membuatnya makin menyesali kebodohannya di masa lalu. Ia telah merubah Reeneta.


" Boleh ku tebak ? Pasti tadi pagi kamu yang memberikan payung untuk ku bukan ?", tanya Reeneta.


Jordy sekali lagi mengangguk, Reeneta tersenyum.


Kini Sudah hampir dini hari, jam menunjukkan pukul 00.15


" Lebih baik aku kembali ke kamar ku saat ini", ucap Jordy, tahu saat ini tak mungkin ia bisa bicara serius.


" Yahh.. kita harusnya reunian dulu kan ", kata Reeneta sambil menunjukkan sikap berpura-pura kecewa.


" Besok pagi, aku janji jemput kamu besok pagi", kata Jordy sambil berdiri.


Ia melangkah mendekati Reeneta yang masih duduk Jordy mencium kening Reeneta.


" Tidurlah yang nyenyak", ucap Jordy.


Jordy melangkah pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2