Dia Canduku..

Dia Canduku..
53.


__ADS_3

Seminggu berlalu, hari ini Reeneta sudah bisa kembali pulang.


" Sudah siap ?", tanya Jordy


" Yups... oiya bisa kita sekalian melihat Andri, aku ingin melihat keadaan nya. Kenapa sampai sekarang belum sadar juga...", kata Reeneta.


" Tentu", Andri segera mengangkat tas dan bersiap meninggalkan ruangan.


Tiba - tiba pintu terbuka, Willy masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.


" Ada apa Will? Bukankah aku sudah bilang, tidak perlu ikut mengantarkan pulang Reeneta?", ucap Jordy.


" Bukan Jord, aku kesini untuk memberi kabar ke kalian. Untunglah kalian masih disini", kata Willy.


" Ada apa Will?",tanya Jordy.


" Tadi malam Andri sempat sadarkan diri, tapi karena terdiagnosa ada gangguan pada otaknya, pihak keluarganya memutuskan untuk segera membawanya berobat ke luar negeri", kata Willy.


" Syukurlah... bagus kan kalau Andri sudah sadar, kita bisa melihatnya sebelum dia pergi kan?", kata Reeneta.


" Maaf Reen.. Mereka sudah berangkat dini hari tadi", kata Willy.


" Semoga dengan dibawa kesana Andri bisa mendapatkan perawatan yang maksimal", kata Jordy. Reeneta mengangguk.


" Ada hal lain lagi Jord, Reen...", kata Willy.


" Apa ?", tanya Reeneta.


" Ternyata selama ini Silvy sudah menyerahkan diri ke polisi" , kata Willy.


" Kamu serius??", kata Jordy.


" Iyaa.. dan ini, dia memberikan surat untuk kamu Reen..", kata Willy. Willy menyerahkan selembar kertas yang sudah dilipat tanpa amplop.


" Untukku?", tanya Reeneta sembari mengambil surat itu.


" Iyaa, kurir dari kepolisian yang mengantar ini", kata Willy.


Jordy menatap Reeneta yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu.


" Kalau begitu, aku pergi dulu Jord, Reen, Cici sedang menunggu ku , ohh iyaa . . Selamat atas kepulangan mu Reen", Willy segera berlalu.

__ADS_1


Reeneta kembali duduk dan membuka lembaran kertas itu, Jordy mengikuti nya duduk disamping Reeneta.


...Untuk Reeneta,...


...Entah aku pantas atau tidak untuk memberi mu surat ini Reen, tapi aku ingin kamu tahu kalau aku sangat menyesal. Tapi aku tidak berani menemui mu secara langsung. Dan aku dengan tulus ingin meminta maaf padamu. Aku memikirkan semua ucapan mu padaku, dan aku sadar jika aku memang terlalu egois. ...


...Aku yang tidak bisa jujur dengan diriku sendiri, aku yang terlalu bodoh untuk memahami sebenarnya apa mauku. Tapi melihat Kamu yang rela menyelamatkan Jordy dan Andri waktu itu yang rela menyelamatkan dirimu, aku jadi sadar begitulah seharusnya cinta. Cinta harusnya rela berkorban. ...


...Saat itu kamu menanyakan apa Jordy atau Andri yang ada di hatiku, tapi sampai saat ini aku belum mampu menjawabnya. Aku telah menyakiti keduanya, dan aku gak mampu menyebut ini sebagai cinta lagi. Terimakasih sudah membukakan mata hatiku untuk melihat kebenaran....


...Semoga kamu dan Jordy selalu bahagia....


...Maaf kalian menderita akibat ulahku....


" Silvy.. semoga dengan ini dia bisa berubah dan bertobat", kata Reeneta.


Jordy mengangguk tanda setuju.


---


" Wahhh... rindunya tidur di kamar sendiri", kata Reeneta setelah sampai di apartemen.


" Tapi ... kenapa bersih sekali.. tidak ada yang berantakan, kamu membersihkan tiap hari kah?", lanjut Reeneta.


" Ohh iya.. pintar nya kekasihku ini", kata Reeneta yang dengan sengaja mengacak-acak rambut Jordy lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.


" Lemari Es juga sudah terisi penuh", kata Reeneta yang mengambil sekotak susu coklat dan segera duduk di sofa depan Televisi.


" Aku suruh orang juga buat ngisi lemari es", kata Jordy yang kemudian duduk di samping Reeneta.


Reeneta menuangkan susu di cangkir kecil dan langsung meminumnya.


" Kenapa suruh orang sih? Aku juga bisa belanja sendiri", Reeneta menyalakan Televisi.


" Kamu kalau minum, selalu belepotan ", ucap Jordy mendekati wajah Reeneta.


" Mana?", tangan Reeneta bersiap mengelap bibirnya yang terkena susu coklat. Tapi dengan cepat Jordy menghentikan tangan Reeneta.


" Aku yang bantu", kata Jordy yang seketika itu juga mencium Reeneta.


" Manis", kata Jordy sambil tersenyum.

__ADS_1


" Apa sih Jord, harusnya bilang dulu jangan asal cium", kata Reeneta mengusap bibirnya dengan tangannya.


" Apa yang kamu lakukan?", Jordy memegang tangan Reeneta.


" Apa??", tanya Reeneta.


" Kamu mengelap bekas ciuman ku kan?", kata Jordy .


" Aku... Engg... gak, ihh lengket kan bekas susu", timpal Reeneta.


" Kamu bilang apa? Aku harus izin kalau aku mau ciumm? ", Jordy menatap Reeneta dalam-dalam.


" Harusnya begitu kan? Aku juga perlu bersiap-siap", kata Reeneta.


" Emm.. Jord, aku mau tanya sesuatu, " kata Reeneta.


" Apa?", Jordy menatap Reeneta.


" Kamuu.. eemmm.. Kamuu dengan siapa pertama kali berciumann?", kata Reeneta.


" Kamuu.... ", kata Jordy mantap.


" mmmmm.. dengan mantan mu?", Reeneta penasaran.


" Gak pernah, aku maunya cuma sama kamu", jawab Jordy.


Reeneta memandang Jordy dengan wajah tak percaya.


" Baik, boleh Aku cium?", kata Jordy , kini dengan senyuman nakal.


Reeneta mengangkat kedua kakinya ke atas sofa lalu duduk menghadap Jordy. Dilingkarkan kedua tangannya pada leher Jordy. Jordy masih tersenyum, lalu Reeneta mendekatkan wajahnya pada wajah Jordy untuk menciumnya. Detak jantung Reeneta berdegup kencang.


Ia hampir menarik kepala nya mundur, tapi dengan cepat ditahan Jordy. Kini Jordy memegang belang kepala Reeneta.


" Kalau sudah maju, dilarang mundur lagi", kata Jordy yang langsung melumattt bibir Reeneta. Di pagutnyaa bibir Reeneta, ia menguluummm bibir atas Reeneta dengan lembut lalu bibir bawahnyaaa, juga gak luput. Reeneta menyambut segala ciumannn Jordy seakan memang sudah menunggunya. Nafas keduanya memburu.


Tangan kanan Jordy masih menahan belakang rambut Reeneta dan kini tangan kirinya mulai membelai wajah dan telinga Reeneta, di sentuhnya telinga dan leher Reeneta dengan gesekan-gesekan lembut membuat hormon serotonin keduanya naik. Tangan Reeneta masih melingkar di leher Jordy dan ditariknya kepala Jordy membuat Reeneta kini bersandar pada ujung sofa. Sentuhan-sentuhan kecil yang Jordy berikan membuat tubuh Reeneta mengejang dan bergetar karena geeli.


Jordy melepaskan ciumann bibirnya, Kini berganti mencium pipi lalu turun untuk meniup telinga lalu menciumii leher Reeneta, Reeneta mendesahhh menahan hasrat. Semakin dikencangkannya lingkaran tangannya yang kini merangkul tubuh Jordy.


" Reen, percaya padaku, jika kamu yang pertama, harus kamu yang jadi satu-satunya?" , kata Jordy menghentikan aktifitas nya dan kini menatap mata Reeneta.

__ADS_1


Reeneta mengangguk dan mencium Jordy sekali lagi.


###


__ADS_2