Dia Canduku..

Dia Canduku..
37.


__ADS_3

" Gimana ? ", tanya Jordy yang menghampiri Cici sambil terengah-engah.


" Sorry Jord, mereka lari setelah liat mobil lu dateng ", kata Cici.


" Terus, kalian gimana? Gpp ?", kepanikan Jordy sudah mulai mereda.


" Mereka kayaknya cuma mau maen-maen sama kita Jord, " sahut Aldy.


" Iya sepertinya bukan ini tujuan utama mereka Jord, mereka seperti ada tujuan lain dan membuat kita gak fokus", kata Willy menimpali.


" Tapi apa? ", Cici yang merasa sedikit takut akibat trauma masa lalu yang bisa menimpa Willy kembali.


Semua orang nampak berpikir dan tidak ada satupun orang bisa menjawab keraguan di hati masing-masing.


" Gimana ? Lu udah cerita semuanya ke Reeneta ?", Qaila yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


" Sorry Qai, belum sempet, aku langsung kesini saat Cici telpon", kata Jordy.


" Lu tu ngapain aja sih sebenarnya Jord? Ada banyak waktu dari sore kan? Kenapa lu gak jujur dan cerita aja si sama Reeneta ? ", Qaila mulai menghampiri Jordy dengan menunjukkan ekspresi wajah marah.


" Gue , bimbang Qai, ada rasa takut juga, Maaf" , kata Jordy yang memang menyesal.


" Lu ga bisa sepengecut ini Jord, Reeneta sangat percaya sama elu, tapi dengan menyembunyikan semua ini, apa kalian ga mikir, Reeneta bisa aja jadi korban karna ketidaktahuannya ?", kata Qaila.


" Qai, kamu tenang yaa.. Jordy pasti punya alasan. Ini gak mudah buat dia. Kamu tau kan? Seperti apa perasaan Jordy pada Reeneta, jika sampai Reeneta meninggalkan Jordy, gimana?", Cici berusaha menenangkan Qaila yang mulai emosi.


" Kalian yaa... Kalian sangat picik. Bukan Jordy aja yang tergantung sama Reeneta. Tapi dia juga sangat tergantung sama Jordy. Dan lagi Reeneta ku bukan orang seperti itu, aku yakin asal Jordy jujur padanya Reeneta.... " ,Qaila menghentikan bicaranya.


" Tolong Qai, kamu ga tau psikis Jordy yang ... ", Willy menyahut.


" Per setan yaa dengan kalian!!! Aku cuma gak bisa bayangin aja Reeneta yang tidak tahu apa-apa itu , akan dijadikan alat untuk balas dendam sama kalian. Apa kalian gak mikir ha?" , Qaila semakin marah.


" Gak mungkin...." , Jordy seakan berpikir sesuatu.


Semua mata nampak panik, omongan Qaila barusan ada benarnya tapi mereka seakan gak mau menerima pemikiran ini. Bagaimana jika benar benar Reeneta lah tujuan utamanya.


Qaila dengan terburu-buru mengambil hp nya , dia berusaha menelpon Reeneta.

__ADS_1


Tuut.. tuutt.. tuuuttt...


" Gak ada jawaban Jord" , Qaila mulai panik.


" Apa dia sudah tidur ?", tandas Aldy.


" Enggak Al, dia akan bilang ke aku kalau mau tidur", Jordy mengecek hp.nya.


" Aku harus kembali ke apartemennya", Jordy berlari.


" Aku ikut", sahut Qaila yang langsung berlari membuntuti Jordy. Dan Willy , Aldy dan Cici berlari di belakangnya. Mereka semua merasakan kekhawatiran yang sama. Umpan.


" Kalau saja lu cerita semuanya ke dia , dia bisa lebih waspada !!!" , teriak Qaila yang menyesali perilaku Jordy.


***


Setelah perginya Jordy, Reeneta membuka jurnalnya untuk sekedar membaca. Ia ingat ada tugas yang harus dikerjakan. Tapi semua kejadian yang terjadi hari ini membuyarkan konsentrasi nya.


" memang kenapa kalau Jordy seorang gangster ?", Reeneta bicara pada dirinya sendiri.


Lalu Reeneta terbayang cerita masa lalu Qaila saat masih sekolah dulu.


' Tau dari mana mereka anggota Genk', tanya Reeneta saat itu.


' Tau aja... Nanti kalau ada Genk pokoknya jatuhin yaa' , kata Qaila.


' Kenapa?' , Reeneta penasaran.


' Mereka jahat Reen, ada yang suka balapan sampai banyak lawan yang meninggal di tempat, ada yang suka tawuran gak main-main mereka bisa membuat cacat lawannya, ada yang narkoba ada yang suka malakin duit , ihh pokoknya jangan sampai berurusan dengan mereka', kata Qaila.


' Kenapa gak ditangkap polisi ', tanya Reeneta.


' Biasa anak orang kaya, sebelum masuk ke pengadilan udah bebas duluan dengan jaminan ini jaminan itu. Aku tau ini dari ayah dan kakak kakak ku, jadi ini valid sih' kata Qaila waktu itu.


Dulu hanya menganggap itu sebatas cerita yang mengerikan jadi skip untuk memikirkannya, tapi kini Jordy salah satu dari mereka. Reeneta jadi khawatir jika Jordy akan terkena suatu masalah jika masih ada di lingkaran mereka.


Tring... Tring ... Nomor tidak dikenal menghubungi Reeneta.

__ADS_1


" Siapa yaa? " Kata Reeneta pada diri sendiri dan mengambil hp nya.


" Siapa? " ,tanya Reeneta.


" Ini Amel", kata orang di seberang.


" Ini ada Jurnal yang harus dikasihkan ke kamu. Bu Indah titip tadi siang. Sorry gue kelupaan. Bisa ketemu, kata Bu Indah sih penting buat lu ", Amel bicara seperti biasa, ketus.


Yang jadi pertanyaan Amel tidak pernah mau bicara dengannya tapi kenapa tiba tiba dia mau menemuinya bahkan membantunya.


' Apa Bu Indah beneran minta tolong Amel ', kata Reeneta dalam hati.


" Boleh besok saja dikampus Mel, " kata Reeneta.


" Kamu turun aja, aku sudah di depan Apartemen lu" , kata Amel meyakinkan.


Ini semakin membuat curiga, tapi perkataan Amel juga seperti serius, jika Bu Indah benar benar menitapkan Jurnal pada Amel bagaimana. Di kala Reeneta sedang bimbang suara diseberang kembali menyahut.


" Turun sekarang kali, gue masih banyak acara nih, jangan sampai gue nunggu lagi" , ancam Amel.


" Ok tunggu", Reeneta menutup telepon nya dan menaruh hp.nya dimeja.


Ia segera mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang meski tetap memakai kaos oblong. Ia segera turun, tak ingin membuat Amel menunggu lagi.


" Lama amat sih lu" , kata Amel.


Benar Amel memang disini tapi Reeneta tak melihat Jurnal apapun di tangan nya. Reeneta mulai merasakan perasaan tak enak.


" Ayoo ikut", kata Amel.


" Mana jurnalnya Mel? ", tanya Reeneta.


" Kamu masih percaya? Dasar miskin bodoh. Dimana-mana orang miskin memang mudah diperdaya", kata Amel sambil tertawa.


Reeneta sudah mulai putar balik dan ingin segera berlari, tapi sayang dua lelaki sudah menunggu nya di belakang nya dan salah seorang dari mereka memegang Reeneta dengan kuat. Sedang lelaki satunya memberikan tisu tepat di hidung Reeneta.


Reeneta sekejap langsung pusing dan tak sadar kan diri.

__ADS_1


###


__ADS_2