Dia Canduku..

Dia Canduku..
118.


__ADS_3

Reeneta terbelalak kaget setelah melihat siapa tamunya. Ia merasakan kegelisahan yang berhari - hari lalu telah hilang kini kembali lagi dalam sekejap. Kegelisahan yang berusaha Ia lupakan dan kegelisahan yang akhirnya lenyap tanpa dia sadari sendiri. Kegelisahan yang menguap karena selalu dikuatkan oleh Jordy yang berkata semua akan baik-baik saja. Kegelisahan yang beberapa menit lalu tak lagi ia pikirkan, tapi kini tiba-tiba memenuhi seluruh ruang di kepalanya.


" Kami tidak dipersilahkan untuk masuk?" , ucap wanita tua itu.


Eliza Artha. Yaa... Dia ada dihadapan Reeneta sekarang.


" Maaf , silahkan masuk", ucap Reeneta dengan sedikit terbata.


Eliza Artha masuk dengan tetap diikuti oleh kedua lelaki yang sepertinya memang sudah menjadi pengawal pribadinya.


" Siapa Reen?", tanya Qaila masih penasaran.


" Nyonya Eliza Artha", ucap Reeneta singkat dan segera menutup pintu.


Reeneta dan Qaila mengikuti langkah dari Eliza Artha yang segera duduk di ruang tengah. Eliza Artha melihat sekeliling ruangan, nampak sedikit berantakan dengan barang-barang khas acara pernikahan.


" Jadi , Reeneta, kamu akan menikah besok pagi?", tanya Eliza Artha dengan santai.


" Benar nyonya, Saya dan Jordy , seperti yang telah anda ketahui. Saya yakin mama Anita sudah memberikan undangan juga untuk Anda", ucap Reeneta sedikit berhati-hati. Ia bingung harus bersikap seperti apa saat menghadapi Eliza Artha.


" Ahh.. Benar. Tapi sayangnya, pernikahan kalian harus dibatalkan ", ucap Eliza Artha masih dengan ekspresi santai.


" Maksud anda apa sih? Datang datang langsung nyuruh pernikahan batal? Emangnya siapa anda ini? ", Qaila berteriak di depan Eliza Artha. Emosi Qaila tiba-tiba mendidih mendengar orang asing yang ingin menghancurkan kebahagiaan sahabat nya.


" Mohon lebih sopan", ucap salah seorang lelaki yang berdiri di belakang Eliza Artha.


" Gimana mau sopan? Orang ini seenak nya sendiri nyuruh pembatalan pernikahan. Gak tahu gimana perjuangan Reeneta ku...", Qaila tak kuasa melanjutkan pembicaraannya, ia kini merasa tertekan dan terintimidasi karena Eliza Artha menatapnya dengan serius.


Entah mengapa Qaila merasakan kharisma yang luar biasa , hanya dengan ditatap oleh wanita tua itu saja nyalinya seakan menciut dan Ia merasa terintimidasi hingga akhirnya memilih untuk diam. Padahal selama ini ia adalah orang yang berani dan tak mudah takut.

__ADS_1


" Aku gak ingin bicara panjang Lebar, Reeneta, kamu adalah Reyna. 100 % hasil DNA mu cocok dengan ku, dan anakku Mira. Dengan kata lain, kamu adalah murni cucu ku yang telah ku cari selama ini. Dan karena telah menemukanmu aku akan membawamu pergi dari kota ini dengan segera..", kata Eliza Artha yang kini memandang sayu ke arah Reeneta.


Reeneta nampak terkejut , ketakutan nya terbukti sudah.


" Maaf ?" , Qaila menyela.


Eliza Artha hanya menoleh melemparkan pandangan pada Qaila tanpa berbicara sepatah kata pun.


Brughh...


Reeneta terjatuh ditempat nya, seakan tubuhnya sangat lemah dan tak kuat menopang berat badan nya sendiri.


" Reen, kamu gapapa?", Qaila tergagap, Ia ikut berlutut mencoba menopang tubuh Reeneta, Walaupun Ia juga sangat kalut dan takut, pikiran nya kacau karena ia sama sekali tak mengerti dengan keadaan dan situasi ini.


Reeneta tak pernah menceritakan padanya soal Eliza Artha, tapi seakan ia tak asing dengan nama itu.


Eliza Artha tersenyum tipis dan mengangguk.


" Dan anda mengklaim Reeneta adalah cucu anda, Bagaimana mungkin? Dia anak yatim piatu" , ucap Qaila sambil menunjuk Reeneta yang masih bersimpuh duduk di lantai.


Salah seorang pengawal Eliza memberikan map kepada Qaila. Qaila segera membukanya dan segera memahami apa isi lembaran kertas tersebut.


Eliza Artha kembali menatap Qaila.


" Aku sangat berterima kasih padamu nona Qaila. Aku tahu selama lebih dari 10 tahun terakhir ini kau sudah menjaga Reeneta dengan sangat baik", ucap Eliza Artha.


Qaila menatap wajah Reeneta yang kini juga tengah menatapnya, keduanya punya pertanyaan yang sama.


" Sejak SMA, kau sudah menjaga cucuku dengan sangat baik, untuk itu aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Aku tak bisa membayangkan jika Reyna hidup kesepian sendirian di kota ini ,tanpa kamu, sahabat nya", jelas Eliza Artha.

__ADS_1


" Kalian tak perlu terlihat syok seperti itu, aku sudah tau semua perjalanan hidup mu nak", sambung Eliza yang kini menatap wajah Reeneta, cucu yang selama ini ia cari.


Qaila memberikan map itu pada Reeneta.


Reeneta mencoba memahami satu persatu bukti yang telah dikumpulkan anak buah Eliza Artha.


" Reyna, atau maaf Reeneta , setelah kecelakaan yang terjadi pada orangtuamu kami tidak dapat menemukan mu, kami menyimpulkan kamu terlempar dari dalam mobil , itu diperkuat dengan bukti kaca jendela yang terbuka. Sepertinya saat itu kamu mengalami benturan yang menyebabkan kamu kehilangan ingatan. Saat itu usia mu sudah 8 tahun, harusnya kamu sudah ingat sesuatu seperti keluarga dan bahkan namamu, tapi kamu tidak , Kamu sama sekali tak ingat apapun kan?", Eliza Artha menjelaskan semua tanpa Reeneta minta.


Reeneta berpikir sejak, memang ia sama sekali tidak ingat tentang masa kecilnya, Ia hanya ingat jika ia besar di panti asuhan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia tinggal disana, ia sama sekali tidak tahu semua hal itu.


" Kamu tidak mungkin melupakan foto saat kamu masih kecil kan, ada foto kalian bertiga di lembar terakhir", sambung Eliza Artha


Reeneta segera mencapai lembar terakhir di map itu,


Deegh....


Foto sebuah keluarga yang terlihat bahagia, ada anak kecil yang ia sangat yakin itu dirinya dipangku oleh seorang wanita yang sangat cantik, dibelakang nya foto seorang lelaki yang terlihat gagah dan tampan


" Itu kamu, Ibumu Mira Artha dan Ayahmu, Anjas. Foto itu diambil saat kalian masih tinggal di Luar negeri setahun sebelum kedatangan kalian ke kota Global dan terjadinya insiden kecelakaan itu" , kata Eliza Artha.


Masih ada raut kesedihan dan rasa bersalah di wajah Eliza Artha. Reeneta yang melihat nya teringat perkataan Mama Anita tentang betapa terpukulnya Eliza Artha hingga menyalahkan dirinya sendiri atas insiden itu.


" Tapi, bagaimana Reeneta bisa menghilang begitu saja dari tempat kejadian kecelakaan itu?", tanya Qaila.


" Kami kurang yakin akan hal itu, satu satunya petunjuk adalah terekam nya wanita yang di duga odgj di sekitar TKP, polisi mengatakan mungkin saja wanita itu mengangkat tubuh Reeneta yang terlempar dan membawa nya pergi. Kami juga sebenarnya sudah mencari wanita itu, tapi wanita itu ditemukan di sekitar rel dan sudah tewas tertabrak kereta 2 bulan setelah kejadian hilangnya kamu jadi kami tidak bisa mendapatkan jejak keberadaan mu lagi nak"


" Dari situ satu satunya clue , sudah hilang karena kamu pun tidak ditemukan di sekitar wanita itu. Kami terus mencari di setiap Panti Asuhan , tapi tak ada juga. Kami juga membuat pengumuman di TV, Radio , koran, tapi tak ada juga tanda tanda adanya keberadaan mu. Ahh, saat itu panti asuhan tempat mu berada belum berdiri, itulah misteri yang masih belum bisa kami pecahkan , bagaimana kamu akhirnya bisa tinggal disana", Eliza Artha mengakhiri ceritanya.


**

__ADS_1


__ADS_2