Dia Canduku..

Dia Canduku..
89.


__ADS_3

Paradise Palace, apartment tempat Reeneta tinggal di NewJ adalah salah satu kawasan elit dan ternama. Banyak orang ternama , pejabat atau pengusaha yang membeli apartement pribadi disini. Meskipun harganya sangat mahal , tapi karena Paradise memang sangat strategis berada di pusat kota dan menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap.


Reeneta sendiri setelah menyewa dan menyicil membayar pada Bianca akhirnya bisa memiliki hak penuh atas kepemilikan apartemen.


Reeneta kadang sarapan di restaurant dan langsung berjalan kaki menuju kantor BA Management karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh. Hari ini ia ingin makan di restaurant di lantai bawah apartemen nya.


" Mbak, menu biasa yaa.. ", ucap Reeneta pada salah seorang pelayan di restaurant itu yang memang sudah menjadi langganan nya.


" Siap mbak Reeneta.. silahkan duduk", kata pelayan itu.


Reeneta duduk di tepi jendela, hari ini Restaurant tempatnya duduk sudah cukup ramai. Banyak orang pekerja kantoran yang mampir kesini hanya untuk ngopi dan menjernihkan pikiran.


Tidak berselang lama makanan pesanan Reeneta datang. Ia meminum coklat panas dan menikmati pagi ini yang sedikit mendung.


' Ternyata memang ramalan cuaca hari ini akan hujan yaa.. tapi disini mulai siang, aman lah pagi ini ' , batin Reeneta yang mengecek aplikasi prediksi cuaca di hapenya.


Reeneta melanjutkan sarapannya , tapi suasana hatinya berubah gelisah. Ia memandang sekitar karena ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Sedari tadi Ia merasa ada seseorang yang sedang mengawasi nya.


' ahh mungkin cuma perasaan ku', batin Reeneta setelah melihat sekeliling tidak ada orang yang mencurigakan.


Reeneta sempat berlama lama di restaurant ini karena merasa hari masih terlalu pagi. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan berjalan dengan santai. Banyak orang juga yang sedang lalu lalang berjalan menuju tempat tujuannya masing-masing.


Tiba-tiba gerimis turun , meski mendung belum terlalu gelap.


' ahh, sial.. ' ucap Reeneta dalam hati.


Gerimis semakin deras, memaksa Reeneta berlari kecil.


Lalu saat Reeneta tengah berlari dari belakang ada sesosok laki-laki yang menarik tangannya dan memberikan payung kepadanya tanpa berkata-kata , lelaki itu langsung berlari mendahului Reeneta.


Reeneta berhenti.


" Ehh tunggu", Reeneta berteriak dan kaget ada orang yang meninggalkan payung untuknya.


" Siapa sih orang itu, apa orang iseng ya", Reeneta memandang punggung orang yang berlari jauh di depannya itu.


" Ahh bodo ahh.. dipakai aja dulu", ucap Reeneta yang bergegas berjalan menuju kantornya.


Reeneta hanya menduga jika itu staf dari Paradise Palace dan berencana akan mengembalikan patung itu saat pulang kerja nanti.


##

__ADS_1


Jordy berhenti berlari di depan sebuah toko yang sudah jauh dari arah kantor Reeneta.


" Dasar Reeneta bodoh ", kata Jordy sambil tersenyum.


Ia bahagia bisa melihat Reeneta lagi.


" Sudah tahu cuaca seperti ini tapi tak mau membawa payung, ahh aku harus berjalan kaki menuju hotel lagi ", kata Jordy yang langsung berjalan menerobos gerimis menuju Paradise Palace.


Sejak semalam sebenarnya Jordy sudah sampai di NewJ dan menyewa sebuah kamar hotel di Paradise juga. Dari semalam sebenarnya Jordy sudah mondar-mandir di depan pintu Apartemen Reeneta, tapi ia tidak berani memaksakan dirinya untuk bertemu dengan Reeneta.


Pagi ini juga dirinya sempat mengawasi Reeneta saat tengah di restaurant, meski di dalam hatinya ada rasa ingin segera berlari ke arah Reeneta dan memeluk pujaan hatinya itu.


Ditahannya segala hasrat nya, cukup memandang Reeneta dari jauh saja , mengobati kekosongan akan candunya yang selama ini menghilang.


Jordy kembali mengikuti Reeneta saat Reeneta kembali dari pulang kerja.


' Ini sudah hampir jam sepuluh malam, apa dia memang selalu bekerja hingga larut malam seperti ini!!' , ucap Jordy dalam hati.


Di hati Jordy ada rasa kesal yang luar biasa, dari dulu yang ia inginkan adalah Reeneta bahagia, tidak perlu bekerja keras, ia ingin mencukupi semua kebutuhan Reeneta.


Tapi semua hanya tinggal angan, sekarang melihat Reeneta yang memang bekerja begitu keras menandakan betapa tangguhnya Reeneta saat ini dan betapa tidak berguna nya dirinya untuk melindungi Reeneta.


Reeneta menaruh payung di depan pintu masuk, sambil berbicara pada petugas keamanan disana. Sepertinya ia memang merasa itu patung umum yang dibawakan oleh staf dan Reeneta memang sama sekali tidak menyadari keberadaan Jordy.


Ketika Reeneta memasuki lift , Jordy segera berlari dan masuk ke lift yang sama. Jordy segera menuju pojok belakang lift dan Reeneta berada di depan pintu, agar membuatnya cepat bisa keluar nantinya. Reeneta memencet angka 17 , lantai dimana apartemen nya ada disana.


Di dalam lift ada tujuh orang dan sebanyak lima orang tengah keluar di lantai 3 dan 4, akhirnya kini hanya tinggal Reeneta dan Jordy seorang di dalam lift ini.


Jordy memandang Reeneta , Ia memperhatikan Reeneta dari belakang.


' Dia belum berubah sama sekali, hanya semakin kurus', batin Jordy.


Lift terbuka tepat di lantai 6, ada seorang pria berjas yang nampak sempoyongan masuk kedalam lift.


" Tolong pencet kan , aku mau ke lantai 10 ", kata pria itu memandang Reeneta.


Reeneta hanya mengangguk dan melakukan permintaan pria tadi.


" Terimakasih ", kata pria itu.


Reeneta kembali mengangguk pelan .

__ADS_1


" Kamu bisu yaa , sayang banget padahal cantik banget?", ucap Pria itu, sambil tersenyum cengengesan.


" Apa kamu bisa berteriak hah? ", Pria itu menarik tangan Reeneta. Reeneta bisa mencium bau alkohol yang menyengat, meski dirinya enggan bicara.


' Sepertinya orang ini mabuk berat', kata Reeneta dalam hati.


" Kamu sangat cantik", ucap pria asing itu , kali ini berusaha memeluk Reeneta.


Jordy menendang pria itu , membuatnya tersungkur ke pojok lift.


" Sialan , dasar pengganggu", pria asing itu memaki Jordy.


Jordy yang saat ini tengah emosi melihat Reeneta hampir dilecehkan orang seperti itu tak tahan dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria itu.


Pria itu pingsan. Efek Alkohol membuatnya tak mampu melawan Jordy.


Pintu lift terbuka di lantai 10, untungnya ada penjaga di depan pintu dan segera membantu Jordy mengeluarkan pria yang sedang pingsan itu. Reeneta ikut keluar dengan pandangannya yang tak lepas memandang ke arah Jordy.


Jordy memakai topi dan jaket kerah tinggi yang menutup separuh wajahnya.


" Orang ini berusaha mengganggu Nona itu", ucap Jordy pada penjaga.


" Silahkan cek cctv ,misal orang ini tidak terima dengan pukulan ku suruh cari aku di lantai 16", kata Jordy sambil menyerahkan kartu namanya pada penjaga itu.


" Terimakasih dan mohon maaf atas ketidaknyamanan nya. Nona Reeneta kami minta maaf, sepertinya orang ini mabuk dan tidak sengaja masuk ke lift khusus penghuni apartemen", kata penjaga itu.


Reeneta mengangguk mengerti.


" Tolong tingkatkan saja penjagaan di lantai 6, banyak orang mabuk disana", ucap Reeneta.


" Kami mengerti Nona, kami pastikan hal seperti jni tidak akan terulang lagi ", kata penjaga pada Reeneta.


"Tapi maaf , Anda juga sepertinya salah masuk lift tuan, anda tamu hotel bukan?", tanya penjaga itu pada Jordy.


Jordy sempat kikuk, ia tak tahu jika yang dinaiki nya adalah lift khusus.


' Arghh... Sial sekali, gimana ini' , Jordy membatin.


" Tidak apa-apa pak, dia teman sekaligus tamu saya", kata Reeneta.


" Baik Nona Reeneta , sekali lagi kami memohon maaf dan akan segera mengurus persoalan ini. Dan tuan Jordy, terimakasih atas bantuannya", kata penjaga itu yang langsung mengembalikan kartu nama Jordy.

__ADS_1


Jordy yang sejak tadi memunggungi Reeneta dan tak berani memandang Reeneta jadi mematung , rasanya jantungnya berhenti berdetak.


***


__ADS_2