
" Reen... Aku merindukanmu ", bisik Jordy tepat di telinga kanan Reneeta.
Tubuh Reeneta mengejanng mendengar bisikan itu dari Jordy.
Tangan kanan Jordy masih menjelajahi setiap inchi dari wajah Reeneta. Tangannya seakan-akan sedang melukis wajah Reeneta karena setiap lekuk dari mata , hidung hingga bibir Reeneta tak lepas dari sentuhan Jordy.
" Bicaralah Reen... Aku ingin mendengar suaramu ", ucap Jordy tepat di hadapan Reeneta.
Entah mengapa mulut Reeneta menjadi kaku, Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa mengeluarkan suara. Jantungnya juga masih berdetak dengan kencang , dari sela-sela rambut di kepalanya ia bisa merasakan keringat yang mulai berjalan turun.
Tangan kiri Jordy dilepaskannya dari menggenggam tangan Reeneta dan kini telah berpindah untuk merengkuh pinggang Reeneta , memaksa wanita cantik itu menghadap penuh ke arah Jordy meski kakinya masih berada dilantai.
" Bolehkah aku simpulkan jika kamu juga menginginkan nya kan Reen? ", ucap Jordy pelan, membuat Reeneta menjadi merinding.
Jordy mengangkat kakinya ke atas sofa, begitupun kaki Reneeta juga diangkat Jordy ke atas sofa. Dengan begini Reeneta benar-benar menghadap Jordy. Jordy mencondongkan tubuhnya ke arah Reeneta, Reeneta bisa mencium dengan jelas aroma parfum Jordy yang masih menempel di kemejanya. Begitu pun Jordy bisa mencium wangi sampo yang digunakan Reeneta.
Kepala Jordy mendekat dan menundukkan badannya ke leher Reeneta dan dengan cepat menciummi leher Reeneta yang polos tanpa aksesoris apapun seperti kalung dan yang lainnya itu. Tangan Reeneta yang dari tadi ada di depannya dipaksa Jordy untuk memeluk tubuh kekar Jordy. Meski terbalut kemeja dan terlihat kurus tapi nyatanya Reeneta bisa merasakan begitu kekarnya tubuh pria ini. Lalu terlintas di pikiran Reeneta , masihkan lelaki ini sering berkelahi atau adu jotos dengan orang lain.
" Kamu milikku.. ku mohon selamanya jadi milikku, jangan pergi pergi lagi", ucap Jordy yang masih menciumii leher Reeneta membuat Reeneta merinding hebat.
Dengan cepat dan tanpa aba-aba , tangan Jordy meraih dagu Reeneta dan Jordy mengulumm bibir Reeneta dengan lembut. Nafas keduanya memburu , jika kini Reeneta bisa mendengar deru nafas dan detak jantung Jordy yang menggila , maka sedari tadi Jordy telah mendengar kan detak Jantung Reeneta yang tertabuh layaknya genderang.
Jordy masih mengulumm bibir Reeneta, membuat Reeneta mengencangkan pelukan tangannya pada Jordy. Reeneta bisa merasakan tetesan keringat yang berjalan di punggungnya, dengan kedua tangannya Jordy memegang rambut Reeneta dan menariknya ke atas. Sepertinya Jordy menyadari jika Reeneta merasa gerah.
Masih saling berpagutt, ciumann panas ini tak langsung berakhir. Jordy masih menikmati mengulumm bibirr Reeneta dari atas ke bawah dan diulang berulang kali, tapi Reeneta sama sekali tidak membalas ciumann Jordy. Hingga akhirnya dengan halus Jordy membuka mulut Reeneta dengan lidahhnya lalu memainkan lidahhnya disana.
Jordy melepaskan tangannya, membuat rambut Reeneta kembali terurai berantakan. Kini tangan Jordy leluasa memeluk tubuh Reeneta. Jordy melepaskan ciumannya , yang membuat akhirnya Reeneta bisa bernapas dengan leluasa. Jordy mulai menciumi pipi , mata , dahi, hidung dan seluruh wajah Reeneta. Kini ia kembali mendekati telinga Reeneta , meniup -niupkan angin dari mulutnya, membuat Reeneta makin merinding dan mempererat pelukannya ke tubuh Jordy.
Jordy kembali memagutt bibir Reeneta, membuat pujaan hatinya itu kembali memburu nafas mengikuti irama permainan ciumann Jordy yang terburu-buru. Dikulummnya bibiir Reeneta dengan lembut, dan kini Reeneta sudah membalas pagutann bibir Jordy. Jordy membiarkan Reeneta mengulumm bibir bawahnya dan dia akan mengulumm bibirr atas Reeneta, sedikit menghisap dan menggigit bibirrnya membuat Reeneta mengaduuh perlahan. Dan suara itu membuat Jordy merasa nyaman dan memberikan sensasi tersendiri.
Jordy memegang tengkuk Reeneta, memaksa wanita itu semakin dalam memaguttkan bibirnya, Jordy dan Reeneta saling memainkan lidahhnya dan berciuman n dengan panas.
" Aww", Jordy mengaduh, akhirnya Reeneta melepaskan ciumannya.
" Sorry", kata Reeneta. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Jordy.
Jordy tersenyum tapi sepertinya Reeneta amat malu dengan kelakuannya.
" Aku akan ambilkan air", kata Reeneta. Segera Reeneta berlari ke dapur.
__ADS_1
Ia membasuh wajahnya dan berusaha mengatur nafasnya untuk menetralkan degup jantungnya yang masih berdetak cepat.
' Hal gila apa lagi yang telah ku lakukan', kata Reeneta dalam hati.
Ia tak menyangka akhirnya bisa melakukan ciumann dengan Jordy, padahal selama ini Ia mati - matian menolak Jordy yang terang - terangan sedang mengejarnya kembali.
' Mau ditaruh mana mukaku', pekik Reeneta tanpa suara.
Setelah sedikit tenang Reeneta kembali pada Jordy dengan membawakan segelas air putih. Jordy masih duduk di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya.
" Kamu tidak enak badan lagi? ", tanya Reeneta melihat tubuh Jordy yang tertutup selimut.
" Enggak kok, aku sangat sehat", ucap Jordy , lalu meneguk air putih yang di bawakan Reeneta.
Suasana hening sebentar.
" Reen... " , kata Jordy , membuyarkan lamunan Reeneta.
Lalu hp Reeneta berbunyi.
" Rin.. kenapa? " tanya Reeneta
" Ahh iya Rin.. aku menginap di tempat sahabat ku. Aku ke hotel sesaat sebelum kalian check out besok yaa ", kata Reeneta.
" Justru itu aku ingin memberi tahuku kalau pesawat yang akan kami tumpangi memundurkan jadwal pemberangkatan, jadinya kami pulang sore Reen.. besok bos Bi juga akan kesini", kata Ririn.
" Baguslah kalau begitu, sampai besok Rin", kata Reeneta.
" Tunggu... kamu sedang bersama mantan pacar mu kan? Apa yang kalian lakukan sekarang?", tanya Ririn.
" Apa sih Rin.. bukan... sudah dulu ya.. aku tutup telepon nya.. ", Reeneta menutup teleponnya.
" Sahabat?" , tanya Jordy memandang tegas pada Reeneta.
" Ahh .. hanya itu yang terfikir kan di otakku", kata Reeneta sambil meletakkan hp nya kembali ke meja.
" Sahabat tidak ada yang ciumann semesraa itu ", ledek Jordy.
Wajah Reeneta merona merah menahan malu.
__ADS_1
" Anggap saja tadi mimpi dan tidak nyata terjadi", kata Reeneta.
" Ahh .. aku tak ingin menganggap nya mimpi, sudah sering memimpikan juga , bahkan lebih dari ini, masa ini juga harus dianggap mimpi? ", kata Jordy.
Reeneta menatap Jordy dengan kesal.
" Kenapa? kenapa wajahmu itu, merah sekali", kata Jordy.
" Tidak!!", Reeneta memalingkan wajahnya.
" Lihat, bibirku juga nyata-nyata telah kau gigit", ledek Jordy lagi sambil memegang bibirnya yang sedikit memerah karena terluka.
" Jord.. diam lah", kata Reeneta.
" Pokoknya Aku tidak mau menganggapnya mimpi lagi", kata Jordy.
" Oke. . Oke. . itu bukan mimpi. Jadi diam lah dan jangan banyak bicara lagi", kata Reeneta.
Jordy tertawa terbahak-bahak dan merasa senang karena Reeneta akhirnya mengalah padanya.
" Apa ini ciumann pertamamu setelah tiga tahun kita berpisah?", tanya Jordy lagi.
" Hentikan Jordy!! Jangan bahas lagi! Aku akan tidur di kamar kalau kau terlalu banyak bicara, Aku bahkan tidak peduli jika kamu sedang sakit, tidur saja di sofa ini", ancam Reeneta.
" Untukku ini juga ciuman pertama ku Reen", ucap Jordy.
Reeneta berdiri dan pergi menuju kamar, lalu menutup pintunya dengan kasar .
" Dasar bodoh . . aku sudah sudah bilang!! Tidur saja diluar!!", Reeneta berteriak.
" Reen.. bibirku sakit, sepertinya ini akan jadi sariawan" , balas Jordy juga dengan berteriak.
' Dasar bodoh', kata Reeneta dalam hati.
Reeneta langsung merebahkan tubuhnya di kasur , tempatnya dulu tidur.
Sedangkan Jordy di luar masih saja tersenyum sendiri. Ia begitu bahagia, meski Reeneta belum bilang setuju untuk kembali padanya.
***
__ADS_1