
" Kamu... Beraninya bicara seperti itu ", suara Tante Anita meninggi, membuat semua orang yang duduk di dekat meja Reeneta memandang ke arah Reeneta dan Tante Anita.
Kasak kusuk terdengar, Reeneta tahu ia sedang dibicarakan oleh orang orang di dalam cafe ini.
Ya ini memang seperti yang dipikirkan oleh orang-orang, gadis miskin yang tidak direstui oleh ibu dari pihak lelaki. Tapi yang terlintas di pikiran Reeneta saat ini bukan tentang harga dirinya lagi atau rasa malu yang ia rasakan saat menjadi gunjingan di ruangan ini, ia memikirkan bagaimana caranya agar tak kehilangan cintanya.
Reeneta masih tidak menjawab perkataan Tante Anita, dan masih memilih untuk diam.
'Jika saja Jordy ada disini' , batin Reeneta dalam hati , dia berusaha untuk tidak menangis.
" Kamu itu sama sekali tidak sebanding dengan keluarga Sasongko , calon tunangan Jordy", teriak Tante Anita yang masih terbawa emosi.
Reeneta tetap tidak menyahut , ia masih memandang Tante Anita dengan ekspresi nya yang datar.
" Begini saja Reen,kamu masih muda. Kamu sangat cantik dan juga pandai, Bagaimana jika kau ku kenalkan dengan seseorang. Aku pastikan orang itu akan merawat mu dengan baik..", sambung nya.
" Tidak perlu, yang aku inginkan hanya Jordy. Jika tidak bersamanya, biarlah aku sendiri. Anda tidak perlu repot-repot untuk memikirkan masa depan ku. Karena masa depan ku ya cuma Jordy", Reeneta berkata dengan dingin. Tetesan masih turun dari wajahnya yang basah, tapi Reeneta sama sekali tak peduli.
" Bagaimana mungkin kamu dan Jordy sama-sama sangat keras kepala", kata Tante Anita yang kini mulai tenang dan sudah merendahkan lagi suaranya.
" Tunggu , kamu tidak sedang hamil kan?", sambung Tante Anita, Reeneta kembali tersenyum memandang Tante Anita.
__ADS_1
" Jika aku hamil, apa Tante akan merestui kami?", tanya Reeneta yang dibalas dengan mata melotot dari Tante Anita.
" Tenang saja, Jordy selalu menjaga ku dengan baik dan kami belum melakukan hal di luar batas seperti yang Anda pikir", kata Reeneta.
" Aku dan Jordy hanya dua insan yang saling percaya satu sama lain . Kami saling memiliki ketergantungan satu sama lain dan juga kami hanya ingin hidup bersama saja", sambung Reeneta.
" Apa kamu bisa janjikan tentang hubungan kalian. Mari kita buat kesepakatan saja Reen. Kamu tidak mau melepaskan Jordy bukan?", Tante Anita kini tersenyum.
" Jadi akan kupaksa Kamu yang pergi dengan sukarela,. untuk melepaskan Jordy", kata Tante Anita.
" Apa Maksudnya?" , Reeneta tertegun melihat ke arah Tante Anita.
" Jika Jordy dengan suka rela meninggalkan kamu, maka kamu juga harus benar-benar melepaskan nya", kata Tante Anita.
" Aku percaya sepenuhnya pada Jordy", Reeneta berkata tegas.
" Jadi deal untuk perjanjian ini? ",Tegas Tante Anita.
" Kalau Jordy bersedia melepaskanmu kamu pun harus segera meninggalkan Jordy. ", lanjut nya.
Entah ada angin apa , tapi Reeneta mengangguk setuju atas ide Tante Anita. Ia ingin begitu mempercayai Jordy.
__ADS_1
" Deal.... Jadi Reen kamu harus segera bersiap - siap meninggalkan Jordy yaa.." , Tante Anita tersenyum.
Senyuman Tante Anita kali ini membuat Reeneta takut, entah apa yang sedang direncanakan oleh nya.
" Maaf soal air itu yaa Reen.. tadi terlalu emosional", kata Tante Anita menunjuk wajah Reeneta yang masih terlihat basah dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya.
" Gunakan ini.. ini bersih" , ucap Tante Anita sambil mengulurkan sapu tangannya.
" Terimakasih...", kata Reeneta yang masih belum bergerak dari tempatnya.
" Sebenarnya aku sudah mencari tahu latar belakang mu , aku tahu kamu anak yang baik, kamu tidak pernah memanfaatkan Jordy. Aku juga tahu Jordy sangat menyukai kamu. Tapi yang namanya keberlangsungan hubungan diplomatik dua keluarga haruslah tetap terjalin. Aku harap kamu mengerti Reen", jelas Tante Anita.
" Aku pergi ", Tante Anita berdiri dari tempat duduknya dan segera meninggalkan Reeneta sendiri.
Reeneta masih terdiam di tempat , tenggelam dalam kekhawatiran nya sendiri.
Setelah beberapa saat Diambilnya sapu tangan milik Tante Anita yang dari tadi masih terlipat rapi di atas meja. Tapi ia tidak membersihkan wajahnya dengan sapu tangan tersebut. Reeneta hanya memandangnya dan memasukannya ke dalam tas kecil miliknya.
Diluar masih gelap, Hujan juga belum mereda. Reeneta keluar dari Cafe dan melangkah di bawah derasnya air hujan. Kini ia bisa menangis sepuasnya di bawah sapuan Hujan ini.
***
__ADS_1