
" Aku yakin foto ini adalah diriku saat masih kecil", ucap Reeneta sambil menatap foto keluarganya.
Sosok Ayah dan Ibu yang selama ini ia rindukan, ada tepat di depan matanya meskipun hanyalah sebuah foto semata. Ia yang kerap membayangkan bagaimana rasanya pelukan seorang ibu, bagaimana tegasnya perintah seorang ayah, semua itu kerap menjadi impian dalam lamunannya. Tapi ketika di titik terakhir Ia akhirnya bisa melupakan semua bayangan dan lamunannya tentang kehidupan keluarga, Ia harus dipertemukan dengan kenyataan pahit jika memang dari awal dirinya harus selalu sendiri. Karena meskipun akhirnya ia tahu siapa ayah dan ibunya tapi tetap saja, pelukan, kasih sayang dan cinta mereka tak akan pernah ia dapatkan.
" Apakah mereka orang baik?", tanya Reeneta menatap Eliza Artha dengan mata nanar.
Eliza melangkahkan kakinya menuju Reeneta, menuju putri kecil dari anaknya yang selama 20tahun ini tetap ia cari. Eliza menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan Reeneta yang masih duduk bersimpuh di lantai, di peluknya cucu nya itu dengan erat, dengan kasih dan dengan luapan kerinduan.
Reeneta untuk pertama kalinya dapat merasakan sebuah pelukan dari neneknya sendiri. Nenek kandungnya, keluarga terakhir yang ia punyai saat ini.
Dirasakannya tangan Eliza yang mulai berkerut karena usia , tubuhnya tak setegap kelihatannya, Eliza Artha memang sedikit bungkuk meski tidak terlihat renta. Tak bisa di pungkiri, Ia memang wanita yang tangguh untuk usia 60 tahunan lebih.
" Orang tuamu adalah orang yang sangat baik, sangat baik", ucap Eliza lirih.
Tak terasa air mata mengalir begitu saja, kini pipi Reeneta penuh air , matanya mulai memerah, dan isakan nya semakin mengeras.
Eliza yang sedari tadi mencoba untuk tetap terlihat tegar akhirnya luluh juga, matanya basah oleh air mata.
Qaila masih berdiri di dekat mereka berdua dan ia merasakan haru yang luar biasa. Tak disangka sahabatnya akhirnya menemukan keluarga nya. Kepingan kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidup nya akhirnya ditemukan.
Berselang beberapa saat akhirnya suasana kembali kondusif Reeneta dan Eliza sudah duduk kembali. Terlihat suasana memang masih sedikit canggung. Reeneta memang orang yang susah akrab dengan orang baru dan Eliza memang terlihat orang yang berwibawa tanpa banyak kata - kata.
" Maaf , tadi aku sedikit tidak sopan padamu, ne..nek", Qaila mencoba mencairkan suasana.
" Aku mengerti ", ucap Eliza Artha pada Qaila.
" Ahh, mulai sekarang Reeneta dan Qaila bisa panggil aku oma ", sambung Eliza.
Reeneta tersenyum pada Eliza Artha. Meski ia memang masih sulit mempercayai ini semua , tapi Eliza memang neneknya. Semua bukti sudah sangat meyakinkan.
" Aku berterimakasih padamu nak Qaila, aku sungguh sungguh mengatakan nya, jika Reeneta tidak memiliki teman sebaik dirimu.. ", Eliza menghentikan perkataan nya.
" Akulah yang sangat beruntung oma, Reeneta sangat baik, berbeda dengan semua orang. Dialah orang yang selalu ada di pihakku, mendukung ku dan salah satu alasan yang menjadikan aku seperti sekarang ini", ucap Qaila.
" Tentu saja, Jaksa muda terberani yang ku kenal. Akibat keberanian mu salah satu skandal anak perusahaan Artha Grup dapat terbongkar", Eliza Artha tersenyum.
" Ahh oma, Perusahaan itu...", Qaila segan untuk meneruskan perkataannya.
__ADS_1
" Tenanglah.. Aku malah ingin berterima kasih. Segala bentuk Korupsi tidak aku benarkan. Jika kejaksaan tidak bertindak, aku yang akan bertindak", ucap Eliza.
Artha Grup memang selalu jujur, jarang ada masalah dan terkenal sangat bersih. Makanya kasus yang dipegang Qaila kemaren sangat booming karena menyangkut raksasa ekonomi sekelas Artha Grup.
" Emm, aku baru tahu, kau sehebat itu Qai", goda Reeneta.
" Itu kasus saat kamu belum kembali ke Global Reen, pantas lah kamu gak akan bisa melihat seberapa bersinarnya aku ", Qaila berbangga hati
Reeneta dan Oma Eliza tertawa .
Inilah salah satu kelebihan Qaila yang sangat Reeneta kagumi, bagaimana ia bisa dengan mudah mengakrabkan diri, beradaptasi dengan orang asing bahkan caranya mencairkan suasana yang tegang menjadi sehangat ini, Reeneta tak pernah bisa melakukan seperti sahabat karibnya itu.
" Tapi , oma... Tadi anda bilang Reeneta harus ikut pergi denganmu, kemana?", tanya Qaila kembali serius.
Sebenarnya Qaila ingin menanyakan kenapa Pernikahan Reeneta harus batal, tapi diurungkan takut mengubah suasana hati Oma Eliza.
" Ahh itu, tentu saja... Reeneta harus segera menyesuaikan dirinya. Ia ada pewaris Artha Grup, aku harus segera memberikan semua milikku padanya", jelas Eliza.
" Tapi oma..", kata Reeneta mengeluh.
Eliza dan Qaila memandang Reeneta menunggu hal apa yang ingin disampaikan nya.
Belum sempat Eliza menjawab...
Brakkkkk......
" Reen....", suara Jordy berteriak sambil membuka pintu apartemen dengan kasar. Jordy sedikit berlari mencari wajah kekasihnya.
" Jordy... Kenapa kok tergesa begini?", tanya Reeneta.
Tanpa berkata-kata Jordy berhambur memeluk tubuh Reeneta, tersirat dengan jelas raut ketakutan dan kekhawatiran di wajah Jordy.
Di belakang Jordy ternyata banyak orang yang mengikuti. Terlihat Mama Anita, Papa Jason, Aldy Willy dan kak Arthur.
" Syukurlah kamu baik-baik saja Reen", ucap Jordy.
" Memangnya kenapa Jord? ", Reeneta sedikit heran.
__ADS_1
" Maaf ... Aku kirim tanda SOS ke Aldy, karena kupikir oma.... Tadi ... " , Qaila sedikit terbata tak bisa menjelaskan, ia takut melakukan sesuatu yang salah.
" Syukurlah... Kalian semua sudah ada disini, jadi aku tak perlu mengundang kalian lagi", Eliza akhirnya berdiri seperti ingin menyambut kedatangan keluarga Jordy.
" Sesuai dugaan awal, Reeneta adalah cucu kandungku, anak dari Mira Artha. Anita, kau pasti sudah menduga ini 100% kan? Jadi aku akan membawa Reeneta pergi bersamaku", ucap Eliza sambil merangkul Reeneta, melepaskan nya dari pelukan Jordy.
" Tante, aku sangat senang jika Reeneta ternyata adalah cucu mu dan penantianmu selama ini tidaklah sia-sia", ucap Anita.
" Tentu, aku pun mengucapkan terima kasih kepada kalian yang turut menjaga cucuku selama ini", sambung Eliza.
" Tunggu.. Apa kau sudah yakin Reen? Benar kamu bagian dari keluarga Artha?", Jordy terlihat sedikit khawatir.
Reeneta membuka map dan memperlihatkan foto nya saat masih kecil.
" Ini aku Jord, aku tak mungkin melupakan wajahku sendiri", ucap Reeneta sedikit tersenyum.
Reeneta lalu memberikan map itu pada Jordy, map yang berisi bukti bukti yang mendukung semuanya, dan hasil test DNA juga.
Arthur, Willy dan Aldy yang memang belum mengerti sepenuhnya masalah ini hanya bisa diam melongo. Mereka sedikit kaget , Reeneta adalah cucu dan pasti akan jadi pewaris tunggal Artha Grup. Perusahaan terkemuka dan terdepan.
" Test DNA ini? ", Jordy masih sedikit penasaran.
" Tenanglah Jordy, itu real, karena mama sendiri yang memberikan sample rambut Reeneta pada tante Eliza", ucap Anita dengan ceria.
" Kami tidak mungkin memalsukan hal seperti ini , karena ini menyangkut pewaris Artha Grup", ucap Eliza.
" Syukurlah", papa Jason nampak bernafas lega.
" Jadi, aku harus menyampaikan hal penting. Aku menolak pernikahan Reeneta dan Jordy, Pernikahan mereka harus batal ", ucap Eliza dengan tegas.
Jordy mematung.
Anita dan Jason nampak gundah,
Reeneta melepaskan tangan Eliza dari tubuhnya, wajahnya nampak kecewa dan khawatir.
Dan sisanya, orang -orang disana tak ada yang dapat mereka lakukan. Intimidasi Eliza Artha benar - benar membuat mereka terpaku.
__ADS_1
**