
Bab 100 DPT
Wanita berpakaian merah itu tertawa dengan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ana memperhatikan tangan wanita itu yang keriput dengan kuku yang panjang seperti yang siap menerkam. Kulitnya terlihat banyak luka berongga dengan darah bercampur nanah yang tercium aroma busuk dan menjijikan apabila berada di dekatnya.
Wanita bergaun merah itu tertawa. Tertawa yang lebih jahat dan lebih menakutkan dari wanita sebelumnya.
"Hahaha, hihihi, saya pesan kopinya satu, hihihi."
"Nih, kunti ngajak ribut ya? Mana ngikik mulu," bisik Risa yang tengah bersembunyi bersama Bayu.
Ana hendak menuju Jaya, tetapi tubuhnya tiba-tiba merasakan tidak bisa bergerak sama sekali. Begitu juga dengan Jaya. Tubuh mereka seperti menolak untuk berjalan lagi. Keduanya seperti terpaku dengan permukaan bumi dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Kuntilanak merah itu terus menerus tertawa dan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia mendekat. Sosok itu lantas mengusap perut Ana. Jaya berusaha menggerakkan tubuhnya agar terbebas. Sosok kuntilanak merah itu lantas menjilat pipi Ana.
"Jangan coba-coba menyentuh bayiku, atau aku akan memanggil Iblis Rahwana ke sini," ancam Jaya.
Hantu kuntilanak merah itu menoleh pada Jaya. Dia memang merasa aura yang berbeda dari pria itu. Jaya berusaha dengan keras untuk bergerak dan semakin mengeluarkan cahaya berpendar yang membuat sosok hantu kuntilanak itu mengerti.
Air yang tengah direbus tadi, tiba-tiba mengeluarkan suara menandakan kalau sedang mendidih dari arah dapur. Sosok kuntilanak merah itu lantas menjentikkan jari sehingga Ana dan Jaya bisa bergerak lagi.
"Air belum kamu matiin, Na?" tanya Jaya akhirnya setelah berhasil melepaskan diri.
"Oh iya, aku lupa."
"Nah, buatkan aku kopi atau kalian tak akan bisa bergerak sama sekali seperti tadi, selamanya… hihihihi!" Kuntilanak merah itu mengancam seraya tertawa terkekeh geli.
Ana menoleh pada Jaya, yang pada akhirnya menganggukkan kepala. Ana lantas menuju ke dapur untuk mematikan air. Ketika berbalik untuk meraih kopi sachet, sosok kuntilanak merah tadi sudah berdiri di samping Ana. Dia menepuk bahu Ana. Sontak saja, Ana kemudian menoleh. Dia terperanjat kala melihat wajah yang menyeramkan dari wanita berbaju merah tadi.
"Kopinya yang hitam ini, hihihihihihi."
"Ih, si Mbak jangan ngagetin begitu!" tukas Ana.
"Bikinin aja, Na!" titah Jaya.
"Tapi, katanya yang punya warung … mbak kopinya udah basi, kadaluarsa. Belum nyetok lagi." Ana meraih sachet kopi di tangan kuntilanak merah tadi dan membuangnya ke tong sampah.
Tiba-tiba, aura dari luar warung tiba-tiba
__ADS_1
mencekam. Kali ini bahkan udara yang masuk dari luar seperti menusuk kulit. Angin terasa sangat dingin dan mendadak bertiup kencang hingga bisa menggoyangkan beberapa barang dari etalase warung.
Wanita berbaju merah itu sepertinya menjadi marah atas jawaban Ana yang mengatakan kopinya kadaluarsa dan habis. Sosok itu pun berdiri dan menatap ke arah Ana dari dekat.
Ana kembali melirik ke arah Jaya. Lalu dia melihat kuntilanak merah itu rambutnya perlahan terangkat. Seperti dihantam dengan blower rambut wanita itu terangkat bagai model iklan shampo. Wanita berbaju merah itu kian melotot ke arah Ana. Dan tidak ada tawa lagi yang muncul dari mulutnya kali ini.
"Itu air panas mau buat kopi untuk siapa?!" seru hantu kuntilanak merah itu yang berbicara dengan nada marah sambil menunjuk air panas yang baru mendidih.
Hantu kuntilanak merah itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan urat-urat yang muncul di wajahnya. Suara gemeretak tulang leher jelas terdengar mengerikan. Kuku yang ada di tangannya malah semakin keluar. Ujung kuku itu tajam bagai sebilah pisau.
"Sa-sayang, ini gimana?" Na mulai panik seraya menoleh pada Jaya.
"ITU KOPI BUAT SIAPA?!"
Bentak kuntilanak merah itu lagi sampai menyentak bahu Ana dan Jaya. Bahkan Risa dan Bayu.
"Ng-nggak, nggak jadi buat kan udah kadaluarsa," sahut Ana.
Kuntilanak merah itu lantas berteriak seiring beberapa daun yang berterbangan di sekitarnya. Angin yang berembus menjadi lebih kencang. Kuntilanak merah itu lantas menyerang Ana dan Jaya.
"Tunggu! Biar saya yang buat!"
"Tapi, Bay–" Risa mencoba mencegah.
"Daripada kita celaka. Udah nurut aja sama dia!" seru Bayu.
Setelah kopi hitam panas itu jadi, si kuntilanak merah langsung meminumnya sampai habis tanpa ditiup terlebih dahulu.
"Bener bener keturunan debus nih kunti," bisik Risa seraya menggelengkan kepala tak percaya.
Tak lama kemudian, kuntilanak merah itu menerbangkan meja dan semua barang di warung. Ana, Jaya, Bayu, dan Risa langsung berlindung menyelamatkan diri.
Detik demi detik berlalu setelah kekacauan tersebut. Akhirnya, semuanya kembali seperti semula. Namun, ibu penjual warung tadi sudah datang dan duduk di sudut warung sambil bersenandung.
Ana mendekatinya, "Bu? Ibu dari mana saja? Kenapa baru datang setelah sekian lama kita nunggu?" tanya Ana.
"Saya nggak ke mana-mana, kok. Oh iya, bis nya udah mau jalan tuh, Non," ucapnya.
__ADS_1
Ana dan Jaya saling bertatapan heran. Semua kondisi warung tampak tak ada yang berubah dan berantakan. Risa dan Bayu juga menatap heran. Mungkinkah mereka hanya bermimpi bersamaan? Atau malah mereka masuk ke dimensi waktu bersamaan, dan kini kembali?
Ana lantas membayar makanan yang mereka pesan. Lalu bergegas menuju ke bus mereka.
Setelah bus yang ditumpang Ana dan lainnya melaju, suami ibu pemilik warung datang.
"Gimana, Bu? Malam ini sukses jualannya?" tanya sang suami.
Ibu penjual warung lantas terduduk lemas.
"Uangnya hilang semua, Pak."
"Loh, gimana sih? Katanya kamu punya penjaga warung yang juga lagi hamil. Jadi bisa sekalian dapat tumbal, kenapa jadi hilang semua uangnya?" tanya si suami.
"Mereka pasti buat kopi pas kuntilanak merah dateng. Ternyata tamu kita kali ini kuat sama mantera kita, Pak. Mereka nggak terpengaruh sama sekali," isaknya.
***
Malam itu di dalam wilayah Istana Kerajaan Garuda, rasa gelisah menggelayut di hati Ratu Melati.
"Rama, bantu nenek ya. Kita pergi dari sini membawa tubuh Ayah Jaya," pinta Ratu Melati.
Rama mengangguk mengiyakan.
Ratu Melati hendak memanggil Panji untuk meminta bantuan, tetapi Rama melarangnya. Rama memperlihatkan sebuah video yang mencengangkan. Di layar ponsel milik anak itu, Rama menangkap sosok Panji sedang bercumbu bersama Widi.
"Ya Gusti Agung, apa-apaan ini? Panji mengkhianati aku selama ini. Ia tidak menjalankan perintah untuk menghukum mati Widi. Atau jangan-jangan selama ini Panji membodohi aku?" Ratu Melati tersentak tak percaya.
Rama mengangguk dan berkata, "Paman ini jahat sama nenek, sama ayah Jaya, sama Mama Ana juga dia jahat! Pokoknya dia jahat!" ucap Rama.
"Jahat? Jahat bagaimana Rama?"
"Pokoknya jangan dipercaya, di jahat!" Rama bersikeras.
"Jika ucapan Rama benar, maka siapa yang harus aku percaya sekarang ini? Baiklah kalau begitu. Ayo, Rama kita sembunyi dari sini," ucap Ratu Melati.
...******...
__ADS_1
...To be continued...
...See you next chapter!...