
Bab 81 DPT
Dua tahun yang lalu…
Seorang pria turun dari mobil sedan bututnya dan memarkirkan di tepi hutan. Ia melangkah masuk melewati jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon besar. Banyak daun kering berserakan menutupi langkahnya. Pria itu berhenti di depan sebuah rumah nan megah. Rumah megah yang hanya bisa dilihat oleh manusia yang memiliki ilmu kebatinan.
Pria itu memasuki rumah tersebut dan melangkah pasti menuju lorong dengan lantai kayu. Seorang laki-laki yang menutupi dirinya dengan sehelai kain panjang tengah menyusuri anak tangga ke bawah. Kain itu lalu dililitkan ke atas kepala. Ia berhenti tepat di muka pintu kemudian mengetuk dengan lingkaran plat besi yang tergantung di badan pintu.
Tok, tok, tok.
Tak ada jawaban, tetapi dia itu tahu bahwa seseorang yang dia cari ada di balik pintu ini. la mendorong pintu kayu tersebut.
Krieeeeet.
la melangkah masuk ke sebuah ruangan yang gelap gulita dan tersembunyi di dalam pondasi sebuah rumah megah di tempat terasing.
Brak!
Pintu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, menimbulkan suara berdebum yang mengagetkan. Namun lelaki ini tak bergeming, ia melanjutkan langkah menyusuri lantai kayu di mana bisikan-bisikan gaib mulai terdengar di telinganya.
Beberapa kali terlihat rupa boneka-boneka santet yang menyeramkan di hadapannya. Kepala boneka bayi yang ditancapkan dengan besi itu juga berlumuran darah. Boneka-boneka itu seakan hidup. Namun, hal menyeramkan itu tetap tak mengendurkan keberanian lelaki tersebut.
Dari jauh terdengar suara sesuatu yang bergesekan, seperti suara seseorang yang sedang menenun. Suara seorang wanita juga terdengar bersenandung.
Suara itu semakin terdengar jelas.
Bayangan hitam yang terbentang di hadapannya perlahan hilang kala ia terus melangkah. Ada di satu titik di ruang paling dalam terlihat sosok wanita berambut panjang tengah bersila sembari menenun dan bersenandung.
Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih dengan lengan panjang. Tangannya elok memainkan jarum-jarum yang terlihat seperti sumpit. Ia memintal benang berwarna kehitaman menyerupai rambut tersulur. Membentuk paras seseorang di kain tenunnya tersebut.
"Selamat malam, Nyai Aya. Senang bertemu denganmu lagi," ucapnya.
__ADS_1
Wanita yang sedang menenun itu berkata, "Suatu kehormatan bagiku mendapat tamu terhormat. Murid terbaik Eyang Rano."
"Kau masih saja sangat cantik," puji pria itu.
"Apa kau sudah menggenggam kekuatan sejati? Pasti belum karena kau rela datang jauh-jauh hanya untuk menemuiku," ucap Nyai Aya dengan suara yang seperti sedang berbisik.
Pria yang berdiri perlahan membuka kain yang menutupi kepalanya, rupanya ia adalah Mbah Karso. Satu-satunya murid Eyang Rano yang selamat. Dan kerap bersekutu dengan jin, menjalin ikatan darah dengan para makhluk gaib, dan bersumpah menjadi saudara dalam mengabdikan diri untuk sang iblis.
"Lama sekali sejak terakhir aku melihatmu, Nyai Aya. Ku dengar kau yang diperagungkan dengan nama Ratu Iblis Pemgasih," balas Mbah Karso sembari menunduk di hadapan wanita yang menutupi wajahnya dengan rambut yang teramat sangat panjang itu.
"Apa yang bisa kubantu untukmu? Jangan banyak basa basi, katakan saja!" seru Nyai Aya.
Mbah Karso melihat wanita itu, tatapannya terlihat bersimpati, kondisi wanita ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Aku hanya datang berkunjung, kangen," sahutnya.
"Hahaha, datang berkunjung? Tak mungkin seorang Karso hanya ke sini dan berkata kangen. Apa kau takut ya kalau ajalmu akan segera tiba?" Wanita itu berdeham lalu tertawa kecil lagi.
Mbah Karso tertawa kecil lalu melihat sekeliling, ruangan ini terlihat seperti penjara. la tahu alasan kenapa Nyai Aya, satu dari nama pemilik kanuragan yang memilih menjadi iblis dan yang paling tua setelah Iblis Rahwana, memilih mengasingkan diri di tempat seperti ini.
Pandangan Mbah Karso tertuju pada mangkuk kosong berisi genangan darah yang mulai kering. Tulang belulang juga berserakan di sudut ruangan.
"Sepertinya fisikmu tak banyak berubah, masih terlihat sangat muda seperti saat aku melihatmu dulu. Apakah keabadian benar- benar sudah mengutuk dirimu?" Mbah Karso menyeringai.
Wanita itu untuk pertama kalinya mengangkat wajahnya melihat Mbah Karso dengan bola matanya yang hitam pekat.
"Bila saja aku diizinkan menua lalu mati seperti dirimu, maka aku akan menyambutnya dengan senang hati. Namun, nasi telah menjadi bubur, bukan? Aku hanya lelah," ucapnya.
"Aku tahu, kusampaikan simpatiku kepada dirimu. Tapi, aku yakin kau belum lupa bagaimana daging segar para pemuda dan darah perjaka membasahi kerongkonganmu, bukan? Aku yakin kau masih suka itu," ucap Mbah Karso seraya melirik tumpukan tulang di sudut ruangan itu.
"Salah sendiri dia tersesat dan masuk hutan sini. Salah sendiri juga dia tergoda pada tubuhku dan bertindak kurang ajar! Jadi, langsung saja, katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan hingga datang jauh-jauh untuk menemuiku?!" tanya suara Nyai Aya dengan nada meninggi kali ini.
__ADS_1
Mbah Karso mengangguk tersenyum.
"Kamu pasti tahu tujuanku ke sini. Kau pasti sudah bertemu Surau. Tapi, sampai saat ini aku masih bertanya-tanya kenapa di saat-saat terakhir sebelum santet Ambil sukmo dilepas, kamu memutuskan untuk bergabung bersama kami. Jelas-jelas kami semua tahu kamu begitu dekat dengan Sumardjo. Apa karena dia menikahi Melati? Apa itu yang membuatmu berubah pikiran?" tuding Mbah Karso.
Wanita itu terdiam lama sebelumn menjawab pertanyaan Mbah Karso.
"Banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Hal ini bukan hanya serta merta menghapus satu nama di antara penguasa Pulau Garuda. Aku juga sudah tak bisa menjadi manusia lagi, kan? Tetapi aku juga sadar bahwa hari saat satu per satu dari kita akan menebus segala dosa yang selama ini sudah kita perbuat akan segera tiba. Jadi kuputuskan untuk mempercepat semuanya. Aku ikut serta dengan rencanamu," tuturnya.
"Hanya itu?" tanya Mbah Karso.
"Sudah katakan saja! Apa yang sekarang kau inginkan dariku?" tanya Nyai Aya.
"Penerusmu. Aku tau kau memiliki putri, kan? Berikan dia padaku untuk menghabisi nyawa Sumardjo! Menyiksa semua keturunannya dan–"
"Dan ingin memiliki Melati menjadi permaisuri mu, bukan? Bukan hanya aku yang kecewa melihat Sumardjo dan Melati menikah, iya kan?" Nyai Aya tersenyum menyeringai.
Mbah Karso hanya tersenyum.
"Bawa Widi bersamamu, dia akan menuruti segala perintahmu dengan baik," ucapnya.
"Baiklah, aku akan menjaganya. Lalu, apa kau akan tetap berdiam diri di sini?" tanya Mbah Karso.
"Seperti yang kau bilang, aku merindukan darah dan daging segar perjaka setelah menyantap pria itu. Nanti juga kau akan dengar berita hilangnya para pemuda, hahahaha." Nyai Aya membereskan alat-alat tenunnya.
Ia bangkit lalu menunjukkan jalan pada Mbah Karso untuk menemui wanita bernama Widi. Wanita yang dijadikan abdi dalam untuk Ratu Melati.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1