Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 90 - Menginap Lagi


__ADS_3

Bab 90 DPT


Siti duduk di hadapan Ana dan Juna.


"Ini ada titipan dari Mbak Mimin. Ini emas mas kawin dari Mas Toto buat dia. Mbak Mimin meninggal dalam kecelakaan dan mau mengembalikan ini ke Mas Toto," ucap Ana menjelaskan.


"Mbak Mimin? Maksudnya Marimin? Ya Allah, alhamdulillah…." Siti terlihat sumringah seraya mengenggam mas kawin tersebut.


"Kok, kamu nggak sopan, sih? Masa mantan calon kakak iparnya meninggal malah bersyukur?" celetuk Risa terlihat kesal.


"Saya bersyukur karena pernikahannya batal. Waktu Mas Toto mau nikahin dia, Mbah jadi struk begitu karena banyak mikir terus stres," ucap Siti.


"Jadi pernikahan mereka bakal nggak direstui, begitu?" tanya Ana.


"Ya iyalah, Mbak Ana. Marimin itu teman kecil Mas Toto. Mereka sahabatan bahkan pesantren bareng. Terus pas lulus SMA, Mas Marimin ke Thailand buat operasi," ucap Siti.


"Oh gitu… eh, apa tadi kamu bilang? Mas?" Ana memekik tak percaya.


Siti mengangguk.


"Oalah jadi hantu tadi itu transfer toh," celetuk Risa.


"Transgender, Risa! Kamu pikirannya nggak jauh dari bahasa duit mulu. Masa trasferan? Gaji kali, ah!" Ana manjambak Risa sampai mengaduh.


Sontak saja, Jaya dan Juna tertawa karenanya.


"Tapi aku ngerasa gagal jadi cewek, Na. Itu si Mbak Mimin cakep banget jadi cewek!" seru Risa.


"Iya ya, tadi dia cakep banget loh. Cewek banget!" sahut Ana.


"Bayu ke mana, ya?" tanya Ana.


"Barusan ada di depan sana. Ummm, tadi aku suruh dia buat ambilin buah jamblang di sana, hehehe." Risa menjawab seraya meringis.


Namun, tak lama kemudian, Bayu kembali dengan berlari setelah turun dari pohon jamblang dan membawa banyak buah itu di kausnya.


"Pak Juna, lihat ke sini sebentar!" seru Bayu seraya meletakkan beberapa buah jamblang itu di depan Risa.


"Ada apa, Bay?" tanya Juna.


"Ban mobil bapak ada yang preteli," sahutnya.


"APA?!"


Juna memekik tak percaya.


***

__ADS_1


Juna menghubungi kepala desa yang ternyata tengah berada di kota untuk berkumpul dengan para kepala desa lainnya. Perkumpulan kepala desa penganut aliran sesat dan pesugihan.


"Terus kita ke Desa Abang naik apa?" tanya Ana.


"Aku hubungi si Moko buat jemput kita. Gila ini benar-benar gila, masa ban mobil aja dicolong," keluh Juna.


"Apa ini tindakan yang sama buat menghambat kita ke Bukit Emas?" sahut Jaya.


"Oh iya bisa jadi," ucap Ana.


Ana lantas menceritakan kecurigaannya tentang orang-orang bayaran yang selalu menghambat perjalanannya.


"Maaf, tadi aku dengar Mbak Ana mau ke Bukit Emas?" tanya Siti menyela.


"Iya, Ti. Apa ada yang bisa mengantarkan kami ke sana?" tanya Ana.


"Mas Toto katanya baru dari sana. Dia mau bawa Eyang Setyo ke sini buat nyembuhin Mbah Ijah," ucap Siti.


"Tadi kamu bilang siapa? Eyang Setyo? Aku lagi cari dia loh, Ti," sahut Ana.


"Ya udah mending Mbak Ana nginep di sini dulu aja. Biar nanti ketemu sama Eyang Setyo," pinta Siti.


"Kayaknya nginep aja deh, Na. Udah magrib juga nanti anak kita pada sawan," bisik Risa.


"Oke deh." Ana mengangguk.


"Na, aku merasa ada aura yang tidak baik di sini. Aura jahat sepertinya," ucap R


Jaya.


"Hmmm… kamu bantu awasi saja, Sayang. Nanti kalau ada hal-hal yang mencurigakan, kamu lapor ke aku. Tapi, jangan jauh-jauh dari aku," bisik Ana.


Ana melihat Jaya yang melukiskan wajah ngeri. Saat pocong itu menoleh pada Ana, dia tahu kalau Ana memperhatikannya penuh kecemasan.


Sementara itu, Bayu terlihat mengeluh pada Risa yang berada di seberang Ana dan Jaya.


"Kamu kenapa sih, Bay?" tanya Risa.


"Mbak, kenapa ya jalan kita ke Bukit Emas kok nggak mulus. Ada aja cobaannya. Saya jadi khawatir sama Mbak Ana dan Pang Jay. Kayaknya ada yang sengaja mau mencelakai mereka terus," ucap Bayu.


"Aku juga suka mikir yang nggak nggak kayak gitu. Aku khawatir banget kalau Aja sampai kenapa kenapa. Dari dulu aku emang selalu mikir, biar aku aja yang sakit asal Ana jangan. Biar aku aja yang ngalah dan selalu ingin Ana baik-baik saja," ucap Risa.


"Mbak Risa baik banget, sih," puji Bayu.


"Ana dari kecil udah yatim piatu. Dia bertahan sendirian di dunia yang kejam ini. Nggak ada yang bisa dia anggap keluarga kecuali aku. Sesayang itu aku sama dia dan udah anggap dia kayak adikku sendiri," ucap Risa.


Ana memanggil Risa untuk membantu Siti menyiapkan makan malam. Pada akhirnya, Ana dan yang lainnya menginap di rumah Mbah Ijah.

__ADS_1


...***...


Malam itu, Ana terbangun di tengah malam tepat pukul satu dini hari. Ana berniat untuk melakukan solat tahajud.


Selesai berwudu, Ana tak sengaja menyaksikan sosok besar, hitam, dan berburu lebat sedang berdiri tepat di depannya, di luar jendela. Saat itu, Ana baru saja keluar dari kamar mandi.


Kaki wanita hamil itu terasa gemetar tak bisa digerakkan. Tak lama kemudian, Siti juga terbangun karena merasa kandung kemihnya penuh. Dia hendak buang air kecil. Siti lantas menuju ke kamar mandi.


"Mbak Ana, kamu lihat apa?" tanya Siti menghampiri.


Sontak saja Ana tersentak. Sosok besar itu menghilang.


"Oh, Mbak Ana lihat Om Item, ya? Nggak usah dipikirin, dia baik kok nggak pernah ganggu. Tapi, suka kepo sama tamu baru," ucap Siti menjelaskan.


"Ya udah kalau gitu, Mbak Ana solat tahajud dulu, ya," ucap Ana.


Tak lama kemudian, saat sudah selesai melaksanakan salat tahajud, Ana kembali dikejutkan dengan kemunculan sosok besar tadi. Dia baru saja keluar dari kamar Mbah Ijah. Ana penasaran dan memanggil Jaya. Ana hendak mengejar sosok tadi tetapi Jaya menahan.


"Jangan dikejar, Na, biarin aja! Kita masih lama ada di sini. Aku takut dia bakal macam-macam sama kamu," lirih Jaya berucap.


"Tapi, Sayang, dia baru aja ganggu si Mbah Ijah," ucap Ana.


"Nggak mungkin! Paling cuma lewat doang," sahut Jaya.


"Mbak, ngapain ada di sini?" Siti muncul tiba-tiba di belakang Ana dan Jaya menyentak mereka.


"Astagfirullahalazim! Siti kamu sejak kapan di belakang kita? Ngagetin aja, nih!" seru Ana.


"Baru aja saya dari kamar mandi. Mbak, sendirian aja lagi ngapain di depan kamar saya?" tanyanya.


"Aku, aku habis solat tahajud, Ti. Tadi denger sesuatu dari genteng kamar kamu jadi kita kepo. Eh, penasaran gitu maksudnya," ucap Ana mencoba berbohong.


"Oh, paling ada tikus lewat di atap. Permisi, Mbak, saya mau lanjut tidur lagi. Besok saya mau panen singkong dan ubi. Apa Mbak Ana mau buat oleh-oleh?" tanya Siti.


"Boleh, boleh banget! Nah, besok aku ajak Risa buat ikut ke ladang kamu," sahut Ana.


Siti lalu masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi hanya tatapan datar tanpa senyum yang dilukiskan di wajah gadis itu.


Ana lupa kalau ia masih memakai mukena. Kala itu Risa keluar dari kamarnya untuk buang air kecil. Merasa terkejut saat membuka pintu dan melihat Ana yang melintas, Risa malah jatuh ke lantai tak sadarkan diri setelah menunjuk Ana.


"Yah, su Risa kok pingsan, sih!" seru Ana yang tak sadar kalau Risa takut pada sosoknya yang memakai mukena. Dia dikira hantu oleh Risa.


...******...


... Bersambung dulu, ya.....


...See you next chapteru!...

__ADS_1


__ADS_2