Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 38 - Menuju ke Merak


__ADS_3

Bab 38 DPT


"Beritahu kepala desa ini atas kematian istrimu. Minta dia untuk mempersiapkan pemakaman!" pinta Raja Sumardjo mencengkeram bahu Patih Gundul untuk menyadarkannya dari ketakutan.


"Gundul! Kau dengar aku, kan?!" seru sang raja memanggil adik tirinya.


"I-iya, aku dengar. Aku akan segera memerintahkannya melaksanakan persiapan pemakaman," ucap Patih Gundul.


"Mbah Karso, minta para pengawal untuk berjaga lebih ketat. Yang aku takutkan kalau serangkaian pembunuhan ini bisa saja datang dari kerajaan musuh. Bukan karena gosip hantu penunggu danau," ucap sang raja memberi perintah.


"Baik, Yang Mulia." Mbah Karso menunduk dan mengangguk.


Sepeninggal sang patih menemui kepala desa, Panji lantas meminta Ana untuk kembali. Membiarkan pihak kerajaan yang akan menggelar upacara pemakaman Ibu Dewi.


"Mas Panji, apa Kerajaan Garuda punya musuh yang juga kerajaan?" tanya Ana saat menuju perjalanan pulang.


"Tentu saja ada, Tuan Putri. Di pulau ini ada tiga kerajaan, Merak, Garuda, dan Elang. Ketiga kerajaan pasti ingin menjadi kerajaan yang terluas. Dan ada tempat yang pastinya akan diperebutkan," tuturnya.


"Tempat apa itu?" tanya Ana.


"Bukit Emas, di mana banyak emas dia harta karun lainnya yang terpendam di sebuah gua yang ada di bukit tersebut. Sudah sampai, Tuan Putri, saya pamit dulu," ucap Panji ketika mobil yang mereka gunakan sudah sampai ke dalam wilayah istana.


"Terima kasih, Mas Panji," ucap Ana.


Setibanya Ana di istana, tampak dua putra mending Ibu Dewi menatap Ana dengan tatapan sinis. Beberapa anggota keluarga kerajaan yang lain juga nampak berdatangan. Mereka membantu menyiapkan upacara pemakaman.


Risa menarik tangan Ana menuju kamarnya untuk mendengarkan cerita tentang penemuan jasad Ibu Dewi. Suara ketukan terdengar, Bayu meminta izin untuk masuk ke dalam kamar Risa.


"Bayu, jangan duduk di situ!" titah Ana karena Bayu hampir saja menduduki Jaya yang hampir meninjunya.


"Kok, saya jadi merinding, ya?" tanya Bayu.


"Iya lah merinding! Soalnya kamu dudukin–"


"Risa!" Ana memotong ucapan Risa seraya memberi isyarat dengan gelengan kepala.


Cukup mereka saja yang tahu kalau Jaya ada di sekitar mereka. Toh, kalau Bayu tahu Jaya berwujud pocong, pria itu pasti akan lari ketakutan.


"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Ana.


Bayu membawa beberapa kabar yang berembus tentang Kerajaan Garuda yang ternyata punya banyak musuh. Untuk tersangka berikutnya, Bayu meminta Ana membuat daftar nama-nama penguasa sekitar kerajaan yang menjadi musuh dari Kerajaan Garuda. Bayu mendengar juga kalau Raja Sumardjo mencurigai musuh kerajaan berada di sana. Ratu Melati juga pernah dijumpai bersama Patih Gundul berkunjung ke Merak. Namun, Bayu tak tahu detail cerita pastinya.


"Hmmm, bisa jadi mereka berselingkuh di sana," tukas Ana.


"Maksudmu, ibu ku dan Paman patih berselingkuh di Kerajaan Merak?" tanya Jaya.


"Ya, ini kan hanya dugaan. Oleh karena itu kita harus membuktikannya mencari kabar di sana," ucap Ana.

__ADS_1


"Putri Ana ngomong sama siapa, sih?" tanya Bayu menoleh ke sekitar.


"Ngomong sama Risa. Kita suka ngomong dari hati ke hati hehehe," sahut Ana asal.


"Ho oh, kadang kita pakai bahasa kalbu udah ngerti satu sama lain. Eh, Na, kita bakalan pergi ke Merak? Terus alasannya apa sama Ibu Ratu? Nanti dia pikir kita mau kabur lagi," ucap Risa.


"Tenang aja, aku bakal mikirin alasan palsunya nanti. Kita akan pergi ke Kerajaan Merak dulu. Aku ingin bertemu dengan pewarisnya dan kita akan mencari informasi dari sana," ucap Ana.


"Bagaimana jika Kerajaan Merak menganggap kamu musuh dan menangkap kamu, Ana?" tanya Jaya.


"Minta bantuan suaminya Risa," sahut Ana mengerling pada Risa.


"Ummm, maaf apa saya nggak salah dengar? Mbak Risa punya suami?" tanya Bayu dengan raut wajah memperlihatkan kekecewaan.


"Nggak kok, si Ana lagi bercanda aja. Maksud dia itu suami halu aku, hehehe," sahut Risa seraya menunjukkan mata melotot pada Ana.


***


Satu hari setelah pemakaman Ibu Dewi, Ana meminta izin pada sang ratu untuk kembali ke kota mengurus beberapa surat penting. Toh, Bayu ikut serta dan berjanji pada Ratu Melati untuk menjaga Ana dan membawanya kembali ke kerajaan. Ratu Melati akhirnya percaya.


Pagi menjelang, sinar mentari menyapa dan membuat Ana terjaga di kamarnya. Wanita itu merentangkan kedua tangan ke atas dan bersiap bangkit menyambut hari. Jaya tampak tersenyum menatap Ana dari kursinya.


"Siap untuk pergi hari ini?" tanya Jaya.


"Tentu saja," ucap Ana seraya memberikan kecupan manis di bibir suaminya.


Sejak kembali dari alam gaib Raja Harun, Ana mendadak menjadi budak cinta terhadap sosok pocong tampan itu. An segera mempersiapkan bahan perlengkapannya.


"Gimana nih, Tuan Putri?" Bayu putus asa dan mengatakan mulai lelah.


Jaya yang kesal bahkan menjitak kepala Bayu.


"Tuh kan, ada setan keder yang ngikutin kita dan bikin kita muter-muter di sini," ucap Bayu ketakutan.


"Hahaha, bukan seten keder tapi pocong," sahut Risa menertawai Bayu yang semakin ketakutan.


"Kita istirahat dulu, deh. Udah mau magrib. Kayaknya di depan sana ada perkampungan. Siapa tau ada tempat yang disewakan untuk menginap," ucap Ana menahan tawa karena Jaya terus menjahili Bayu.


"Ya udah kita ke sana. Minggir, Yu! Aku aja yang nyetir mobilnya," perintah Risa yang lantas menggantikan Bayu di kursi kemudi.


Ana dan yang lainnya memasuki sebuah perkampungan yang ternyata berada di perbatasan wilayah antara Kerajaan Garuda dan Kerajaan Merak. Sebuah perkampungan bernama "Dusun Abang".


Untungnya, mereka menemukan sebuah rumah yang menerima tamu dan mau menyewakan tempat itu. Rumah kayu itu dihuni oleh seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang mengingatkan Ana pada Laras, namanya Sari.


Sari tinggal bersama neneknya yang berusia delapan puluh tahun bernama Nenek Gayo. Sang nenek memiliki penyakit rabun yang membuatnya melihat dunia dengan pandangan kabur atau buram. Sari dan neneknya tidak tahu kalau Ana merupakan istri dari Pangeran Kerajaan Garuda. Mereka menganggap Ana hanyalah turis lokal yang tujuannya ke Kerajaan Merak.


Saat sedang bersantai seraya menyeruput kopi hitam yang manis dan hangat serta singkong rebus, tampak beberapa warga dusun berbondong-bondong melintasi rumah Sari.

__ADS_1


"Mereka mau ke mana?" tanya Bayu.


"Oh, mau nonton jaranan, Mas," sahut Sari.


"Jaranan?" tanya Ana dan Risa bersamaan.


"Iya, jaranan. Semacam pertunjukkan kuda lumping. Kemarin itu ada pemilihan kepala dusun. Dan salah satu kandidat kepala dusun membuat pementasan kuda lumping dan tarian lainnya untuk mempromosikan diri. Biasalah cari massa pengikut," sahut Sari menjelaskan dengan dewasa.


"Kamu pintar juga, ya. Kenapa kamu nggak sekolah?" tanya Ana.


"Nggak ada biaya, Mbak. Lagian kasian si mbah nanti nggak ada yang jaga," ucap Sari.


Dia juga sudah menceritakan kisah pilunya tentang orang tuanya yang meninggal akibat saat terjadi gempa dan longsor di dusun yang lama. Sehingga Sari dan neneknya pindah ke Dusun Abang.


"Nonton, yuk!" ajak Ana.


Risa mengangguk setuju. Ana, Risa, Jaya, dan Bayu lantas mengikuti para warga menuju ke tanah lapang tempat jaranan akan diadakan. Sari tak bisa ikut karena harus menjaga neneknya. Ana berjanji akan membawakan Sari oleh-oleh berupa makanan yang dijajakan di sana nanti.


Banyak orang sudah berkumpul memutari lapangan ketika Ana dan yang lainnya sampai di sana. Tak hanya warga dusun kecil itu saja yang datang, akan tetapi ada juga warga kampung tetangga yang ikut berkerumun memenuhi segala penjuru tempat. Pertunjukkan jaranan menjadi magnet bagi mereka untuk mencari hiburan, atau peluang usaha untuk berdagang.


Ana dan Risa memutuskan untuk berkeliling sejenak sebelum melihat acara yang utama. Ana akan membelikan Sari makanan. Sementara itu, Bayu sudah tak sabar dan memilih duduk paling depan. Tak lupa juga ia menandai alas duduk untuk Ana dan Risa nantinya jika kembali.


Ana sangat tertarik kala melihat banyaknya kuliner tradisional yang dijajakan. Ana juga ingin menyantap beberapa makanan sebelum melihat pertunjukkan acara yang utama. Jaya sampai mengingatkan Ana agar jangan makan berlebihan.


Terdengar suara gamelan. Pergelaran besar pentas kuda lumping atau jaran kepang itu akan segera dimulai. Jaran kepang adalah pertunjukan favorit warga Dusun Abang. Pertunjukan ini sudah melegenda serta menjadi salah satu budaya kuno di kampung tersebut dan pastinya menjadi pertunjukkan yang paling populer.


"Aduh, kenapa banyak setan juga yang nonton, sih?" bisik Ana seraya menunduk.


"Mungkin, setan juga butuh hiburan," sahut Risa ikut menunduk setelah sempat melihat beberapa penampakan kuntilanak bertengger di atas pohon saat melewati banyak pedagang kaki lima dadakan yang berjajar menjajakan dagangan.


Ana bahkan melihat Jaya kesulitan menghindari beberapa kuntilanak yang datang menggodanya.


"Waduh, suami aku digangguin kuntilanak. Terus gimana aku jaganya? Aku kan takut, Sa," sungut Ana.


"Aku malah salah fokus sama anak botak itu, Na," bisik Risa seraya menunjuk anak kecil di seberangnya.


Anak itu hanya menggunakan pampers. Bola matanya hitam. Ia berlari ke sana ke mari seraya menggigit uang. Ana perlahan melihatnya.


"Itu kayaknya tuyul, deh, Sa?"


Ternyata ada juga pengunjung yang membawa tuyul untuk mencuri uang pengunjung. Sontak saja, Jaya yang kewalahan menghindari kuntilanak ikut gemas melarang tuyul itu mencuri. Jaya mendatangi para tuyul, lalu menarik daun telinga mereka dan memarahi mereka sampai menangis.


"Na, yang ini namanya apa?" bisik Risa ketakutan.


Ada sosok genderuwo bertubuh besar sedang duduk jongkok mengamati Ana dan Risa. Ia tertawa meringis menunjukkan deretan gigi hitamnya.


"Aku nggak kuat, Sa! Panggil suami kamu buat bantuin jaga kita di sini!" pekik Ana mulai kesal dan ketakutan.

__ADS_1


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2