Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 94 - Di Perbatasan


__ADS_3

Bab 94 DPT


Terdengar azan Zuhur berkumandang. Eyang Setyo menghentikan perjalanan saat sampai di perbatasan antara Desa Abang dan Desa Seranggan. Pria paruh baya itu meminta semuanya untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah di musola yang ada di belakang sebuah aula.


Tampak salah satu pengendara motor yang bernama Ucok yang memang tidak menjalankan ibadah salat zuhur. Sesekali ia menyorotkan cahaya senter ke belakang untuk memastikan kalau tidak ada hewan dari hutan yang mendekat. Pasalnya, di belakang aula desa itu merupakan hutan yang cukup rimbun.


Saat Ucok menoleh ke Udin yang sedang sujud dan berada di barisan belakang, ia terbelalak. Pasalnya, tampak Udin malah berdiri di belakang Bayu dan tidak mengikuti gerakan Eyang Setyo sebagai imam. Udin malah menghadap ke arahnya sambil tersenyum dingin. Tatap matanya kosong dan terkesan menakutkan.


"Bah, kampret kali si Udin!" Ucok yang tersentak dan takut, langsung membuang senter yang digenggamnya.


Benda itu jatuh seketika. Karena takut jamaah yang sedang melaksanakan ibadah itu terganggu, dengan segera Ucok mengambil kembali senter itu. Akan tetapi, saat dia menoleh lagi ke arah Udin, kini pemuda itu sedang dalam posisi sujud dengan arah yang benar. Aneh sekali menurut Ucok. Apa dia salah lihat atau memang hanya khayalan dia semata sampai ia menggaruk kepala.


"Wah, apa si Udin lagi ngerjain aku, ya? Apa aku cuma lagi menghayal, halusinasi gitu?!" Ucok sampai berbicara dengan dirinya sendiri.


Padahal jelas-jelas tadi dia melihat Udin berdiri dengan wajah yang mengerikan menatap ke arahnya. Ucok akhirnya memilih untuk duduk di depan musala.


Tak lama kemudian, semua jamaah telat menyelesaikan salatnya. Eyang Setyo meminta yang lainnya untuk berkemas. Ia juga meminta Ana dan Risa yang terpisah di ruang sebelah yang hanya dibatasi tirai warna hijau, untuk memasukkan kembali peralatan salatnya ke tas masing-masing.


"Cok, kok tadi ada suara yang jatoh, ya?" tanya Udin menepuk bahu Ucok.


Karena Ucok tengah melamun, sontak saja ia terkejut dan berkata kasar serta jorok, mengejutkan semuanya.


"Astagfirullahalazim!"


Semua jemaah kompak menyahut bersamaan seraya mengelus dada dan menggelengkan kepala berkali-kali.


"Hehehe, maafkan aku Eyang Setyo dan semuanya. Aku kaget barusan, tersentak!" ucapnya dengan logat khas Suku Batak.


"Terus apa yang tadi jatoh mak duk duk, gitu?" tanya Udin.


"Oh, itu loh senterku yang jatoh. Gagangnya licin sekali soalnya," kata Ucok berbohong.


Dengan wajah gugup, sesekali dia melirik ke arah Udin lagi. Dia malu jika siang bolong seperti itu mengaku bertemu setan.


"Maaf, Eyang Setyo… saya sakit perut, nih. Apa di sini ada kamar mandi?" tanya Risa seketika.


"Ih, kamu mah Ris. Kalau nggak tukang beser, ya tukang boker," bisik Ana bersungut-sungut.


"Maaf, Na. Panggilan alam nih soalnya, mules banget!" sahut Risa.

__ADS_1


"Dekat puskesmas yang di sebelah sana ada kamar mandi. Kalau mau saya antar ke sana," sahut Udin.


"Mbak Risa, silakan kalau mau ke kamar mandi. Kita sebaiknya istirahat sembari nunggu. Yang mau minum kopi atau makan siang sekarang, silakan!" ucap Eyang Setyo mempersilakan.


Semuanya mengangguk setuju. Risa melirik ke arah Jaya. Sebagai makhluk halus saat itu, rasanya ditemani Jaya akan lebih aman jika bertemu makhluk halus lainnya. Namun, Ana menahannya sehingga Risa tak bisa meminta Jaya untuk mengantarkannya. Akhirnya, Risa menarik tangan Bayu untuk menemaninya.


"Kan, sudah ada Mas Udin, ngapain kamu minta anter aku segala, sih?" Bayu mencebik kesal.


"Aku nggak kenal sama dia jadinya nggak enak aja gitu. Udah sih diem aja! Ayo, temani aku!" bisik Risa.


Dengan menghela napas dalam, akhirnya Bayu mengantarkan Risa menuju kamar mandi dekat puskesmas.


"Mas, kenapa lewat hutan sini?" tanya Risa pada Udin.


"Tadi kan Mbak Risa udah kebelet. Jadi, lebih cepat ya lewat sini," sahut Udin.


"Masa sih?" Bayu menimpali.


"Soalnya lebih cepet kalau kita motong jalan sini. Tinggal lurus aja ikuti jalan setapak nanti ketemu pohon beringin. Nah, di seberangnya ada puskesmas, deh," sahut Udin.


"Pohon beringin? Wah, perasaan aku nggak enah, nih!" Risa melenguh kesal.


"Ya udah, ayo lanjut jalan!" ajak Udin.


Di tengah-tengah perjalanan, Bayu mendengar seorang wanita yang berbisik di belakangnya.


"Bayu...," desis wanita itu.


Sontak saja Bayu berhenti lalu menoleh ke arah Risa.


"Kamu manggil aku, Mbak Risa?" tanya Udin.


"Siapa yang manggil kamu?! Ngapain juga aku manggil, orang kamu ada di samping aku. Ayo lah buruan! Aku kebelet banget, nih!" Risa malah membentak.


"Tadi ada yang panggil nama aku tau. Katanya Bayu, Bayu, gitu." Bayu mencontohkan.


"Nama kamu emang Bayu lah, masa Markonah! Salah dengar kali. Udah ayo buruan jalan!" ajak Risa menarik tangan Bayu.


"Jangan didengarkan, Mas, kalau ada yang manggil," ucap Udin.

__ADS_1


"Ya namanya punya kuping bisa denger, masa ada orang manggil nggak didenger?" sungut Bayu.


"Wes, koplak! Udah sih jangan ngebantah! Jangan bahas lagi! Lihat tuh samping kiri kamu!" Risa sampai mencubit pinggang Bayu dengan kesal.


Pemuda itu melirik ke kirinya dan tersentak kala melihat hantu kuntilanak dan sosok wewe gombel di dalam hutan itu. Mereka tersenyum melihat Bayu, bahkan ada yang melambaikan tangan untuk memanggil.


"Duh, sakit perut tambah mules ini. Keburu aku buang air besar di sini, Mas Udin!" rintih Risa sambil meringis memegangi perutnya.


"Tahan dulu, Mbak! Di puskesmas aja nanti!" sahut Udin.


"Ya emang mau ke sana, kan? Makanya buruan, masa nggak nyampe-nyampe!" Risa mulai kesal.


Duuuuuut!


Angin busuk sudah menyeruak dari bokongnya Risa. Menari-nari sampai indera penciuman Bayu.


"Aduh, ambune! Telur tembuhuk aye kalah iki," ucap Udin menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari.


Sementara itu, Bayu juga melakukan hal yang sama dan hampir mencela Risa. Namun, ia mengatupkan kembali mulutnya karena Risa menatapnya tajam.


"Ndak jadi, ndak mau ngomong apa-apa kok. Harum, Mbak, kentutnya." Bayu meringis.


Ketika kamar mandi puskesmas mulai terlihat, Risa bergegas berlari dengan kencang menuju ke sana karena sudah tak tahan lagi dalam membombardir septik tank.


"Lha, tuh Mbak Risa kayak kesetanan aja," kata Udin sambil tertawa.


"Maklum, Mas, dia kebelet. Tapi, Mbak Risa makin cantik ya mukanya kalau lagi nahan-nahan eek, gitu. Ayu tenaaaaan!" Bayu tersenyum sumringah.


"Wes edan iki bocah!" Udin menggelengkan kepalanya seraya berkacak pinggang.


Di kamar mandi nan suram dengan ubin keramik yang berkerak dan sebagian berlumut, beberapa kali Risa mengejan.


Pada akhirnya Risa merasa plong juga setelah melepaskan beban yang busuk itu.


Risa mencoba meraih gayung yang ada di sudut bak kamar mandi. Namun, ia tak jua bisa meraihnya. Risa malah terperanjat kala melihat sosok wanita berdaster lusuh yang perutnya buncit tampak seperti wanita hamil.


"Mb-mbak, hantu ya?" tanya Risa dengan bibir gemetar.


...******...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya…...


...See you next chapter!...


__ADS_2