
Bab 79 DPT
Ana bermimpi berada di sebuah ruangan penuh dengan lilin. Bau kemenyan sangat menyengat. Ruangan yang minim pencahayaan, gelap, dan pengap. Ana melihat sosok wanita sedang berbincang dengan sosok dukun yang wajahnya samar untuk dilihat.
Lalu, ada juga sosok berjubah hitam yang sedang berdiri di hadapan wanita dan dukun tadi. Sosok berjubah itu lalu mengangguk kemudian ia pergi. Ana jelas melihat raut wajah seorang wanita yang ia kenal, raut wajah milik Widi.
"Astagfirullah!" Ana terbangun bersimbah peluh keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Risa yang ikut terbangun dan mulai panik.
Jaya juga langsung menghampiri Ana.
"Kasih minum, Ris!" titah Jaya.
Risa langsung menuangkan air dari teko kecil ke dalam gelas untuk Ana.
"Minum dulu, Na!" kata Risa seraya menyodorkan air bening nan segar tersebut.
Setelah Ana meneguknya sampai habis, ia lalu mulai membuka kata.
"Aku lihat Mbak Widi. Dia lagi sama dukun. Tapi aku nggak bisa lihat muka dukunnya. Aku juga lihat sosok berjubah hitam tapi mukanya nggak kelihatan. Menurut kalian aku cuma mimpi apa dikasih bocoran gambaran kalau Mbak Widi masih hidup?" tanya Ana.
"Kalau itu emang gambaran nyata, berarti kecurigaan aku benar dong kalau Widi masih hidup," kata Risa menimpali.
"Kalau barusan itu cuma mimpi semata, gimana? Saking kepikirannya Ana soap Widi. Bisa jadi, kan?" Jaya mengutarakan pendapatnya.
"Entahlah, yang jelas kita harus minta Mas Panji menjelaskan tentang hukuman mati Mbak Widi. Duh, aku juga khawatir sama Rama," ucap Ana.
"Besok kita hubungi Kanjeng Ratu Melati. Kita kasih tau soal mobil kita yang kebakar, eh dibakar. Terus kamu minta kirim mobil baru," ucap Risa.
"Ya udah, besok aku coba hubungi Ratu Melati. Kalau perlu si Rama aku suruh ikut biar aku nggak khawatir sama keadaan dia," ucap Ana.
"Kalau Rama ikut kita, apa itu nggak lebih membahayakan untuk dia, Na?" Risa mengernyit.
"Risa benar, Sayang. Mobil kita aja ada yang berani bakar. Berarti kan masih ada yang ingin mencelakai kita. Nanti kalau Rama ikut kita, malah dia bisa celaka lebih dulu. Dia itu pewaris tahta Kerajaan Merak, kan." Jaya memberi penjelasan agar Ana bisa tenang dan tidak membawa Rama dalam pencarian petualangan mereka ke Bukit Emas.
"Ya udah kalau gitu kamu tidur istirahat lagi. Udah minuman vitamin bumil kamu, Sayang?" tanya Jaya yang ingin kondisi Ana dan bayinya selalu sehat.
"Sudah, tadi habis makan malam aku minum vitaminnya," ucap Ana.
__ADS_1
"Ya udah ya kalau gitu aku tidur lagi," ucap Risa lalu merebahkan diri di samping Ana.
Jaya meminta istrinya untuk merebahkan diri juga. Ia menepuk bahu Ana berkali-kali dengan pelan, sampai istri tersayangnya itu tertidur pulas.
"Kalau emang Widi maish hidup dan berniat balas dendam, aku bersumpah akan selalu menjaga kamu dan anak kita dengan cara apa pun," lirih Jaya lalu memberi kecupan di dahi Ana.
...***...
Keesokan harinya, Bayu dan Risa diminta ke pasar untuk membeli keperluan sayur mayur dan buah atas perintah Ana. Mereka menggunakan motor bebek yang butut milik Pak Roni yang sudah usang dan disimpan di gudang belakang.
"Kamu tahu nggak, Sih, ini hari ke lima si Anto hilang. Bentar lagi dia pasti muncul udah jadi mayat," ucap seorang penjual sayur pada rekannya si penjual daging ayam.
"Si Anto bakalan muncul kalau udah ada tumbal baru. Tapi, aku dengar ya, Yu, kalau anak muda di sini udah pada ngurusin ketakutan," sahutnya.
"Hmmm, terus kira-kira Anto bakal digantiin sama siapa, ya?" gumamnya.
Ia lalu menoleh ke arah kirinya. Ibu bertubuh gemuk itu tak menyangka kalau Bayu sudah berada dekat pundaknya untuk menguping sedari tadi.
"Ngapain, Mas?" tanyanya dengan ketus.
"Eh, Ibu … saya mau beli sayur bayam. Sama daging ayam dua ekor juga boleh, deh. Kayaknya enak nih bakar ayam," sahut Bayu pura-pura sibuk memilih padahal memang sudah dari tadi ia menguping pembicaraan kedua penjual itu.
Tiba-tiba, Bayu tak sengaja menabrak seorang wanita bertubuh sintal dengan body aduhai bak biduan duo beruang yang memiliki bagian dada lebih besar dari ukuran wanita biasa.
"Maaf, ya… maaf banget Mbak, saya nggak sengaja," ucap Bayu.
Barang belanjaan wanita tersebut jatuh berserakan. Daging segar yang ia beli juga kotor karena masuk lubang tanah yang lumayan becek tergenang air.
"Yah, rusak deh daging aku," ucapnya.
"Duh, maaf ya Mbak. Nanti saya ganti harga dagingnya. Tadi beli berapa?" tanya Bayu.
"Sekilonya tadi harganya seratus lima puluh ribu. Saya beli lima kilo, jadi tujuh ratus lima puluh ribu, Mas," katanya seraya mencoba menyelamatkan barang belanjaan yang lain.
Bayu mencoba membantu, sesekali ia tak sengaja memperhatikan belahan yang menyembul itu. Kaus kerah V yang wanita berusia tiga puluh tahun itu kenakan memang sangat menggoda karena posisinya terlalu bawah.
"Sadar Bayu, jangan mesum!" gumamnya seraya memukul-mukul kepala sendiri.
"Mas, kok ngeliatin saya begitu?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf Mbak. Tadi berapa deh tujuh ratus lima puluh ribu? Waduh, banyak juga ya. Saya nggak bawa uang sebanyak itu. Gini aja, saya boleh minta alamat rumah kamu? Nanti saya antar uangnya," ucap Bayu.
"Hmmmm, ya udah deh. Kamu punya hape?" tanyanya.
Bayu lantas menyerahkan ponselnya. Wanita itu lantas menuliskan nomor ponselnya dan alamat rumahnya di pesan sosial media.
"Nama kamu siapa, Mbak?" tanya Bayu.
"Nama saya, Ningsih." Senyumnya mengembang lebar semakin memikat Bayu.
"Nama saya Bayu. Nanti sore saya coba siapkan uangnya terus ke rumah kamu ya," ucap Bayu.
"Oke, Mas." Ningsih lantas pamit.
Bayu masih memandangi punggung Ningsih dengan tatapan kesengsem. Risa menepuk bahu Bayu, mengejutkannya.
"Ngeliat apa kamu?" tanya Risa.
"Ningsih, Mbak Risa. Wah, cantik banget. Kayaknya saya langsung cinta banget sama dia gitu," sahut Bayu.
"Hmmm, baru ketemu sekali aja langsung bilang jatuh cinta! Awas nanti cewek jadi-jadian lagi," ketus Risa.
"Nggak mungkin, Mbak Risa! Cakep begitu masa jadi-jadian?!"
"Secakep apa, sih? Bikin kepo aja!" Risa lantas melangkah lebih dulu ke area parkir.
Ada perasaan sedih kala mendengar Bayu memuji wanita lain.
"Duh, mikir apa aku ini. Masa iya aku suka sama Bayu? Duh, inget Risa… kamu tuh lagi hamil anaknya Harun." Risa menghela napas panjang penuh kelegaan.
Risa sempat menoleh ke langit lalu berkata, "Harun, aku kangen banget sama kamu."
"Mbak Risa, ayo naik!" Bayu menyentak lamunan Risa.
Setelah Risa naik di kursi belakang, Bayu melajukan motornya ke rumah Pak Roni seraya membawa banyak belanjaan. Bayu berharap agar motor itu tidak ngambek dan mati di tengah jalan.
...*****...
...Bersambung dulu, ya!...
__ADS_1
...See you next chapter!...