
Bab 96 DPT
"Justru kau harus menaklukkannya. Itu sumber kekuatan Mangkulangit," sahutnya dengan nada suara terdengar datar.
"Sumber kekuatan?" Jaya mengernyit dahi seraya menoleh ke arah Eyang Setyo.
"Sekarang masuklah ke dalam telaga!" titahnya seraya berdiri, lalu mendekati telaga mempersilakan Jaya untuk masuk.
"Kenapa bentuknya seperti ular besar? Eyang Setyo kau tidak bercanda, kan? Aku takut, nih!" pekik Jaya.
"Bentuknya memang seperti ular besar yang mendiami telaga. Justru kau akan diuji. Maka kau harus berani!" ujarnya.
"Ta-tapi, dia tetap saja hewan buas! Dia bisa melilitku!" Jaya semakin menjauh.
Eyang Setyo tertawa mendengar penuturan Jaya yang gemetar ketakutan.
"Kalau begini saja nyalimu sudah ciut, bagaimana nanti melawan Iblis Rahwana? Kau sangat berbeda dengan ayahmu yang pemberani," sahutnya.
"Wah, apa itu benar kalau ayahku tidak takut akan hal ini?" Jaya masih tak percaya.
"Ayahmu sangat pemberani dan murid yang pintar. Ia juga cepat menguasai ilmu yang aku ajarkan saat di padepokan dulu," jelasnya seraya terkekeh dan memegangi janggut putihnya berkali-kali.
Jaya akhirnya memberanikan diri. Ia mencelupkan tangan kanannya ke permukaan telaga.
"Bagaimana jika nanti aku dililit dan mati?" lirih Jaya.
"Dia hanya menyerupai ular. Tapi, dia sumber kekuatanmu, Nak Jaya!" seru Eyang Setyo.
Jaya masih tampak ragu sampai akhirnya Eyang Setyo mendorongnya masuk ke dalam telaga.
"Ini untuk pembersihan diri dan kebaikanmu juga, Nak Jaya!" serunya lantas Eyang Setyo mengangkat kedua tangannya ke atas seraya mengeluarkan suara dengan lantang, "Menyatulah dengan kekuatan murni Mangkulangit!"
Namun, Jaya tak jua muncul ke permukaan dan membuat raut wajah Eyang Setyo menjadi khawatir. Ia mulai menelisik ke arah telaga dengan saksama. Tangan kanannya mulai masuk ke dalam telaga dan menepuk-nepuk berkali-kali.
"Nak Jaya! Nak Jaya! Kau di mana?!" serunya.
Setelah dilanda kepanikan lalu ingin mencari Jaya ke dalam telaga, sosok Jaya muncul. Ia melangkah ke permukaan lalu ke tepi telaga dengan tubuh berpendar.
"Syukurlah… akhirnya kini kau siap kembali ke dalam tubuhmu dan menyegel kembali Iblis Rahwana," ucap Eyang Setyo.
...***...
Arwah Jaya kembali tidak dalam bentuk pocong lagi. Ana bahkan bisa memeluknya dengan erat.
"Kalian lekas kembali ke Kerajaan Garuda! Ingat jangan percaya dengan kebaikan siapa pun juga. Kalian harus tetap waspada." Eyang Setyo memberikan wejangan.
Dia berjanji akan membantu Jaya jika suatu saat kekuatannya akan dibutuhkan. Dengan diantar delman menuju ke terminal bus, Ana, Jaya, Risa, dan Bayu akhirnya pamit. Tak lupa Lastri membekali mereka dengan singkong rebus lengkap dengan cairan gula yang dipanaskan, serta singkong bakar.
__ADS_1
"Kapan-kapan kalian datang lagi ya ke padepokan ini!" Lastri tersenyum hangat.
"Pasti, Mbak." Ana mengangguk dan melayangkan senyum yang tak kalah hangat juga.
Mereka lantas menuju ke terminal bus. Mereka akan menaiki bus jurusan Prlabuhan Mangkrak lalu naik kapal menuju Pulau Garuda. Juna sengaja menghampiri Ana di terminal. Pasalnya ia sempat menghubungi Risa dan mengatakan kalah mereka akan kembali.
"Aku bawakan kalian bekal. Nanti suatu saat aku boleh kan main ke Pulau Garuda?" tanya Juna.
"ENGGAK!" bentak Jaya.
"Boleh, kok. Di sana juga seru buat liburan. Terima kasih ya atas bantuannya," ucap Ana.
Jaya meraih siku Bayu, ia meminta pria itu untuk menjadi perantara bicara antara dia dan Juna.
"Kata Pang Jay, nggak boleh. Kawasan Istana Garuda melarang Pak Juna untuk berkunjung," ucap Bayu.
"Kok, bisa gitu? Nanti saya bisa viralkan kalau pariwisata di sana jelek loh biar turis-turis nggak mau ke sana," ancam Juna.
Bayu menoleh pada Jaya, "Gimana, Pang Jay?"
"Bilang aja jangan ganggu istri orang!" seru Jaya.
Bayu menoleh pada Juna, "katanya jangan ganggu istri orang."
"Lho, kalau berteman memangnya nggak boleh?" tanya Juna lagi.
Bayu menoleh pada Jaya.
Bayu menoleh lagi pada Juna, "katanya nggak boleh, Pak Juna."
"Hadeh, belum tentu dia bisa hidup lagi. Udah pasrah aja. Nanti Mbak Ana buat saya," ucap Juna menantang.
"Eh, kurang ajar! Bilang sama dia, Bay‐"
Bayu langsung menahan Jaya yang hendak memukul Juna.
"Saya capek, Pang Jay! Udah ayo pada naik bis aja!" Bayu menarik Jaya.
Ana dan Risa sedari tadi sudah tertawa geli melihat kelakuan ketiga pria itu. Keduanya lantas pamit pada Juna lalu menaiki bus warna merah dengan garis putih di bagian tengah tersebut.
"Bilang ke dia, Bay, jangan sampai aku lihat dia lagi! Apalagi kalau dia berani berani sampai Garuda!" bentak Jaya kala melihat Juna dari kaca jendela bus.
"Ngomong sendiri lah! Malas aku, mau turu ae!" ketus Bayu lalu menyenderkan kepala dan berpura-pura memejamkan mata.
"Udah udah, jangan emosi terus! Nanti jadi pocong lagi, loh." Ana menarik tangan Jaya agar duduk di sampingnya.
Bus melaju meninggalkan terminal saat Juna masih melambaikan tangan sambil tersenyum pada Ana.
__ADS_1
...***...
Azan magrib terdengar setelah bus menempuh perjalanan selama hampir tiga jam. Sopir bus itu lantas menuju ke rest area. Setelah Ana dan Risa melaksanakan solat magrib. Ia merasa lapar kala menunggu Bayu di depan musala rest area.
Jaya juga menemani ketiganya menuju ke sebuah warung yang ada tak jauh di belakang rest area dekat perkampungan setempat. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster batik lengan panjang dan jilbab warna hitam menyambut Ana dan lainnya.
"Mau beli makan apa?" tanyanya.
"Mau mie rebus, Bu. Pakai telur dan sayuran, ya," pinta Ana.
"Kalau aku mie goreng pakai telur dua. Pakai cabai rawit kalau ada," sahut Risa.
"Saya juga, Bu. Mie soto dua, ya! Pakai telur dua juga," sahut Bayu.
"Boleh boleh. Mau makan di sini atau dibungkus?" tanya wanita itu.
"Makan di sini aja, sama teh manis hangat." Ana tersenyum manis.
"Saya juga, Bu. Sama kopi susu juga," pinta Bayu.
"Aku teh manis aja," sahut Risa.
Ana lalu duduk di meja sebelah kanan dalam warung tersebut. Sementara itu, Bayu dan Risa sibuk meraih jajanan sukro dan keripik lainnya. Tak lama kemudian, mie instan yang mereka pesan sudah sampai. Ketiganya menyantap dengan lahap hanya Jaya yang tak merasa lapar sama sekali.
"Maaf, Mbak, Mas, saya boleh minta tolong?" tanya ibu penjual setelah melihat ketiganya menyantap habis mie instan tersebut.
"Minta tolong apa, Bu?" Ana mendongak melihat ke arah wajah penjual yang berusia lima puluh tahun itu.
"Saya mau titip warung, ya. Saya mau pulang dulu soalnya kebelet mau eek," tukasnya.
"Tapi kita nggak tahu harga makanan di sini, Bu," sahut Risa.
"Nggak apa-apa, kok. Para pembeli yang mau datang udah pada tahu harga makanan di sini. Oh iya, kalau ada yang minta kopi bilang aja nggak ada ya, lagi habis."
"Maksudnya, Bu–"
Belum juga pertanyaan Ana dijawab, ibu penjual tersebut langsung bergegas pergi.
"Dih, aneh banget nih! Nanti kalau bis kita keburu jalan, gimana?" Risa mengeluh seraya meraih satu bungkus sukro lagi.
"Bay, kamu liat liat bis kita. Kalau udah mau jalan, kamu cegat dulu! Paling ibu tadi nggak lama, toh kita juga belum bayar," ucap Ana.
"Oke, Mbak Ratu!" sahut Bayu.
"Hmmmm, tapi aku ngerasa ada yang aneh, ya?" Jaya bangkit dari kursinya dan mengamati sekitar.
"Aneh gimana?" tanya Ana.
__ADS_1
...******...
...Bersambung dulu, ya....