
Bab 61 DPT
Jaya melihat sosok wanita yang selama ini ia kenal, tetapi wanita itu bahkan telah meninggal.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut mustika bertuah itu dari putraku!" serunya.
"Hahaha, kau bukan tandinganku! Kau dan Sumarjo bukan tandinganku!" seru iblis itu.
"Tidak akan! Aku akan mempertahankan keselamatan Jaya dan mustika bertuah itu!" Ibunya Jaya mendekat dan berdiri di hadapan Jaya.
"Ka-kau, apa kau ibuku?" tanya Jaya ketika mereka saling tatap.
"Nak, kau sudah tumbuh besar! Kau sangat tampan sekali. Sama tampannya dengan ayahmu. Sekali lagi maafkan Ibu. Ini kekuatan terakhir ibu untukmu agar bisa pergi dari sini. Jaga batu bertuah ini baik-baik dan temukan tempat rahasia ayahmu mendapat kekuatannya agar bisa menyegel Rahwana," sahutnya.
"Tapi, Bu‐ ayah sudah meninggal. Tidakkah kalian bertemu?" tanya Jaya.
"Ayahmu sudah meninggal? Iya kah?" tanya wanita itu.
"Iya, ayahku sudah meninggal," ucap Jaya.
"Tapi Ibu belum bertemu dengannya, Nak," sahutnya.
"Bagaimana bisa, Bu? Kalian sudah di alam yang sama, kan?"
"Apa jangan-jangan arwahnya tertahan? Jaya, kau harus menemukan arwah ayahmu agar bisa membantumu menyegel Iblis Rahwana," ucap wanit berparas ayu itu.
"Bagaimana bisa, Bu?" Jaya mengucap tak percaya dan memperlihatkan jelas raut wajah waspada itu.
"Ibu hanya punya kekuatan terakhir untuk membuat mu kembali ke dunia nyata. Waktu mu tak banyak, Nak. Kita berada di dalam mimpimu. Ibu hanya ingin kau menemukan mustika bertuah ini. Sekarang, kau pergilah!" serunya.
"Ibu aku tak mengerti, aku ingin mendengar penjelasan lebih dari Ibu! Bisakah Ibu kembali bersamaku?" Jaya mulai menangis sesenggukan, dia sudah tak bisa lagi membendung air matanya.
Jaya juga sangat merindukan kehadiran ibunya.
"Ibu sudah meninggal, Nak. Ibu sudah berjanji pada Gusti Agung kalau Ibu hanya bisa melihatmu jika mustika bertuah itu pada akhirnya memilihmu dan meminta bersemayam pada dirimu. Kini, kesempatan Ibu hanya berlaku satu kali untuk menemuimu." Wanita itu tersenyum seraya menjelaskan.
"Aku hanya ingin Ibu…." Jaya mulai mengusap air matanya.
"Maafkan Ibu, Jaya sayang… maafkan Ibu. Sebentar lagi kau akan jadi ayah. Jadilah ayah yang baik dan juga suami yang baik seperti ayahmu."
"Jika saja Ibu Melati tidak mengambil ayah darimu dan dari kita, Bu," ucapnya.
__ADS_1
"Nak, ketahuilah kalau Melati menjaga kalian dengan baik. Ibu sudah melihatmu seperti ini itu tanda kalau dia merawat dan menjagamu dengan baik. Kau tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan sangat tampan, Nak." Ibunya Jaya tersenyum hangat pada putranya.
"Ibu Melati orang baik? Bukankah dia dalang semua ini? Dia yang mencelakai ibu dan juga ayah, kan?" tanya Jaya.
"Tidak, Nak. Percayalah kalau dia menjaga kalian dengan baik meskipun ibu tahu kalau dia tidak mencintai ayahmu. Tapi, dia sangat menghormati ayahmu. Dia selalu menjaga istana dan hartamu dengan baik," ucapnya seraya mengusap pipi Jaya.
Mendadak kemudian serangan api yang dihempaskan makhluk tadi hendak menghantam Jaya. Namun, ibunya Jaya mendorong putranya keluar dari sebuah gelembung perisai.
Jaya kembali ke kehidupan nyatanya dan terhempas dari alam mimpinya.
"Aaarghhh!" Jaya langsung berteriak saat terbangun di pelukan Ana.
Di dalam kamarnya, di pelukan Ana. Keheningan langsung menyeruak beriringan dengan suasana yang gelap. Jaya masih tak percaya kalau dia baru saja bertemu ibunya. Pemuda itu masih saja menangis. Pertemuan itu sangat singkat dan dia ingin memeluk ibunya kala itu.
Jaya menceritakan pertemuannya dengan ibunya pada Ana seraya sesenggukan. Ana berusaha menenangkan suaminya.
...***...
Dua bulan berlalu, rencana Mbah Karso menghalau Iblis Rahwana berhasil. Dia hanya menjaga sementara, karena menurutnya suatu saat Rahwana akan kembali cepat atau lambat.
Kerajaan Garuda menjadi lebih tenang seperti semula. Hari itu, Jaya akan dilantik menjadi seorang Raja Garuda yang baru.
Ana dan para pengiring lainnya menggunakan batii motif parang yang hanya bisa digunakan oleh kalangan bangsawan ini mewakili harapan agar pemakainya dapat memperoleh keluhuran, kedudukan, dan dijauhkan dari segala marabahaya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ana menatap suaminya yang dengan gagahnya memakai pakaian khas Raja Garuda. Sesekali membetulkan posisi mahkota kerajaan yang Jaya gunakan. Pria itu akan memberikan sepatah dua patah kata untuk rakyatnya saat memperkenalkan diri.
"Wah, tampannya suamiku," ucap Ana seraya memberi kecupan di pipi Jaya.
"Istriku juga sangat cantik," ucap Jaya balas mengecup dahi Ana.
Jaya lantas mengusap perut Ana yang sudah buncit itu.
"Apa kabar jagoannya, ayah? Anjaya baik-baik aja kan di dalam sana?" tanya Jaya yang mendekatkan telinganya ke perut Ana saat berjongkok itu.
"Anjaya?" Ana bertanya seraya tersenyum.
"Iya, namanya Anjaya. Putra kita, Na. Gabungan dari Ana dan Jaya, bagus kan?" Jaya bangkit seraya memeluk istrinya.
"Wah, aku nggak kepikiran namanya ke situ loh. Tapi bagus juga," ucap Ana.
"Kok, badan aku rasanya nggak enak, ya? Rasanya sama kayak waktu dulu aku mau disantet," kata Jaya seraya meringis karena merasa badannya mulai pegal dan linu terutama bagian punggung.
__ADS_1
"Ah, kamu jangan bilang gitu. Mungkin kamu lagi capek aja," sahut Ana.
"Tapi, kepala aku juga pusing, Na. aku jadi takut kalau aku bakalan kayak dulu lagi, jadi pocong," tukas Jaya.
"Hahaha, jangan berpikir kejauhan sampai sana, ah! Lagian meskipun kamu jadi pocong juga aku tetep cinta. Ya iyalah mana ada pocong setampan kamu," goda Ana.
"Na, aku serius...."
"Aku juga serius." Ana memberi kecupan di bibir suaminya penuh cinta.
Tiba-tiba, Rama mengetuk pintu kamar utama tersebut.
"Siapa, ya?" tanya Ana.
"Ini Rama, Mama Ana." Suara anak lelaki itu terdengar bergetar.
"Masuk Rama! Ada apa, Gantengnya Mama?" sapa Ana.
Rama terlihat agak takut saat masuk ke kamar tersebut. Kedua matanya juga terlihat seperti habis menangis.
"Ada apa, Rama?" Jaya mendekat dan mengusap kepala Rama.
"A-aku, aku lihat kucingku mati," ucap Rama.
"Si Gajah? Dia mati?" Ana mengernyit.
"Kok, bisa?" tanya Jaya.
Tiba-tiba, terdengar kegaduhan antara Risa dan Widi. Mereka saling serang dan saling menjambak. Bahkan keduanya sudah berguling-guling di atas rumput. Ana dan Jaya segera menghampiri tempat suara kegaduhan itu berasal. Ratu Melati yang diikuti Panji di belakangnya juga tampak hadir. Beberapa pengawal diminta untuk memisahkan Risa dan Widi.
"Ada apa ini?!" pekik Ratu Melati.
"Dia menyembunyikan sesuatu di kamarnya! Aku yakin itu!" seru Risa menunjuk Widi.
Rama menarik Ana untuk mendekat. Ia berbisik pada Ana. Sepasang mata lentik nan cantik itu mendadak terbelalak.
"Racun?" tanya Ana dengan suara meninggi dan membuat semua mata menatap ke arahnya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...