Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 35 - Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Bab 35 DPT


Suraya merenung sambil membayangkan bagaimana wujud jin yang dinikahinya nanti. Setelah Mbah Gunung melakukan ritual, ia langsung memberitahu bahwa pernikahan sudah dilangsungkan.


“Secepat itu, Mbah? Lalu, bagaimana rupa suami saya? Apa dia buruk rupa atau gimana?" tanya Suraya kepada pria tua di depannya itu.


“Dia akan berwujud rupa seperti yang kamu idamkan. Tentunya dia akan sangat tampan di hadapan kamu," ucap Mbah Gunung.


Suraya tertawa kecil mendengar jawaban dukun tua itu.


“Setelah ini, kau harus memberinya nafkah batin. Dia juga akan memenuhi semua yang kau mau. Segala urusanmu akan dipermudah dan kamu juga akan mendapat rezeki nomplok tanpa kamu duga. Tapi kamu harus ingat, setiap hari kamu harus berpuasa mutih, dan setiap malam jumat kamu harus memberi sesajen berupa anak kambing untuknya. Itu harus tetap dilaksanakan,” ucap Mbah Gunung mencoba mengingatkan.


“Baik, Mbah,” jawab Suraya dengan perasaan senang karena sebentar lagi masalah keuangannya akan teratasi.


Selepas melangsungkan pernikahan, Suraya harus rajin berpuasa mutih dan juga memberi sesajen yang ia taruh di halaman belakang rumahnya tanpa sepengetahuan keluarganya.


Benar yang dijanjikan oleh Mbah Gunung, setelah satu bulan melangsungkan pernikahan dengan jin tersebut, Suraya ditawari pekerjaan oleh teman lamanya di sebuah pabrik tekstil untuk bekerja dengan penghasilan yang cukup lumayan.


Lama kelamaan, Suraya naik jabatan dan mendapat penghasilan lebih tinggi. Penghasilan yang didapat oleh Suraya kemudian ia sisihkan sebagian untuk membuat warung makan yang dikelola ibunya dan juga sepuluh kontrakan di sekitar rumahnya.


Usahanya makin berkembang pesat sehingga dapat berkembang menjadi warung sembako yang menyediakan berbagai keperluan orang-orang kampung. Serta rumah kontrakan yang juga laris manis dipenuhi anak kos.

__ADS_1


Dalam waktu beberapa bulan saja, Suraya bisa melunasi seluruh hutangnya dan memiliki uang lebih untuk merenovasi rumah. Wanita itu menjadi lebih bahagia setelah melangsungkan pernikahan dengan jin. Setiap malam jumat Suraya harus melayani jin tersebut.


Kesuksesan ini tentu saja membuat wanita itu menjadi lebih semangat untuk membahagiakan keluarganya di rumah. Sayangnya, setiap ada pria yang melamar ada saja penghalang. Bahkan saat Suraya sudah menaruh suka pada pria itu, tak lama kemudian terdengar kabar kalau pria tersebut meninggal.


Kekayaan yang Suraya miliki ternyata tak melepaskannya dari masalah. Pernah suatu ketika, ia lupa kalau dia harus melakukan ritual dan memberi nafkah batin pada jin yang dia pelihara. Tak lama kemudian, ibu dan adiknya meninggal saat kecelakaan. Bahkan teman-teman dekat Suraya juga dibuat meninggal. Sampai akhirnya Suraya meninggal dan terjebak di dunia jin.


Risa menelan berat cairan salivanya. Ia tak mau nantinya mendapat karma seperti itu. Jika nanti dia melanggar peraturan dari raja jin, maka orang-orang terdekat Risa akan mati. Suraya hanya tertawa melihat ketakutan Risa. Jika Risa tidak melanggar janji maka dirinya akan baik-baik saja.


"Tapi aku tak mau menjadi kaya Jika harus menikah dengan jin dan berakhir sepertimu," ucap Risa.


"Duh, aku jadi merasa bersalah, Ris," ucap Ana.


"Ya, sebenarnya aku pasti takut menikah sama dia. Terus gimana, masa mau dibatalin? Nanti kalau kita kenapa-kenapa, gimana?" keluh Risa.


"Ummm, aku pernah melakukannya sama Kevin, itu pin saat mabuk, kok," sahut Risa.


"Ya ampun, Risa! Aku tak sangka kau bisa sepertiku, hihihi," sahut Ana.


"Jangan bahas soal ini, bisa kan?" sungut Risa.


"Terus kalau tau kamu udah nggak perawan, nanti si raja jin marah nggak?" tanya Ana.

__ADS_1


"Sepertinya raja jin sudah terlanjur menyukaimu. Jika kau menolak menikah dengannya, maka kau harus menanggung akibatnya," ucap Suraya seolah ada sorot penuh ancaman di sana


Sementara itu Ana dan Risa menunggu untuk pernikahan. Suraya mengamati Jaya, ia mengamati sosok pocong tampan itu dengan saksama. Apalagi saat Jaya tiba di Kerajaan Raja Harun, dia sudah merasa cinta pada pandangan pertama.


Jin yang menjadi suami Suraya sedang ditugaskan ke luar negeri sehingga Suraya merasa kesepian. Sosok Jaya benar-benar membuatnya takjub dan merasakan getaran cinta kembali. Dia juga sempat takjub karena Jaya tidak berpenampilan seperti pocong pada umumnya.


Jaya memang memakai kafan, tetapi Ana sudah memodifikasi bagian atasnya seperti jaket berhodie. Sehingga kedua tangan Jaya tak terikat. Apalagi paras Jaya yang tampan membuatnya tertarik untuk mengamati. Sampai akhirnya Ana tahu mengenai gerak-gerik Suraya yang mendekati Ada.


Tiba-tiba, Risa langsung berlutut di hadapan Raja Harun, "aku mohon tolong bantu aku. Aku tak mau menikah denganmu. Tolong jangan jadikan aku istrimu. Aku takut tidak bisa membahagiakanmu."


Raja Harun langsung tertawa. Pria itu lantas berkata, "Aku akan membuatmu jatuh cinta ke padaku. Tapi tenang saja, kau bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia asal jangan lupa pada nafkah batinku."


Raja Harun melayangkan senyum menyeringai ke arah Risa, "sekarang kau bersiaplah!" Pria itu lalu pergi dari hadapan Risa.


Tentu Risa kaget luar biasa dan harus menerima menikah dengan jin dan tidak pernah terbayang sedikit pun, mendengar pernikahan antara manusia dan jin pun belum pernah. Baru tadi dari cerita Suraya. Mau menolak rasanya tetapi sudah terlanjur masuk ke alam gaib mereka. Mau menyatakan mau juga tidak terbayang bagaimana jadinya nanti pernikahan mereka.


Ana berusaha menenangkan Risa. Kalau boleh menggantikan juga rasanya biar Ana saja yang menikah dengan raja jin. Namun sayangnya, Jaya bersikeras menolak karena Ana sudah menjadi istrinya. Mereka saling berpelukan.


Pikiran Risa masih terus diliputi kebingungan sejak ia bisa berdialog dengan para kaum jin tersebut harusnya Risa sudah terbiasa. Apalagi ada pernikahan aneh lainnya yang diamali Ana dan Jaya.


Jaya dan Suraya saling duduk berdampingan. Sosok pocong itu juga menunjukkan dan memperlihatkan para kaum jin yang baik, jin-jin kafir yang buruk rupa, ataupun jin yang wajahnya semrawut tidak beraturan pada Jaya. Pocong itu sontak saja melonjak ketakutan.

__ADS_1


...*****...


...Bersambung dulu, ya...


__ADS_2