Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 117 - Rencana Jaya


__ADS_3

Bab 117 DPT


Jaya terbangun di gua tempat dia ditinggalkan oleh Mbah Karso dan Panji. Saat menuju ke pintu keluar, ia melihat sosok kuntilanak yang tengah duduk meringkuk sambil menangis.


"Duh, pake ketemu setan segala lagi," keluh Jaya.


Sontak saja Risa mengangkat kepalanya. Ia terbelalak saat melihat Jaya, lalu terbitlah senyum bersinar.


"Jaya!" pekik Risa.


"Kamu siapa?" Jaya mundur beberapa langkah.


"Aku Risa! Masa kamu lupa? Aku udah mati, tapi jadi hantu buat nemenin sampai Ana bahagia. Tapi… aku dikurung di sini sama Mbah Karso," keluh Risa.


"Hmmm, begitu rupanya. Terus Ana mana?"


"Diculik sama mereka. Dan yang aku dengar kalau Ana akan dinikahi sama Panji," aku Risa.


"Apa? Sialan banget itu orang! Ayo, buruan keluar dari sini!" ajak Jaya.


"Caranya gima–"


Risa melihat Jaya memusatkan kekuatan lalu membelah pagar gaib buatan Mbah Karso dengan kekuatan yang Jaya miliki.


"Wah… Jaya makin keren sekarang!"


Risa lantas menyusul Jaya.


Kereta kuda milik Madun untungnya masih berada di sana. Menurut Madun, dia sudah menunggu selama tiga hari dua malam. Risa punya akal. Dia akan meminta bantuan Nenek Darah. Mereka lalu akan pergi ke Istana Kerajaan Garuda sebagai rombongan pesulap. Jaya juga harus menyamar pastinya.


Nenek Darah yang sedang berada di tepi jalan setapak dekat hutan Gunung Sembah, memutuskan untuk ikut serta. Bersama teman lelembut yang lain, mereka mengikuti Risa dan Jaya.


Beruntung sesampainya di Kerajaan Garuda, Ana belum dipersunting karena wanita itu sengaja mengulur waktu dengan alasan menunggu bulan purnama. Padahal, di dalam mimpinya Ana bertemu dengan ibunya Jaya yang memintanya menunggu sampai bulan purnama tiba.


Sesampainya Risa dan Jaya di wilayah Kerajaan Garuda, Panji dan pejabat kerajaan lainnya menyambut kedatangan para pesulap itu. Malam nanti akan diadakan pesta jamuan untuk merayakan pernikahan Ana dan Panji yang akan digelar nanti malam.


"Jangan kecewakan aku, ya! Madun bilang kalian rombongan pesulap yang hebat," ucap Panji.


"Tentu saja, Pangeran Tampan!" Nenek Darah sengaja memuji Panji yang memang langsung membusungkan dadanya dipuji seperti itu.

__ADS_1


"Karena kami lelah setelah menempuh perjalanan jauh, saya minta Anda menyiapkan kamar peristirahatan untuk kami dalam mempesiapkan diri di pesta malam nanti,” ucap Nenek Darah.


“Tentu saja. Silakan ikuti para abdi dalam itu!" Panji menunjuk dua abdi dalam untuk menjamu para pesulap.


Jaya sempat melirik dari balik kacamata hitamnya ke beranda lantai dua, depan kamar ayahnya dulu. Tampak Mbah Karso memperhatikannya dengan saksama. Jaya sebenarnya kesal karena Mbah Karso berlagak seperti ayahnya, raja dari Garuda, tetapi Risa yang bersembunyi di balik jubah Nenek Darah langsung menahan Jaya agar tak terbawa emosi.


Mbah Karso menatap sinis pada rombongan pesulap, "mereka hanya pesulap amatir yang dibantu para lelembut rupanya. Hmmmm, sepertinya pertunjukkan nanti malam akan menarik. Aku ingin tahu bagaimana para setan itu dapat membantu manusia-manusia jelek itu."


Mbah Karso lalu masuk kembali ke kamarnya.


Sementara itu di bagian bawah, Panji terus bertanya pada Nenek Darah tentang sulap yang akan dipertunjukkan nanti malam.


“Mana sang pengantin wanita? Aku membawa susu kambing agar dia bisa bersiap dengan mandi susu. Apa kau tahu kalau wanita yang mandi susu nanti aura kecantikannya makin terpancar,” ucap Nenek Darah.


"Wah, bagus kalau begitu. Nanti biar para abdi dalam ini yang mengantarkan menuju ke calon istriku," kata Panji penuh kebanggaan.


Padahal, kedua tangan Jaya sudah mengepal dan bersiap untuk memukulnya. Panji lantas menahan Nenek Darah kemudian.


"Apa ada susu kambing lagi untuk aku mandi? Siapa tahu tubuhku ini bisa lebih menawan dan kinclong terawat?" tanya Panji.


Risa sudah tak bisa menahan tawanya.


Sementara Nenek Darah berusaha terlihat tenang padahal sedari tadi ia ingin tertawa mendengar si Panji begitu bangga dan bahagia akan menikah serta ingin sekali melakukan merawat diri.


Jelas saja Panji tertawa. Lalu, dia mempersilakan rombongan pesulap itu pergi. Sebuah kamar telah disiapkan untuk istirahat Nenek Darah dan yang lainnya.


"Satu kamar untuk kita semua?" tanya Jaya.


"Daripada tidak sama sekali," sahut Nenek Darah.


Risa dan yang lainnya ikut masuk ke dalam kamar tersebut untuk beristirahat.


“Tolong bawakan kami makanan!” titah Jaya pada salah satu abdi dalam.


“Dengan senang hati, pelayan kami akan membawa makanan ke kamar ini nantinya untuk kalian,” ucap salah satunya lalu berlalu pergi.


Risa mengintip para abdi dalam yang sudah pergi menjauh. Dengan perasaan lega, akhirnya dia bisa keluar juga dari jubah Nenek Darah yang berbau apek.


“Kau dengar itu, si Panji akan mandi susu hihihi. Aku akan pastikan tubuhnya gatal-gatal," ucap Nenek Darah.

__ADS_1


"Hahaha, aku juga tak sabar melihat hal yang sunguh menggelikan itu,” ucap Jaya yang dibalas tawa oleh Risa.


...***...


Setelah makan siang, Nenek Darah bersama rombongan menuju kamarnya Ana. Mendengar ada yang ingin bertandang ke kamarnya, Ana yang tengah menyusui langsung meminta Ratu Melati bersembunyi di ruang rahasia belakang rak buku, seraya membawa putranya.


Nenek Darah lantas membawakan sejumlah makanan dan juga susu kambing yang berkhasiat tanpa efek gatal di kulit, ke ruangan sang ratu muda di Garuda.


"Permisi, saya bawakan Anda susu kambing untuk membuat kulit Anda sehat, berkilau, dan wangi sepanjang hari!" Nenek Darah meletakkan keranjang berisi beberapa botol susu kambing ke atas meja dalam ruangan tersebut. Ana hanya menatap jendela tak mau menoleh. Nenek Darah lantas meminta para abdi dalam menunggu di luar dengan alasan agar dia bisa melulur tubuh Ana juga nantinya.


"Apa kau tak merindukan kami?" Jaya membuka penutup kepalanya.


Suara pria itu sangat Ana hapal. Ana langsung terperanjat kala mengenali suara tersebut. Ia menolehkan wajahnya dan menelisik ke arah rombongan pesulap itu lebih saksama.


"Jaya?" Ana memekik tak percaya.


Namun, Jaya langsung memintanya untuk diam. Mereka saling berpelukan dengan erat. Ana memeluk Risa dan juga Nenek Darah. Kemudian, Ana meminta Ratu Melati untuk keluar bersama putranya dari tempat persembunyiannya.


"Aku merindukan mu Ibu Melati," ucap Jaya.


Ibu Melati langsung menangis kala memeluk putra angkatnya yang tersayang itu.


"Aku tak menyangka kalau kau masih hidup," ucap Ibu Melati seraya terisak.


"Aku juga tak menyangka, Bu. Bahkan aku bertemu ayah. Ia mengajarkan aku untuk mengendalikan kekuatan Rahwana," sahut Jaya.


Ana menyerahkan Anjaya untuk Jaya timang. Suaminya tersebut sampai menangis haru ketika menggendong putranya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ratu Melati.


Jaya tersenyum manis lalu menceritakan rencana untuk menghancurkan pesta pernikahan Panji.


"Kau tau anakku, Raja Jaya, rakyat sangat menderita setelah Karso mengumumkan kematian mu. Si tua bangka itu benar-benar menindas rakyat bersama Panji," ucap Ratu Melati mengadu dengan kesal.


"Aku tahu, mereka pasti akan berbuat seenaknya. Kami akan segera membebaskan kalian dari Panji dan Karso," ucap Jaya.


Akhirnya Ana memilih bergabung dengan rencana Jaya. Demi melindungi putranya, akhirnya Ana meminta Ratu Melati untuk membawa anaknya bersembunyi lagi.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2