
Bab 78 DPT
Ana memekik ketika Jaya dan Bayu sudah berada di selokan kala mengejar pengendara motor yang meledakkan mobil milik Jaya.
Sementara itu, Bayu terlempar sampai masuk ke dalam selokan tak jauh dari tempat mobil meledak tadi. Sementara pocong Jaya tersebut jatuh dengan kepala terlebih dahulu. Wajahnya berlumuran air selokan dan sampah-sampah yang ada di sana.
"Kalian nggak apa-apa, kan?" tanya Ana dengan panik seraya membersihkan kafan Jaya.
Risa buru-buru menarik tangan Bayu. Pria itu terlempar sampai kepalanya membentur tiang listrik.
"Kenapa mobilnya bisa meledak gini, sih?" tanya Ana.
"Ada yang sengaja membakar mobil kita, Na. Terus mesinnya meledak," jawab Jaya.
Pak Roni segera menghubungi pemadam kebakaran. Risa juga menghubungi Juna agar segera memeriksa ke tempat kejadian perkara.
"Kamu lihat orangnya, Bay?" tanya Risa.
"Mereka pakai topeng, aku nggak bisa lihat. Tadi Pang Jay yang nyuruh aku buru-buru lari karena lihat ada yang bakar mobil. Eh, dua orang itu naik satu motor terus ngebut terus duaaarr mobil meledak aku kelempar ke sini sama Pang Jay." Bayu bercerita sambil memperagakan.
Pak Roni dan beberapa warga segera memadamkan kobaran api tersebut dan menjauhkan mobilnya Juna agar tidak ikut meledak juga.
Bayu memandang wajah Jaya lalu berbisik pada Risa.
"Ris, ada pocong item," ucap Bayu seraya menahan tawa bersama Risa.
"Heh, kalian pada ngetawain aku, ya?" tuding Jaya.
"Nggak berani! Nggak berani menghina raja!" sahut Bayu.
"Bantuin aku mau bersih-bersih dulu, Na. Sepertinya aku bau, ya?" tanya Jaya.
Bayu dan Risa langsung menjauh.
"Pantesan aja bau, ya. Tuh, ada pampers bayi terus ada eek nya," ucap Risa seraya menunjuk selokan di samping Jaya.
Ana sempat melihatnya. Ternyata benar kalau ada bekas pampers bayi yang dibuang ke selokan tersebut. Entah secara sengaja atau tidak sengaja.
"Sial, pantes aja bau kafan aku jadi aneh," sungut Jaya.
"Campur bangkai tikus juga tuh baunya," celetuk Bayu.
"Duh, makin cocok deh baunya sama outfitnya si Jaya," cicit Risa seraya terkekeh.
Jaya langsung melotot menatap Risa.
"Hehehe, maafkan saya Paduka Raja," ucap Risa seraya memberi salam hormat dan menunduk.
...***...
Sesampainya di rumah Pak Roni, Risa meminjam betadine dan kapas pada Mia. Ia membersihkan lukanya Bayu. Sementara itu, Ana membantu Jaya membersihkan diri di kamar mandi.
"Kanjeng Ratu sama Pang Jay pada ke mana?" tanya Bayu seraya meringis sakit karena Risa menekan lebih kuat.
__ADS_1
"Lah, Jaya kan mandi gara-gara badannya tadi bau," sahut Risa.
"Dih, ada gitu pocong mandi. Hahaha, baru tau aku," kata Bayu seraya tertawa.
Hening seketika saat Risa mengobati luka di tangan Bayu juga setelah melilitkan perban di dahu Bayu. Risa juga memberi obat merah tersebut pada bagian lutut Bayu. Entah kenapa, Bayu malah mengamati wajah cantik nan manis wanita di hadapannya dengan saksama. Ada debaran yang terasa di hati Bayu.
"Bay, kamu kenapa bengong kayak gitu?" tanya Risa menyentak Bayu.
"Habisnya kamu sih bikin aku—"
"Bikin kamu kenapa?" tanya Risa seraya melirik tajam.
"Nggak, Ris. Aku cuma anu … ummmm ya anu … eh tau lah!" Bayu malah salah tingkah.
Risa malah menggoda Bayu sampai menekan luka di lutut pria itu dengan lebih kencang.
"Awww! Sakit tau, Mbak Risa!" Bayu berteriak kesakitan.
Risa tertawa karenanya.
"Ana sama Jaya kok lama, ya?" Risa menoleh ke arah belakang.
"Kan, katanya Pang Jay mau mandi. Jangan-jangan malah mandi bersama lagi sama Mbak Ana," gumam Bayu seraya tertawa kecil.
"Dasar mesum!" Risa menjitak Bayu.
Risa akhirnya selesai mengobati Bayu dengan cekatan.
Juna lantas mendekati Bayu setelah Bu Susi mempersilakannya masuk.
"Mas Bayu, apa benar tadi ada yang sengaja membakar mobil kamu?" tanya Juna.
"Iya, Pak. Tapi saya nggak bisa lihat mukanya tau tau pas saya mau kejar sama Pang Jay, mak duaaaaar! Meledak!" ucap Bayu.
"Hmmmm, ini aneh ya. Apa kalian memang sedang diincar. Tapi, apa mungkin juga ini suruhan Tuan Kartanegara, ya?" Juna mengetuk pulpen miliknya ke dagu.
"Kalau ini suruhan dia, justru yang diincar itu keluarganya korban Lela. Masa yang diincar rombongan Bayu," sahut Moko.
"Jadi, ini memang sengaja mengincar Ana dan yang lainnya, ya. Sebenarnya apa sih yang sedang kalian tuju?" tanya Juna mencoba mencari petunjuk.
"Ummm, kalau soal itu sebaiknya Ana saja yang cerita. Soalnya ini ranah kerajaan si Jaya," sahut Risa.
"Kerajaan? Maksudnya?" tanya Juna tak mengerti karena Ana memang tidak memberitahukan mengenai identitas aslinya yang seorang ratu di Kerajaan Garuda.
"Biar Ana saja yang cerita," tukas Risa.
"Lalu, Ana nya mana?" tanya Juna lagi.
Risa dan Bayu hanya saling bertatapan dan melayangkan senyum.
***
Di kamar mandi.
__ADS_1
"Haduh, kalau aja kamu udah balik ke tubuh kamu, aku serang nih!" ucap Ana yang mencoba menahan diri ketika membersihkan tubuh Jaya.
"Aku juga maunya gitu," sahut Jaya.
"Lagian aneh, ya, masa udah dalam bentuk pocong gini masih bisa kotor. Bisa mandi bersih bersih lagi," kata Ana lalu tertawa geli sendiri.
Ana yang sudah membersihkan kafannya Jaya, lalu membuka pintu kamar mandi tersebut. Mendadak kemudian, Ana tersentak kala di depan jendela dapur belakang ada sosok yang sama dengan Jaya. Dia sedang berdiri dengan mata merah menatapnya tajam. Pocong itu berwajah hitam dan hanya berdiri diam saja di depan jendela dapur belakang itu.
"Pocong yang mana itu?" bisik Ana.
"Jangan-jangan ini pocong hitam yang ngejar Risa lagi," gumam Ana.
Mia yang tengah ke dapur untuk mengambil susu cair dari dalam kulkas lantas berteriak tetapi tak mengeluarkan suara. Mulutnya hanya terbuka lebar dengan tatapan ketakutan. Gelas di tangannya jatuh ke lantai.
Mia melihat sosok pocong wajah hitam di depan kaca jendela itu. Pocong itu perlahan masuk dan mendekat sampai wajahnya sudah berhadapan dengan Mia.
Mia benar-benar ingin berteriak karena sangat ketakutan. Wajah hitam pocong itu sangat menyeramkan. Ana datang dan memukul wajah pocong tersebut dengan wajan.
"Wah, berhasil juga nyentuh dia," ucap Ana kegirangan sementara pocong tadi kesakitan.
"Tante Ana!" Mia akhirnya bisa terlepas dari rasa kaku tadi.
Mia menangis di pelukan Ana.
"Udah cup cup cup. Jangan takut, ya. Ada Mbak Ana di sini," ucap Ana.
Risa dan Bu Sri yang mendengar kegaduhan dari dapur langsung berlari menuju dapur. Juna dan Bayu menyusul. Mereka sangat terkejut dan langsung menghentikan langkahnya ketika Mia memeluk Ana.
Apalagi Risa dan Bayu yang langsung terperanjat melihat sosok pocong yang tengah tersungkur akibat dipukul Ana.
"Bay, itu pocong yang ada di rawa tadi," bisik Risa.
"Iya itu, itu pocongnya."
Bayu mencoba bersembunyi di belakang Risa. Wanita itu malah nekat mendekat dan menghantam bagian kepala pocong tersebut lalu kegirangan karena berhasil memukul hantu tersebut.
"Risa, ngapain sih kamu?" tanya Ana.
"Seru, Na. Hehehe, kapan lagi bisa mukul pocong," sahut Risa.
"Ayo kita ke depan! Ada yang mau saya bahas perihal kecurigaan saya. Dan yang saya takut kan kalau ini bisa membahayakan nyawa kalian," ucap Juna.
Ana mengangguk. Dia menyusul Juna bersama Jaya. Sementara pocong tadi akhirnya pergi setelah gagal menakuti Mia dan juga Risa.
"Saya boleh tanya apa tujuan kamu ke Bukit Emas? Tolong ceritakan secara detail karena saya curiga kalau mereka orang bayaran yang diminta mencelakai kamu agar tak bisa sampai ke tujuan," ucap Juna.
Ana dan Jaya saling menatap satu sama lain. Keduanya lantas sepakat dengan pemikiran Juna tersebut. Mungkin saja memang ada yang ingin menghentikan dia agar tak bertemu dengan Eyang Setyo.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1