Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 67 - Pengalaman Bayu di Hotel Mawar Merah


__ADS_3

Bab 67 DPT


Bayu ditinggalkan tertidur sendirian di kamar hotel. Sebenarnya hotel tersebut bekas pabrik yang ditinggalkan investor. Namun pada proses pembangunan pabrik tersebut, ternyata banyak memakan korban jiwa, dan banyak terjadi kecelakaan di sekitar wilayah itu sehingga menjadikan kawasan tersebut angker.


Karena pabrik tersebut mengalami kebangkrutan, pabrik itu pun dijadikan hotel oleh pemilik hotel bernama Kartanegara. Dimana kondisi hotel tersebut dikelilingi oleh ilalang dan bangunan-bangunan besar yang dijadikan gudang sebelumnya.


Tiba-tiba saja sosok hitam bertubuh besar, berambut keriting, dan berpakaian hitam dengan wajah merah seperti genderuwo muncul tepat di samping Bayu. Ia mengusap pipi Bayu dengan lembut. Bayu terkesiap dan dia pun kaget, namun sosok itu tiba-tiba menghilang.


"Apa aku mimpi, ya? Kayaknya tadi ada yang usap-usap muka aku," gumam Bayu.


Pria itu lalu terjaga dan melihat sekitarnya tak ada Jaya. Ia juga bangkit dan memeriksa ke kamar Ana dan Risa. Tak ada siapa pun di kamar itu.


"Apa aku ditinggalkan, ya?" gumam Bayu.


Pria itu duduk di kursi samping meja seraya meneguk air mineral dalam kemasan botol.


"Nggak mungkin aku ditinggalin. Kan, aku yang nyupir," gumam Bayu.


Bayu lantas merasakan perutnya berbunyi karena lapar. Ia beranjak mau mengambil susu kotak yang sempat dibeli oleh Risa dan diletakkan di lemari es kecil di kamar tersebut.


Namun, ketika Bayu mau mengambil susu di kamar Risa, ia melihat sosok besar yang disebut genderuwo. Sosok itu menoleh pada Bayu seraya tersenyum. Bayu yang ketakutan langsung lari terbirit-birit menuju kamar sebelumnya.


Ada keramaian yang terdengar di lantai bawah dekat kolam. Bayu mengintip ke jendela. Rupanya kini ia sadar kalau Ana dan Risa sedang berada di sana. Bayu segera saja ingin menyusul.


Tak lama dari situ tiba-tiba saja pintu kamar hotel ada yang mengetuk, namun ketika dilihat dari lubang pintu tidak ada satu orang pun yang mengetuk pintu tersebut.


"Wah, serem nih. Kayaknya aku mulai digangguin," gumam Bayu.


Suasana pun semakin mencekam ketika suara ketukan pintu terulang kembali.


"Siapa ya? Tolong jangan ganggu saya!" ucap Bayu.


Seketika itu juga suasana hening dan mencekam. Bayu ingin membuka pintu dan segera berlari keluar kamar menyusul Ana dan Risa. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan lagi.


Akan tetapi, kali ini ketukan tersebut tidak berasal dari pintu kamarnya melainkan dari dinding sebelah, di mana kamar sebelah itu adalah kamar tempat Risa dan Ana. Kamar tempat tadi dia hendak mengambil susu kotak.


"Duh, tolong jangan ganggu saya!" lirih Bayu seraya memejamkan mata dan berdoa.


Ketukan kedua terdengar jelas bahwa ketukan itu berasal dari kamar sebelah.

__ADS_1


Saat Bayu hendak memastikan suara ketukan tersebut ia pun menempelkan telinga ke dinding, tiba-tiba saja telinga Bayu merasa ada yang memukul.


"Halo, Mas!" sapa genderuwo tadi.


"Huaaaaaaaaaa!" Bayu akhirnya lari terbirit-birit dan berhasil membuka pintu kamar.


Bayu segera saja menuju ke dalam lift. Ia menekan tombol untuk membuka pintu berkali-kali. Setelah masuk ke dalam, ia menekan lantai satu. Lift tetap diam tidak bergerak. Bayu semakin panik dan berpikir kalau lift tersebut bisa saja mendadak macet. Ia mencoba sampai tiga kali namun lift tetap diam tidak bergerak.


Bayu keluar dari lift dan penasaran untuk mencoba pada lift di sebelahnya. Hasilnya tetap saja lift tidak mau bergerak. Bayu yang takut untuk kembali ke kamar hotel, lantas nekat menggunakan tangga darurat.


Saat saya sendirian menuju ke pintu tangga darurat, samar-samar terdengar suara orang dari lorong lain.


"Mas, mau ke mana? Sini kenalan dulu!" ucapnya.


Bayu yakin suara itu berasal dari sosok menyeramkan tadi. Saat membuka pintu tangga darurat, Bayu mendengar ada suara lagi. Suaranya agak-agak mirip suara burung hantu. Bayu yang ketakutan melangkah pelan-pelan untuk menjauhi arah suara tersebut. Namun, semakin jauh dia melangkah, suara itu semakin terdengar dengan keras.


"Mas, mau ke mana? Jangan tinggalkan aku, sini kita main dulu!" Suara perempuan itu terdengar jelas kali ini memanggil Bayu.


Bayu terus melangkah dan mencari sumber suara tersebut. Akhirnya ketemu asal suara tersebut dibelakang sebuah pintu, tetapi bukan pintu kamar melainkan pintu tangga darurat lantai tiga. Bayu mendadak ingin membuka pintu tersebut. Ia pelan-pelan membuka pintu tersebut yang gagang pintunya panjang melintang.


Tidak ada siapa pun di balik pintu itu. Bayu kini berada di dalam ruangan kecil ada pintu yang sama. Bayu masuk dan mendorong pintu kedua. Lagi-lagi, tak ada siapa pun di sana. Bayu memutuskan untuk kembali menuju depan lift saja di lantai tiga tadi.


"Sialan!" maki Bayu.


Ia lalu naik ke tangga menuju lantai satu lagi tepat di depan pintu darurat lantai tiga. Bayu berusaha menghubungi Ana atau Risa. Dia ingin memberitahu kalau dia terjebak di tangga darurat hotel yang pintunya satu arah.


Risa berhasil mengangkat sambungan ponselnya dari Bayu. Risa lantas bergegas mencari Bayu. Akan tetapi, gadis itu malah tidak bisa menemukan Bayu. Pria itu tak mau pasrah dan coba mengetuk-ngetuk pintu agar siapa pun di luar sana bisa mendengar suara ketukan pintu darinya. Ternyata, secara tak terduga ada suara ketukan lain dari balik pintu tersebut.


Bayu makin ketakutan karena sendirian tengah malam terjebak di tangga darurat hotel. Bayu memberanikan diri untuk bergegas turun ke lantai satu dengan harapan pintu darurat di lantai satu bisa dibuka.


Akan tetapi, saat Bayu mendorong pintu tersebut yang juga satu arah, ada suara ketukan lain di balik pintu tersebut. Bayu merasakan bulir-bulir sebesar biji jagung karena keringat dingin mulai bercucuran di pelipis, leher, dan seluruh tubuhnya. Lalu, secara mengejutkan ada yang menepuk bahu Bayu dari belakang.


"Kyaaaaaaaaa!"


Tak ada seorang pun yang Bayu lihat saat dia menoleh. Bayu kembali naik ke lantai dua. Namun, hal yang sama terjadi lagi. Malah kali ini semakin parah. Saat Bayu mencoba mendorong pintu lantai dua, ia merasa ada angin berembus di daun telinganya. Seperti ada yang sedang meniupnya.


"To-tolong, tolong jangan ganggu saya," lirih Bayu sampai aliran air hangat itu mengalir dari selangkangannya.


Brak!

__ADS_1


Suara benda jatuh terdengar mengejutkan Bayu. Secara reflek dia sampai melompat sendiri. Bayu mencoba memberanikan diri untuk melihat ke atas maupun ke bawah. Namun, tetap dia tak menemukan apa pun di sana.


Lalu tiba-tiba sesuatu mengejutkannya. Rupanya ada sosok hantu yang berdiri di samping Bayu kala itu.


"Po-po-pocooooooong!"


Perasaan Bayu berkecamuk tak karuan. Ia ingin berlari sangat kencang tetapi sepasang kaki kekar miliknya malah terasa kaku. Dia tak bisa bergerak. Untuk beberapa saat tubuhnya terpaku. Bayu hanya bisa memejamkan kedua matanya karena takut.


"Bay, ini aku!" ucap Jaya.


Bayu perlahan membuka kelopak mata miliknya dan memberanikan diri menatap sosok pocong di hadapannya.


"Paduka Raja! Huaaaaaaaaa!" Bayu lantas memeluk Jaya.


"Kamu kenapa ada di sini? Aku disuruh Ana nyari kamu ke kamar malah nggak ada. Terus kata si Ibu Genderuwo kamu lari ketakutan liat dia," ucap Jaya.


"Ya siapa juga yang nggak takut kalau dicolek-colek sama genderuwo, mana aku digodain sama dia!" seru Bayu dengan kesalnya.


"Hahaha, dia baik tau ternyata. Sama baiknya sama Tantri," ucap Jaya.


Lalu bergegas mengajak Bayu menuruni anak tangga hingga ke lantai satu. Saat membuka pintu lantai satu, Bayu sangat merasa lega. Ia sampai di depan lobby hotel. Di sana ada dua penjaga hotel alias satpam yang melihat Bayu dan terheran-heran.


"Mas, kok bisa keluar dari situ?" tanya salah satunya yang berkumis.


"Tadi lift mati, Pak. Terus saya lewat tangga darurat. Taunya pintunya satu arah," ucap Bayu.


"Iya memang, tapi siapa yang bukain pintunya buat Mas?" tanya satpam itu lagi.


Jaya hanya bisa meringis membiarkan Bayu kebingungan menjawab pertanyaan para satpam. Kedua penjaga tersebut lantas melihat ke arah celana Bayu yang basah. Keduanya mundur seraya menutup hidung.


"Bau pesing ya, Pak? Maaf tadi saya kebelet sampe nggak tahan!" sahut Bayu dengan ketus lalu segera berlari menemui Ana dan Risa.


Sontak saja Jaya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bayu yang tengah lari terbirit-birit karena malu.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2