
Bab 111 DPT
Seminggu kemudian.
Setelah menitipkan Ratu Melati dan juga bayi Anjaya di sebuah panti asuhan yang Ana kenal di pinggiran kota, Ana berniat untuk pergi mencari Jaya di Gunung Sembah.
"Apa kau yakin, Na?" Ibu Melati mencoba menahan kepergian Ana.
"Bu, aku harus menyelamatkan suamiku. Aku yakin Ibu bisa menjaga Anjaya dengan baik. Aku akan selalu mengabari Ibu dengan hape ini." Ana menyerahkan ponsel Risa pada Ratu Melati.
Ratu Melati membuka layar ponsel Risa dan langsung menangis. Ia sangat sedih ketika melihat foto wanita cantik itu.
"Risa anak yang baik. Dia bahkan mengorbankan nyawa buat keluargamu, Na. Kenapa kamu pergi secepat ini, Sa?" Ratu Melati terisak.
Padahal Risa ada di sampingnya melambaikan tangan dan menunjuk dirinya sambil melompat-lompat, "aku di sini, Ibu Ratu."
"Risa ada bersamaku, Bu. Dia jadi kuntilanak soalnya meninggal pas lagi hamil kemarin," bisik Ana melirik Risa.
"Hah? Jadi kuntilanak? Hamil pula? Hamil anak Bayu?" Ratu Melati terbelalak tak percaya.
"Hamil anak jin lagi, Bu," lirih Ana menahan tawanya.
"ANA!!!"
Risa mulai terlihat murka dengan melayangkan wajah cemberut.
"Serius, Na?" Ratu Melati masih menatap tak percaya.
Ana mengangguk, "nanti kapan-kapan aku ceritakan ya. Sekarang aku pergi dulu sama Risa."
"Iya sudah kalau begitu. Kamu pokoknya hati-hati. Biar gimanapun orang awam seperti ibu yang tak bisa melihat Risa, pasti tetap mengira kamu pergi sendirian." Ratu Melati memeluk Ana dengan erat.
Ana mendekat pada bayi Anjaya yang tengah terlelap di stroler.
"Ibu janji akan bawa ayah kamu pulang. Maaf ya, Anjaya jadi nggak full ASI dari Ibu." Ana mengecup pipi bayinya dengan lembut.
__ADS_1
Ana menoleh pada Risa yang masih merunduk di depan cermin.
"Masih marah ya aku bercandain?" tanya Ana.
"Bukan gitu! Aku sedih karena nggak bisa ngaca! Kenapa nggak ada bayangan aku di cermin? Aku takut mata aku menghitam kayak panda. Mana rambut aku udah awut-awutan. Masa iya tampang aku kayak kuntilanak pohon mangga di kebun belakang," keluh Risa.
Padahal Ana juga sedang berusaha menahan tawa. Pasalnya semua yang dibicarakan Risa benar adanya dan Risa memang terlihat seperti kuntilanak pada umumnya.
"Kamu tetep cantik, kok. Ayo berangkat!" ajak Ana.
Risa kemudian bangkit dan menemani sahabatnya ke Gunung Sembah.
...***...
Matahari hangat menyinari lembah bawah dari pepohonan yang gundul. Kabut membubung dari tanah bagaikan hantu, membawa bisikan asap musim panas yang terpendam di balik tanah kering itu. Saat mengintip dari balik pepohonan, Ana bisa lihat jalur berkelok dari desa menuju hutan di selatan.
Sebuah gerobak berkuda terlihat melintas menyusuri jalan tersebut. Akhirnya, Ana dan Risa memilih untuk menumpang. Sang kusir sempat terkejut ketika saat Ana naik malah terasa berat seolah tubuh Ana gemuk. Padahal Risa ikut serta dengan duduk di samping Ana.
Kereta angkut yang biasa mengangkut ikan tersebut memiliki roda belakang rusak dan tidak sedang memuat ikan. Yang duduk di bangkunya adalah dua Ana, dan Risa. Si kusir bernama Madun malah seolah berkendara menyongsong maut dengan kudanya. Padahal kondisi Ana belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan.
Makin menghentikan kereta kudanya saat bertanya lebih lanjut tentang Gunung Sembah. Seorang pria paruh baya yang memikul dua ikat kayu bakar itu menatap Ana dari ujung kaki sampai ujung rambut sebagaimana kadang dilakukan orang sebelumnya.
"Apa kalian mau bunuh diri dengan masuk ke sana? Tak ada yang pernah kembali dari sana dalam keadaan hidup. Sama saja kalian memasuki kerajaan lelembut," ujarnya.
"Tapi, suamiku di bawa ke sana. Mereka menuju gua di kaki Gunung Sembah, " ucap Ana dengan nada paling santun, "kami perlu ke sana. Suamiku mungkin saja sudah menunggu kami minggu lalu."
"Kalau begitu suamimu mungkin saja menunggu lebih lama lagi." Lelaki tadi mendahak lalu meludahkannya ke tanah.
Dia lalu menatap Ana, "Saranku, kembalilah ke tempat manapun asalmu. Hutan angker itu tidak cocok untuk siapa pun." Kakek tua itu bergegas ke jalan dan melewati pepohonan, serombongan kambing juga tampak yang mengembik mengikutinya.
Ana menghela napas lalu menoleh pada Madun. Pria berusia tiga puluh tahun itu menderita down sindrom sejak lahir. Namun, dia sangat baik. Madun merupakan tetangga Bayu sejak kecil.
"Menurut Madun, apa kamu takut masuk hutan sana?" tanya Ana ketika kawanan tadi lewat lalu ingin mereka melanjutkan perjalanan.
"Saya akan antar Mbak Ana ke tujuan," sahutnya.
__ADS_1
Risa juga mengangguk setuju. Ana lantas naik kembali. Dia menunjukkan ketenangan saat di perjalanan. Padahal ia memang khawatir. Ana berkereta hampir tanpa henti selama seharian dalam cuaca yang kadang hujan dan dingin, dipandu kuda yang tak mengacuhkan mereka sebagian.
"Kenapa tidak naik motor aja, ya?" gumam Risa.
"Menurutmu, memang ada tukang ojek mau boncengin kunti, hah?" Ana terkekeh.
"Sial!" Risa nengerucutkan bibirnya.
Kenapa Ana memilih mengajak Madun naik kereta kuda, karena ia pasti yakin kalau jalan ini bahkan lebih parah daripada di tempat tinggal saat bersama di desa Risa dulu. Lumpurnya hitam dan kuat, melekat pada apa pun yang me- nyentuhnya termasuk roda belakang kereta mereka.
Sedikit bekal makanan di bagian belakang juga sudah lama habis, tinggal bau amis dan anyir saja dari bekas ikan yang biasa Madun dagangkan.
"Dingin ya, Na?" tanya Risa, melihat Ana menggigil di balik mantel.
"Berhenti sebentar aja Na, buat istirahat," ujar Risa.
"Nanti saja," bisik Ana.
Mereka terus melaju, semakin tersasar, sampai menjelang sore ketika berpapasan dengan seseorang yang tak terduga. Mereka mendengar alunan lalu dengan suara merdu yang menyelinap di sekitar tikungan, pelan dan menawan.
Musik ukulele itu dipetiknya semakin keras ketika Ana mendekat. Rupanya ada seseorang perempuan paruh baya tengah menyanyi. Seorang wanita tua yang pendek, hanya setinggi 130 cm. Wanita itu sedang duduk di tengah persimpangan, menyanyi sendirian.
"Ngapain ada pengamen sekitar sini?" gumam Risa.
"Jangan-jangan hantu," bisik Madun seraya tertawa sendiri. Padahal tak ada yang lucu.
"Wanita itu pasti semacam pengembara. Tuh, lihat aja dia bawa buntelan besar di sampingnya, " ucap Ana.
"Kamu yakin, Na? Kalau dia nenek sihir gimana? Terus buntelan itu isinya yang serem-serem, gimana?" Risa malah bersembunyi di belakang Ana.
'Dih, mau bilang si Risa lebih serem jadi nggak enak. Dia lupa kali ya kalau dia setan,' batin Ana.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1