
Bab 103 DPT
"Aku takut Ayah Jaya sama Mama Ana akan melupakan aku. Nanti aku enggak punya orang tua lagi," jawabnya seraya terisak.
Jaya lantas memeluk Rama, "Rama sudah kita anggap sebagai anak sendiri. Masa mau dilupakan? Ayah sama Mama tetap anggap Rama kakak bagi Anjaya. Jadi, Rama harus menjaga adik dengan baik, ya?"
"Serius, aku nggak akan dilupakan?" tanya Rama lagi meyakinkan.
"Tentu saja, Nak. Kasih sayang Ayah Jaya sama Mama Ana tentu akan selalu masih sama seperti dulu, sama seperti kasih sayang kami sama adek Anjaya." Jaya mengusap kepala Rama.
Anak lelaki tampan itu tentu saja menjadi senang. Dia mengusap air matanya. Lalu, keduanya kembali ke rumah Bu Yayah lagi. Rama bergegas tidur beralaskan tikar di kamar Ana. Ia berbaring di samping Risa dan Ratu Melati.
Sementara itu, para pria berkumpul di ruang tamu. Bu Yayah meminta para pria untuk berjaga. Dia takut jika ada makhluk lain yang mengincar darah bayi yang baru dilahirkan Ana saat berada di rumah Bu Yayah.
Pukul tiga dini hari, saat sedang menyeruput kopi. Agus menceritakan tentang santet yang diterima Karina. Kehamilan istrinya sudah dia tunggu dari sepuluh tahun yang lalu. Namun, ketika Karina hamil, malah sesuatu yang di luar nalar terjadi.
Waktu itu, enam bulan yang lalu saat Karina menghadiri pernikahan adiknya, ada sesuatu hal yang menimpa keluarga istrinya. Di malam pengantin tersebut, terdengar teriakan dari arah kamar Intan, adiknya Karina. Teriakan ang membuat orang-orang bangun, begitu pula dengan Agus yang sedang berada di luar bersama sanak saudara yang lain. Mereka segera masuk karena ingin segera tahu apa yang terjadi.
"Intan hilang, dia tidak berada di kamarnya, Mas!" pekik Karina.
Sontak saja orang-orang akhirnya sibuk mencari Intan ke sana-sini. Menyisir semak-semak sekitar rumah. Nihil, karena malam yang masih gelap.
"Lekas, bawa obor ke sini!" teriak Pak RT yang memimpin rombongan ketika ia melihat sesuatu di kejauhan.
__ADS_1
Terlihat samar-samar ada sosok putih di kejauhan, semua warga menuju ke sana. Dengan penuh kewaspadaan mereka mendekati sosok tersebut.
"Ya Allah….itu Intan!" seru Pak RT.
Ibunya Intan yang ikut mencari, langsungbberteriak. Ternyata sosok putih itu itu adalah anak bungsunya yang duduk dengan baju acak-acakan dan keadaan jiwa yang memilukan.
Gadis itu memandang kosong ke depan entah sedang melihat ke arah apa. wajahnya tanpa ekspresi, seperti orang yang shock berat. Bagaikan baru melihat makhluk mengerikan. Keadaan Intan malam itu sangatlah kacau.
Intan ditemukan memakai baju yang berantakan. Tiba-tiba, saat pencarian tengah berlangsung tadi, terdengar bunyi daun kering yang terinjak sesuatu. Cepat-cepat salah satu penduduk mengarahkan obor, ternyata seekor babi hutan yang merasa terganggu, melarikan diri karena merasa terancam.
"Ahh... hanya babi hutan rupanya. Sudah, biarkan ia pergi, kita harus secepatnya membawa Intan ke rumahnya," ujar Pak RT.
"Nanti saya minta Pak Ustad supaya kasih air untuk menenangkan. Kelihatannya dia shock," ucap Agus.
Para penduduk setempat memang sudah biasa minta air kepada ustadz atau Kyai kalau ada yang sakit atau kemasukan roh jahat. Mereka percaya doa mereka masih manjur mengobati penyakit.
Meminta air doa kepada orang yang shaleh, ulama, atau seorang ustadz, hukumnya adalah boleh. Dalam Islam, kita dibolehkan untuk minta bantuan doa kepada orang lain, termasuk dalam bentuk media air.
Banyak di antara para ulama salaf yang minum air doa dari orang lain. Di antaranya adalah Shaleh, putra Imam Ahmad. Ia minum air yang telah didoakan oleh ayahnya, Imam Ahmad. Bahkan disebutkan bahwa air tersebut bukan hanya diminum, tetapi juga disiram pada wajah dan kedua tangannya.
Wanita itu dibawa pulang ke rumahnya. Beberapa wanita yang bertugas menyiapkan makanan malah berbisik-bisik. Apalagi setelah melihat bercak darah di kain yang seharusnya dipakai Intan esok hari untuk prosesi akad nikah.
Para wanita itu menduga-duga kalau Intan ada yang memperkosanya. Tapi siapa? Seumur-umur hidup di desa yang tentram ini, tidak pernah ada kejahatan apa pun, apalagi sekelas perkosaan seperti ini. Tak mungkin juga calon suami Intan yang melakukannya karena rumahnya berada di desa seberang.
__ADS_1
Sayangnya, Intan tidak bisa ditanyai dan memberikan keterangan apa pun. Wanita itu hanya membisu dan dengan tatapan memandang kosong. Intan terlihat seperti berada di alam lainnya. Namun, setelah dikasih air doa dari Pak Ustad, Intan seperti kehilangan jiwanya.
Sementara itu, di rumah calon mempelai pria yang bernama Hamdani, mendadak gempar. Keramaian semula yang akan dibuat karena akan diadakan hajat pernikahan, sekarang berubah menjadi keramaian karena kematian. Orang tua sang mempelai pria yang bernama Hamdani itu menangis pilu, apalagi ibunya sering mengalami tak sadarkan diri. Saat pemakaman ibunya Hamdani juga menjerit histeris lalu pingsan.
Mayat Hamdani rupanya ditemukan tengah tak berbusana. Sehingga, memunculkan spekulasi tersendiri di antara penduduk, apalagi di kalangan para bujangan teman pria itu. Desas desus berjalan cepat. Suara para warga berbisik hampir tak terdengar. Bahkan sampai ke telinga Agus.
"Sstttt… diamlah!" titah sang kepala desa sembari meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Itu berarti sebelum kematiannya, dia berhubungan badan dengan mahluk lain, ya? Ih ngeri tau!" Salah satu warga masih menimpali kala melihat jasad calon suaminya, Hamdani.
"Sungguh tak etis membicarakan keburukan almarhum saat liang lahatnya tengah digali," ucap Pak RT.
Mereka bergunjing pasti ada sebabnya. Memang banyak kejanggalan atas kematian Hamdani. Namun, demi untuk tidak menyakiti perasaan keluarga yang ditinggalkannya, Pak RT lantas meminta warga lebih baik jangan bertanya apa pun di sini, dan membicarakan yang berhubungan dengan gaib tentang Karina.
Beberapa warga menganggukkan kepalanya, walau rasa penasaran masih menggelayuti hati mereka. Apalagi ada gosip tentang jasad Hamdani ditemukan tanpa busana dan seolah habis berhubungan badan dengan pembunuh sadis itu sebelum meninggal.
Pertanyaan-pertanyaan yang sama sebenarnya juga memenuhi benak masyarakat. Tapi demi menghormati keluarga mereka diam dan membantu persiapan penguburan. Sore hari itu, Agus mendekati Karina tang langsung menangis tersedu-sedu. Dia berusaha menenangkan istrinya.
Tak lama kemudian, ayahnya yang mengendari sepeda ontel mengalami kecelakaan. Tak lama kemudian ibunya si pengantin terkena serangan jantung mendadak.
Mitos di desa tersebut padahal sangat benar. Setiap ada pengantin yang mau menikah di desa ini, malam sebelumnya pasti mati setelah dinodai.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapterA...